Kepala Perpusnas: Literasi Harus Berdampak pada Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat

Gallery image

Kepala Perpusnas: Literasi Harus Berdampak pada Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat

Bandung, Humas Perpusnas — Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) E. Aminudin Aziz menegaskan, hakikat literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. “Literasi termasuk bagaimana mendapatkan informasi, lalu informasi itu kita gunakan untuk meningkatkan kualitas hidup kita,” tuturnya saat membuka Festival Literasi Kota Bandung 2026, Rabu (29/7/2026).

Festival yang digelar Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung tersebut mengusung tema "Membaca Bandung, Menulis Masa Depan". Festival yang berlangsung hingga 31 Juli 2026 itu menjadi ruang kolaborasi pemerintah, komunitas, akademisi, pelaku industri kreatif, serta masyarakat dalam memperkuat budaya literasi.

Aminudin membantah anggapan yang menyebut masyarakat Indonesia memiliki minat baca rendah. "Saya menolak anggapan yang menyatakan bahwa orang Indonesia malas membaca. Sesungguhnya minat baca orang Indonesia sangat tinggi, asalkan bahan yang dibacanya sesuai dengan minatnya, pasti akan dicari," tegasnya. 

Menurutnya, kehadiran berbagai platform perpustakaan digital menjadi salah satu upaya pemerintah memperluas akses masyarakat terhadap sumber informasi yang relevan.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Perpusnas juga menyoroti Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kota Bandung yang masih berada pada angka 15 dari skala 100. Baginya, capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi literasi yang sebenarnya. "Persoalannya bukan karena tidak ada kegiatan, tetapi banyak kegiatan yang tidak pernah dilaporkan sehingga tidak menjadi dasar bagi kita untuk menunjukkan capaian literasi masyarakat. Padahal, sekarang pengambilan kebijakan harus berbasis data," terangnya.

Perpusnas, lanjutnya, akan terus memberikan pendampingan kepada pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan dalam meningkatkan kualitas data literasi sebagai dasar penyusunan kebijakan.

Selain itu, Aminudin memastikan Perpusnas tetap mendukung penguatan ekosistem literasi daerah melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik. Pada 2026, Kota Bandung menerima alokasi sebesar Rp350 juta, sedangkan untuk 2027 telah disiapkan sebesar Rp310 juta. "Yang kita punya akan kita berikan. Jangan sampai gerakan literasi mati suri," harapnya.

Meski demikian, ia menekankan bahwa festival bukanlah tujuan akhir dari gerakan literasi. "Jangan jadikan festival ini sebagai tujuan, tetapi kawal proses yang jauh lebih fundamental, yaitu bagaimana masyarakat dapat mengakses dan memanfaatkan setiap informasi di sekitar kita untuk meningkatkan kualitas hidup," lugasnya. 

Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui tantangan literasi saat ini bukan lagi mendorong masyarakat membaca sebanyak-banyaknya, melainkan membangun rasa ingin tahu agar masyarakat terdorong mencari informasi dari berbagai sumber. "Literasi bukanlah harus membaca buku tebal. Literasi adalah tentang rasa ingin tahu yang kemudian dieksplorasi melalui berbagai media yang ada," ucapnya. 

Menurut Farhan, upaya tersebut diperkuat melalui peluncuran MACA dalam festival ini, platform perpustakaan digital yang memudahkan masyarakat mengakses referensi buku melalui pemindaian kode QR. Ia menilai penguatan budaya literasi juga sejalan dengan semangat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung Dewi Kaniasari mengungkapkan bahwa MACA merupakan hasil kolaborasi Disarpus Kota Bandung bersama PT Aksaramaya dan Libere ITB. MACA menyediakan sekitar 350 judul atau 1.800 eksemplar buku digital dan ditargetkan dapat diakses melalui 1.000 titik kode QR di ruang publik dalam ruangan. 

Mendukung pernyataan Kepala Perpusnas, Dewi menambahkan, festival literasi tahun ini terselenggara berkat dukungan DAK Nonfisik Perpusnas Tahun 2026. Kegiatan ini juga menjadi ajang pemberian penghargaan kepada perpustakaan kelurahan terbaik tingkat Kota Bandung yang telah melalui proses penilaian pada Mei 2026.

Turut mendukung penguatan ekosistem literasi, Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung Muhammad Syahlevi Erwin Apandi menegaskan bahwa literasi merupakan fondasi lahirnya kreativitas masyarakat. "Literasi bukan sekadar program dinas. Literasi adalah investasi jangka panjang untuk kualitas SDM Kota Bandung," sebutnya. 

Syahlevi menyatakan, DPRD berkomitmen mendukung penguatan ekosistem literasi melalui penambahan koleksi perpustakaan, layanan perpustakaan keliling, peningkatan akses bagi penyandang disabilitas dan lansia, serta pelestarian koleksi berbahasa Sunda. 

Berlangsung tiga hari, festival ini mengangkat konsep literasi yang lebih luas dengan mempertemukan buku, arsip, pengetahuan, teknologi, ekonomi kreatif, dan partisipasi masyarakat. Selama tiga hari pelaksanaan, pengunjung dapat mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari diskusi literasi, edukasi keamanan digital, literasi keuangan, pameran inovasi, bazar buku dan arsip, hingga pertunjukan seni dan budaya. *** (AKN/Ed: DRS/Dok: Tim Humas Diskominfo Bandung-AA)

Galeri