Kepala Perpusnas: Literasi Kesehatan Mental Fondasi Ketahanan Bangsa

Gallery image

Kepala Perpusnas: Literasi Kesehatan Mental Fondasi Ketahanan Bangsa

Jakarta—Humas Perpusnas. Kesehatan mental tidak selalu tampak dari luar. Banyak orang terlihat sehat secara fisik, namun sesungguhnya menyimpan persoalan psikologis yang serius dan berdampak luas bagi kehidupan sosial. Hal inilah yang disoroti Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, saat Webinar Nasional Seri Minat Baca #31 yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (PP GPMB), Sabtu (31/1/2026).

Mengangkat tema ‘Membangun Ketahanan Diri dan Kepedulian Kemanusiaan di Tengah Tekanan Zaman,’ Kepala Perpusnas mengapresiasi konsistensi PP GPMB yang telah memasuki Seri Minat Baca ke-31, sebuah perjalanan panjang lebih dari dua setengah tahun dalam mengkampanyekan budaya baca.

“Ini bukan perjalanan pendek. Sudah 31 bulan, lebih dari 2,5 tahun, menapaki kampanye membudayakan kebiasaan membaca di berbagai kalangan. Saya menyampaikan terima kasih kepada jajaran GPMB yang dengan telaten dan sabar menggerakkan budaya baca untuk meningkatkan kecakapan literasi bangsa,” ungkapnya.

Menurutnya, bangsa yang besar tidak mungkin lahir tanpa budaya membaca yang kuat. “Tidak ada bangsa besar yang tidak pernah membaca. Mereka pasti sangat literat, karena literasi adalah fondasi yang menjadikan suatu bangsa maju,” katanya.

Kepala Perpusnas menekankan bahwa literasi tidak hanya membaca teks tertulis. Di era sekarang, literasi juga berarti kemampuan membaca fenomena alam, lingkungan, dan diri sendiri. “Petani dan nelayan yang jauh dari pendidikan formal dan dunia digital seringkali justru sangat literat. Mereka mampu membaca tanda-tanda alam yang nontekstual. Itulah membaca diri, alam, dan lingkungan, bagian dari literasi itu sendiri,” jelasnya.

Selain itu, ia menegaskan bahwa literasi sejatinya adalah kemampuan membaca informasi, baik tekstual maupun nontekstual, yang kemudian digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup. Perpusnas, lanjutnya, terus berupaya membangun budaya baca dari berbagai sisi. Ia menolak anggapan bahwa masyarakat Indonesia memiliki minat baca yang rendah. 

“Saya sering membantah bahwa masyarakat kita tidak punya minat baca. Hasil wawancara saya dengan ratusan orang menunjukkan bahwa minat baca itu tinggi. Masalahnya bukan pada minat, tetapi bahan bacaan di lingkungan mereka tidak sesuai dengan minatnya,” tuturnya.

Pengalaman mendampingi kunjungan ke perpustakaan sekolah menjadi pelajaran penting baginya. “Saya pernah menemukan buku tentang cara beternak itik di perpustakaan untuk siswa kelas 3 SD. Tentu itu tidak cocok bagi anak-anak yang dunianya masih bermain. Di situlah pentingnya membedakan minat baca dan praktik membaca,” sebutnya.

Sejak menjabat sebagai Kepala Badan Bahasa hingga kini memimpin Perpusnas, Aminudin menegaskan komitmennya untuk merekonstruksi bahan bacaan yang relevan, terutama bagi anak-anak. Upaya tersebut diwujudkan melalui berbagai program, di antaranya penyediaan 1.000 judul buku untuk perpustakaan desa dan taman bacaan masyarakat (TBM), yang berlanjut pada 2025 dengan ribuan lokus, KKN Tematik Literasi di 1.000 lokus, serta program Relawan Literasi Masyarakat (ReLima) yang tahun ini bertambah menjadi 350 relawan.

Salah satu langkah nyata yang menurutnya paling menyentuh adalah dukungan Perpusnas dalam perpustakaan Sekolah Rakyat, yang menyasar kelompok masyarakat dalam kondisi ekstrem. “Mereka yang sudah usia menengah dan belum mengenal alfabet, ketika difasilitasi perpustakaan sekolah rakyat, ternyata berubah. Kesehatan mental bisa disembuhkan melalui kegiatan membaca, karena membaca selalu membahagiakan,” ucapnya.

Ia menceritakan bagaimana perpustakaan menjadi ruang aman bagi anak-anak dan keluarga dengan latar belakang ekonomi berat. “Orang tua dan guru mengakui bahwa perpustakaan menjadi ruang aman. Anak-anak yang malu karena belum bisa membaca di kelas, justru berani bertanya di perpustakaan. Ketika akhirnya bisa membaca, itu menjadi kebahagiaan besar bagi keluarga dan lingkungannya,” terangnya.

Menurut Kepala Perpusnas, perpustakaan memiliki peran strategis dalam konteks kesehatan mental. Perpustakaan sebagai ruang inklusif dan terapeutik, baik melalui koleksi cetak maupun digital. “Perpustakaan bisa menjadi ruang literasi kesehatan mental. Di sana orang bisa berdialog, dan melalui dialog, 50 persen persoalan itu selesai,” lugasnya.

Sementara itu, Ketua Umum PP GPMB, Herlina Mustikasari, menekankan bahwa literasi telah menjadi alat manusia memahami dunia sejak awal peradaban. “Sejak manusia menorehkan gambar di dinding gua, literasi menjadi cara memahami dunia. Hari ini, di tengah derasnya informasi dan media sosial, literasi adalah kemampuan merekonstruksi makna, membaca diri sendiri, dan membaca orang lain,” ujarnya.

Ia menyoroti tantangan era digital, ketika pesan di media sosial kerap disalahpahami hanya dalam hitungan menit. “Di sinilah literasi menjadi kunci membangun cara berpikir dan berdialog,” katanya.

Herlina menjelaskan bahwa seiring perjalanan 25 tahun GPMB sebagai gerakan nasional yang diprakarsai oleh Jusuf Kalla. “GPMB tumbuh sebagai gerakan yang menghubungkan perpustakaan, sekolah, dan masyarakat. Kegiatan ini bukan hanya mengembangkan minat baca, tetapi juga membangun kemampuan berpikir dan berdialog,” jelasnya.

Menurutnya, urgensi literasi kesehatan mental di tengah berbagai persoalan sosial ini untuk membantu dalam meregulasi emosi dan mencari bantuan yang tepat. “Perpustakaan adalah tempat menemukan jati diri, perspektif, dan kebersamaan. Literasi adalah salah satu solusi kesehatan mental dan alat konstruksi sosial agar setiap keluarga memiliki akses pengetahuan dan ruang aman,” katanya.

Diskusi semakin kaya dengan kehadiran para narasumber lintas disiplin, Ketua Dharma Wanita Persatuan Perpusnas, Teti Aminudin Aziz, yang menekankan pentingnya literasi keluarga dan empati sosial sebagai fondasi utama kesehatan mental masyarakat. Kegiatan juga menghadirkan alumni Magister Counselling University of Edinburgh, Rin Aziz, Ketua II PP GPMB sekaligus Dosen PGPAUD Universitas Muhammadiyah Jakarta, dan Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpusnas, Nurhadisaputra. *** (AKN/Ed.DRS/Dok.AKN)

Galeri