Kepala Perpusnas: Pengarusutamaan Naskah Kuno Jadi Prioritas Perpusnas

Gallery image

Kepala Perpusnas: Pengarusutamaan Naskah Kuno Jadi Prioritas Perpusnas

Bandung – Humas Perpusnas. Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, menegaskan bahwa pengarusutamaan naskah kuno Nusantara menjadi salah satu dari tiga program prioritas Perpusnas. Hal tersebut disampaikan sebagai upaya memperkuat peran Perpusnas dalam ekosistem pelestarian, pengelolaan, dan pemanfaatan naskah kuno bagi masyarakat luas.

 

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional Naskah Kuno sebagai Kajian Interdisipliner bertema “Menjembatani Warisan Intelektual dan Relevansi Masa Kini” pada Sabtu (14/2/2026). Kegiatan ini menghadirkan akademisi, filolog, pegiat budaya, serta pemangku kepentingan yang membahas penguatan pelestarian dan pemanfaatan manuskrip Nusantara.

 

Ia mengatakan dunia pernaskahan perlu diperluas secara lintas batas agar naskah kuno tidak hanya menjadi objek kajian terbatas. “Perpusnas sebagai institusi negara yang melakukan pengelolaan naskah kuno secara nasional berada di sini, karena seminar ini menangkap semangat yang sama dengan kami di Perpusnas. Manuskrip untuk semua,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, pewarisan nilai dan pengetahuan masa lalu kepada generasi muda perlu dilakukan melalui berbagai bentuk pemanfaatan, termasuk bahan bacaan anak. “Kita harus mewariskan pengetahuan masa lalu dan nilai-nilai baik kepada generasi muda sebagai pemilik masa depan. Ini yang kami garap di Perpusnas terkait pemanfaatan naskah kuno,” jelasnya.

 

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Provinsi Jawa Barat, Retno Raswaty, menyampaikan bahwa pelestarian naskah kuno tidak hanya menjadi tanggung jawab akademisi, tetapi juga membutuhkan dukungan kebijakan dan penguatan kelembagaan.

 

“BPK Wilayah IX melakukan upaya bagaimana generasi muda dapat belajar tentang bahasa dan mengenal aksara sunda, kedepannya kami ingin melakukan kajian terkait naskah pegon dan pembelajaran naskah kuno yang ada di Jawa Barat serta naskah-naskah lainnya,” ungkapnya.

 

Senada dengan itu, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurrahman, menegaskan bahwa manuskrip menyimpan ingatan kolektif bangsa Indonesia. “Manuskrip sudah kita tetapkan sebagai objek kebudayaan. Namun, merawat manuskrip tidak cukup di permukaan. Perlu pengarusutamaan agar masyarakat luas mengetahui pengetahuan dan kearifan yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.

 

Pengajar Program Studi Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Mamat Ruhimat, menambahkan bahwa perguruan tinggi turut berperan melalui kajian filologi. Mahasiswa dibimbing untuk mengkaji naskah setiap semester, dan hasil penelitian tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.

 

Acara dihadiri oleh Ketua Yayasan Rumah Naskah Nusantara, Gunari Putra Erisman; Kepala Program Studi Sastra Sunda, dan Ketua Manassa Komisariat Jawa Barat, Rahmat Sopian. Hadir pula para narasumber: Dosen Filologi FIB Universitas Padjadjaran, Undang A. Darsa; Dosen FIB Universitas Indonesia, Munawar Holil; Dosen Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Riadi Darwis; dan Filolog Perpustakaan Nasional, Aditia Gunawan. *** (SA/Ed:DRS/dok:AKN)

Galeri