Kepala Perpusnas: Perlu Cetak Biru Dukungan Teknologi untuk Pelestarian Bahasa Daerah

Gallery image

Kepala Perpusnas: Perlu Cetak Biru Dukungan Teknologi untuk Pelestarian Bahasa Daerah

Jakarta - Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz hadir menjadi narasumber pada kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun Prakongres Bahasa Daerah di Hotel Grand Mercure Harmoni, Kamis (4/12/2025). Kegiatan tersebut digelar oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dalam sesi Peran AI dan Platform Digital, Kepala Perpusnas memaparkan materi dengan tema Peran Kecerdasan Buatan dan Platform Digital dalam Pelestarian Bahasa Daerah. Ia menyebutkan lima isu startegis terkait bahasa, yaitu status bahasa daerah, sikap bahasa para penutur bahasa daerah, persebaran bahasa dan sastra daerah dan bahasa komunitas, bahasa daerah dalam berbagai ranah (domestik, sosial, pendidikan, layanan publik, dan media), serta pengaruh perkembangan teknologi terhadap kelestarian bahasa daerah.

Khusus isu terakhir yang disebutkannya, ia menawarkan solusi, yaitu menyusun cetak biru (blueprint) dukungan teknologi untuk pelestarian bahasa daerah.

“Mengapa makna (semantic) penting dalam kecerdasan buatan Bahasa Daerah?,” tanyanya pada audiens. Tak lama, ia kemudian menjelaskan, bahasa tidak dapat dipahami hanya melalui teks; ada makna budaya, praktik sosial, dan pengetahuan lokal. “Kecerdasan buatan yang dilatih dari bahasa mayoritas cenderung bias, sehingga menghilangkan nuansa bahasa daerah. Semantic Web memberikan cara agar mesin memahami hubungan dan makna antarkonsep,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung tentang ontologi, suatu model formal untuk menggambarkan konsep, hubungan antarkonsep, serta aturan semantik dan konteks budaya dari bahasa daerah. "Manfaat ontologi untuk bahasa daerah antara lain untuk menangkap makna idiom, metafora, dan istilah yang ada pada bahasa daerah itu sendiri, serta menjaga konteks bahasa dan budaya agar tidak hilang saat didigitalisasi," ucapnya.

Cara kerja ontologi didefinisikannya dalam bentuk Jalamakna/ Semantic Web. Dimulai dari Data yang tidak terstruktur (berupa teks, audio, bahasa daerah) yang dipetakan maknanya melalui ontologi ke dalam konsep, relasi, dan aturan. Selanjutnya ada proses yang menghasilkan struktur formal (triple semantic) dan knowledge graph dibentuk (node & edge pengetahuan budaya). Kecerdasan buatan selanjutnya melakukan reasoning, yaitu memahami konteks, makna, dan budaya. Pada tahap akhir, data diproses melalui aplikasi kecerdasan buatan yang jauh lebih akurat (NLP, chatbot, semantic search, dan preservasi bahasa lokal)

Pada sesinya, Kepala Perpusnas menjabarkan berbagai tantangan dan isu prioritas implementasi ontologi & AI bahasa daerah di Indonesia. Ada sembilan tantangan dan isu yang disebutkannya. Satu diantaranya adalah minimnya dokumentasi atas sejumah bahasa daerah yang belum terdigitalisasi, ia mengusulkan agar Badan Bahasa membangun kemitraan dengan berbagai pihak.

"Kemitraan harus dibangun. Perpusnas dan Badan Bahasa perlu membangun korpus akses terbuka yang tervalidasi untuk pelatihan mesin kecerdasan buatan. Ada juga Khazanah Naskah Nusantara (Khastara) di Perpusnas yang menyediakan sumber data yang sudah terdigitalisasi untuk bahasa-bahasa dengan sumber terbatas. Itu juga bisa dimanfaatkan," pungkasnya.

Reporter: Basma Sartika

Editor: Dyah Rachmawati Sugiyanto

Dokumentasi: Aditya Irfan Fakhruddin

Galeri