Kepala Perpusnas Rinci Tiga Tahapan dalam Hakikat Membaca Buku
Banten-Humas Perpusnas. Membaca buku bukan hanya sekadar memahami rangkaian kata melainkan sebuah proses penting dalam membangun cara pandang hingga perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, E. Aminudin Aziz, dalam orasi literasi pada peringatan Hari Buku Sedunia 2026 yang diselenggarakan Rumah Dunia dengan tema “Dari Banten Untuk Dunia,” Minggu (26/4/2026).
Aminudin memaparkan bahwa hakikat membaca buku memiliki beberapa tahapan. Tahap pertama adalah tahap paling dasar yaitu membaca rangkaian huruf, kata, frasa, dan klausa. Menurutnya, tahap ini dimulai pada usia anak-anak dengan mengeja tanpa sepenuhnya memahami makna bacaan.
“Anak-anak kita telah memulai itu semua pada usia yang sangat muda. Pada saat mereka membaca hanya untuk melafalkan tanpa mungkin mengetahui apa makna dari rangkaian kata-kata tersebut. Ini adalah bentuk yang paling primitif ketika kita bicara tentang hakikat buku,” jelasnya.
Tahap kedua adalah membaca buku pada hakikatnya adalah membaca alam semesta. Menurutnya, dengan membaca buku, seseorang dapat menangkap makna yang tertulis dan melihat keterkaitannya dengan fakta yang ada di lingkungan sekitarnya.
Tahap ketiga, lanjutnya, merupakan tahap paling mendalam yaitu buku harus mampu memberikan inspirasi kepada setiap orang yang membacanya untuk berperilaku yang jauh lebih baik lagi.
“Karena sejatinya buku akan mampu memberikan inspirasi kepada setiap orang yang membacanya. Buku harus menjadi refleksi atau cermin, menampilkan watak kita sendiri. Membaca buku adalah membaca diri sendiri, ini merupakan bagian yang sangat mikroskopis dari kehidupan kita,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi peran Rumah Dunia yang konsisten menumbuhkan minat baca masyarakat selama 28 tahun. Menurutnya, kontribusi para pendiri, pengelola, dan relawan memiliki nilai ketulusan yang besar dalam membangun budaya literasi di tengah masyarakat.
Aminudin menambahkan, pemerintah melalui Perpusnas terus berkomitmen membangun kegiatan literasi secara kolaboratif bersama masyarakat.
“Kehadiran Relawan Literasi, KKN Tematik Literasi, dan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) merupakan wujud peran negara dalam mendukung kegiatan literasi. Meski belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan, program-program ini diharapkan dapat menjadi harapan dalam meningkatkan literasi di masyarakat bersama-sama dengan kegiatan yang dilakukan Bapak Ibu, para pegiat literasi,” urainya.
Sementara itu, Presiden Rumah Dunia, Rudi Rustiadi menjelaskan bahwa peringatan hari Buku Sedunia di Rumah Dunia adalah sebuah kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahun. Menurutnya, kegiatan ini sebagai pengingat kepada masyarakat, khususnya di Banten, untuk terus berkarya melalui penulisan buku dan kegiatan literasi.
“Setiap tahun kami rayakan melalui diskusi atau peluncuran buku. Pada tahun-tahun sebelumnya, jumlah buku yang diluncurkan bisa mencapai 200 buku. Namun, tahun ini ada 27 buku yang diluncurkan,” katanya.
Sebagai informasi, Rumah Dunia telah bekerja sama dengan Perpustakan Nasional, khususnya Perpusnas Press, dalam menerbitkan hampir 80 buku pada tahun 2024. (AL/Ed:DRS/Dok:KN)
Galeri








