Kepala Perpusnas: Sebuah Gagasan dapat Melampaui Usia Penulisnya Ketika Diwariskan
Jakarta - Humas Perpusnas. "Sebuah warisan bukan hanya sesuatu yang kita terima dari masa lalu, tetapi juga sesuatu yang kita bentuk melalui pemikiran, keputusan, dan tindakan kita hari ini," ujar Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) Prof. E. Aminudin Aziz.
Dalam kegiatan The Legacy Relay 2026 di Gedung Perpusnas, Jakarta, Rabu (21/10/2026), Aminudin menekankan, sebuah gagasan dapat melampaui usia penulisnya ketika didokumentasikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan inisiatif The Legacy Relay 2026 yang akan menghimpun 28 gagasan untuk Indonesia 2045 dalam sebuah buku berjudul The Legacy Relay 2026: 28 Gagasan untuk Indonesia 2045.
Gagasan tersebut merupakan hasil kurasi dari sekitar 200 peserta yang menulis surat untuk Indonesia menjelang satu abad kemerdekaan.
Menurut Aminudin, perpustakaan menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif bangsa, menghimpun pengetahuan generasi terdahulu, serta menyiapkan gagasan masa kini agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
“Dengan demikian, pemikiran yang disampaikan dalam forum ini tidak berhenti sebagai percakapan sesaat, tetapi diikat menjadi teks agar dapat melampaui usia penulisnya. Dibaca kembali, dibahas, diperdebatkan, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya,” ujarnya.
Aminudin juga menekankan bahwa upaya merawat pengetahuan perlu berjalan beriringan dengan penciptaan gagasan baru.
Canggah RA Kartini sekaligus Ketua Yayasan Kartini Heritage Center, Joddy Mulyasetya Putra mengajak generasi muda untuk merefleksikan warisan yang ingin mereka tinggalkan bagi masa depan. “Selamat datang di The Legacy Relay 2026. What will our generation leave behind?” ujarnya membuka kegiatan.
Menurut Joddy, gagasan mengenai warisan juga berkaitan dengan sesuatu yang diterima dari generasi terdahulu serta mencakup nilai dan perubahan yang mulai dibangun hari ini agar dapat diteruskan pada masa depan.
Generasi muda memiliki peran penting untuk meneruskan nilai yang mereka tinggalkan melalui tindakan nyata. Semangat persatuan, integritas, perjuangan pendidikan, serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu diterapkan untuk menjawab tantangan zaman.
Perspektif ini juga mengemuka dalam sambutan Menteri Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya yang menilai cerita, pengetahuan, budaya, dan kreativitas dapat menjadi sumber lahirnya karya maupun peluang ekonomi. Namun, potensi tersebut perlu didukung ruang untuk belajar dan bereksperimen, perlindungan kekayaan intelektual, akses terhadap jejaring dan pasar, serta kolaborasi lintas pihak.
“Dalam ekonomi kreatif, jawabannya dapat tumbuh dari cerita, pengetahuan, budaya, dan kreativitas,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Dewa Ayu Laksmi, menyoroti pentingnya memastikan perempuan memiliki akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat yang setara dalam berbagai bidang kehidupan.
Menurutnya, stigma, subordinasi, marginalisasi, beban ganda, dan budaya patriarki masih menjadi tantangan dalam mewujudkan kesetaraan gender. Upaya tersebut juga perlu berjalan beriringan dengan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta keterlibatan laki-laki dalam mendorong perubahan.
“Warisan terbaik bukanlah materi, melainkan teladan yang abadi,” ujar Dewa Ayu.
Beragam perspektif yang hadir dalam The Legacy Relay 2026 memperlihatkan bahwa menyiapkan Indonesia 2045 membutuhkan pemikiran perlu diterjemahkan menjadi tindakan, dikembangkan melalui kolaborasi, dan didokumentasikan agar dapat dipelajari kembali.
Perpusnas memastikan pengetahuan dan gagasan dapat dihimpun, dirawat, dan diwariskan. Melalui dokumentasi yang berkelanjutan, pemikiran generasi hari ini berpeluang menjadi sumber pembelajaran bagi generasi yang akan datang. *** (SA/Ed: DRS/Dok:ATK)
Galeri










