Kepala Perpusnas Sebut Tiga Aspek Pengelolaan Perpustakaan Perguruan Tinggi

Gallery image

Kepala Perpusnas Sebut Tiga Aspek Pengelolaan Perpustakaan Perguruan Tinggi

Jakarta. Humas Perpusnas. Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, menyampaikan bahwa hakikat perpustakaan perguruan tinggi terletak pada penciptaan, pengembangan, penyebarluasan serta melestarikan ilmu pengetahuan.

 

Dalam Diklat Manajerial Perpustakaan: EXPRESS (Experience Program Education in Surabaya Singapore), Senin (6/4/2026), Ia menyebutkan tiga aspek dalam pengelolaan perpustakaan perguruan tinggi. Ketiga aspek tersebut adalah manajemen adaptif, integrasi kecerdasan buatan dalam layanan perpustakaan, dan kolaborasi internasional.

 

“Manajemen adaptif menjadi pilar struktural di perpustakaan perguruan tinggi antara lain menerapkan kebijakan yang agile, tidak kaku serta mendorong kreativitas pengelolaan perpustakaan, desain layanan yang mendahulukan pemustaka, dan mengadakan Pengembangan Profesional Berkelanjutan bagi para pustakawan,” jelasnya.

 

Menurutnya, peran strategis perpustakaan tersebut menuntut peran pustakawan untuk tidak pasif, tetapi aktif dalam menjembatani ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Demikian ia sampaikan pada kegiatan yang merupakan kerja sama Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Jawa Timur dengan Perpustakaan Singapore Management University (SMU) tersebut.

 

“Oleh karena itu, pustakawan tidak bisa berdiam diri karena pustakawan merupakan ujung tombak dalam memberikan pencerahan kepada publik. Pustakawan menjadi pihak pertama yang membaca pustaka atau referensi. Baru kemudian, mereka menyajikannya secara sederhana, serta menyampaikannya kepada publik mengenai ketersediaan bacaan dan pengetahuan baru yang dihasilkan para penulis dan peneliti,” urainya.   

 

Terkait integrasi kecerdasan buatan, ia menekankan pentingnya penguatan layanan berbasis teknologi. Misalnya, ia mencontohkan, sistem penemuan informasi yang cerdas (smart discovery system), dan layanan otomatis yang dapat diakses selama 24 jam untuk mendukung kebutuhan dosen dan mahasiswa dalam proses penelitian dan penyusunan tugas akhir.

 

Sementara itu, kolaborasi internasional mencakup jejaring pemanfaatan sumber daya, mendorong kolaborasi riset, serta menjadi sarana pembelajaran dalam standarisasi perguruan tinggi.

Ketua Umum Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Pusat periode 2023–2026, Mariyah, menjelaskan kegiatan ini dilaksanakan untuk menjawab tantangan perpustakaan di ambang Society 5.0, sebuah era di mana integrasi antara ruang siber dan ruang fisik menjadi realitas sehari-hari.

“Perpustakaan harus memiliki ketangkasan atau agility dalam beradaptasi. Kita membutuhkan pemimpin dan SDM yang tangkas serta inovatif. Kita membutuhkan figur-figur yang mampu menjadi katalisator, penggerak yang mempercepat proses transformasi, dan memimpin manajemen perubahan di institusi masing-masing,” jelasnya. 

Kepala Perpustakaan Singapore Management University, Shameem Nilofar Maideen,  menyampaikan bahwa pihaknya akan berbagi pengetahuan terkait peran pustakawan dalam menunjukan nilai dari informasi yang beredar, integrasi kecerdasan buatan yang merupakan alat pendukung, bukan pengganti peran pustakawan dan pembelajaran etika dan kompleksitas dalam pemanfaatannya.(AL/Ed:DRS:Dok:AL).

 

Galeri