Kepala Perpusnas Tekankan Jenama Pustakawan Sebagai Pemelajar Sepanjang Hayat

Gallery image

Kepala Perpusnas Tekankan Jenama Pustakawan Sebagai Pemelajar Sepanjang Hayat

Salemba, Jakarta - Mengawali tahun 2026, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz menegaskan, pentingnya perubahan cara pandang  dalam bekerja, khususnya memaknai profesi pustakawan. Menurutnya, perubahan adalah sebuah keniscayaan.

Ungkapan itu disampaikan dalam Dialog Kepala Perpusnas dengan Pustakawan di lingkungan Sekretariat Utama Perpusnas, Kamis (8/1/2026).

Aminudin mengajak seluruh pustakawan untuk bersama-sama membangun jenama (branding) baru pustakawan. Pasalnya, pustakawan masih kerap dinilai stigma negatif di masyarakat, seperti dianggap sebagai 'pegawai buangan', malas, kurang kreatif, terisolasi dari dunia luar. Bahkan, Pustakawan hingga dianggap menjadi profesi yang tidak menjanjikan bagi masa depan karier.

"Stigma ini harus kita ubah. Terutama bagi Bapak dan Ibu yang sejak awal memilih menjadi pegawai perpustakaan, sudut pandangnya harus berbeda. Kita harus tunjukkan ke publik bahwa menjadi pustakawan itu keren," tugasnya.

Ia mengungkapkan, jenama baru yang ingin dibangun adalah pustakawan sebagai pemelajar sepanjang hayat. 

Menurutnya, pustakawan dituntut memiliki pemahaman mendalam terhadap visi perpustakaan, menguasai informasi terkait fasilitas dan layanan, memahami ragam kegiatan rutin perpustakaan, serta siap menjalankan peran edukasi, advokasi, layanan, dan kolaborasi.

"Jangan sampai ketika pemustaka bertanya, tapi kita tidak bisa menjawab," ungkapnya.

Aminudin menambahkan, sosok ideal pustakawan adalah mereka yang selalu terdepan dalam memperoleh ilmu pengetahuan baru. “Pustakawan tidak hanya berperan dalam pengelolaan dan penggalian buku, tetapi juga menjadi penjaga marwah ilmu pengetahuan dan pewaris peradaban manusia,” urainya.

Melalui berbagai program berbasis inklusi sosial, pustakawan diharapkan hadir di tengah masyarakat sebagai rujukan ilmu pengetahuan. Karena itu, ia menandaskan, pustakawan perlu bertransformasi menjadi pemengaruh (influencer) yang mengikuti perkembangan zaman, bukan sekadar menjadi pendengung.

“Pustakawan harus menjadi role model. Ketika memiliki ilmu pengetahuan, ia akan menjadi sosok panutan," imbuhnya.

 

Reporter: Wara Merdeka

Editor: Dyah Sugiyanto

Dokumentasi: Aji Anwar

Galeri