Ketua DWP Perpusnas: Perempuan Berperan Strategis dalam Meningkatkan Literasi Anak Sejak Dini
Jakarta— Wadah pertama kali anak-anak mengenal aktivitas literasi adalah di dalam keluarga. Keluarga adalah tempat yang paling pertama dan utama yang berpengaruh dalam perkembangan literasi anak.
Ketua Dharma Wanita Persatuan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (DWP Perpusnas), Teti Herawati Aminudin Aziz, menyampaikannya dalam webinar Pembudayaan Kegemaran Membaca.
Mengangkat tema ‘Peran Dharma Wanita Persatuan dalam Mewujudkan Anak Indonesia yang Literat Menuju Indonesia Emas 2045’, kegiatan ini merupakan acara puncak dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-26 Dharma Wanita Persatuan dan Hari Ibu ke-97 Tahun 2025 pada hari Selasa, (23/12/2025).
“Keluarga merupakan madrasah awal bagi anak-anak untuk belajar. Ketika orang tua bekerja, pendidikan anak dapat dilanjutkan melalui sekolah, sebagai madrasah kedua dari untuk mereka,” jelas Teti.
Menurutnya, peran perempuan, khususnya ibu-ibu anggota DWP, sangat strategis dalam mengakses dan memanfaatkan sumber-sumber pendidikan guna meningkatkan literasi anak sejak dini.
“Perempuan memegang peran ganda, yaitu sebagai ibu, istri, sekaligus individu yang aktif berkarya dan berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan stimulasi literasi yang dapat dilakukan melalui kegiatan membacakan buku untuk anak usia dini. Disebutkannya, antara lain dengan membacakan buku secara rutin dan frekuensi tinggi, durasi yang pendek, serta menggunakan buku yang memiliki banyak gambar dan warna.
“Hal ini dilakukan agar perkembangan psikologis dan kognitif anak dapat berjalan sesuai dengan tahapan usianya,” jelasnya.
Teti juga menekankan pentingnya akses pendidikan melalui penyediaan bahan literasi yang tepat, seperti misalnya dalam bentuk buku cetak, buku digital, maupun realia atau objek pendukung yang membantu anak memahami konsep.
Dalam webinar yang dimoderatori Wakil Ketua DWP Perpusnas, Feronika Sekar Puriningsih, salah satu narasumber Hana A. Satriyo, memaparkan kepemimpinan perempuan memiliki peran yang sangat penting, baik di dalam bidang formal maupun informal.
“Di ruang mana pun, selalu ada kepemimpinan yang dijalankan oleh perempuan. Peran tersebut bisa disadari atau tidak disadari, diakui maupun tidak diakui. Namun bagi saya, perempuan selalu mampu mengambil peran kepemimpinan tersebut,” jelas Hana, Direktur Asia Foundation Indonesia.
Ia melanjutkan paparannya tentang keterkaitan peran perempuan dengan literasi. Ia mengungkapkan, perempuan yang melek literasi dapat menularkan kebiasaan membaca dan belajar di rumah, maupun komunitas. Mereka menciptakan kegiatan edukatif yang relevan sehingga budaya literasi dapat tumbuh, serta menjadi teladan yang konsisten dalam mengakses dan memanfaatkan berbagai sumber pengetahuan.
“Banyak pemimpin perempuan menginisiasi kelompok membaca, perpustakaan komunitas, atau kegiatan menulis kreatif sebagai sarana menumbuhkan minat baca, memperluas wawasan, dan mengasah keterampilan berbahasa,” jelasnya.
Materi bertambah kaya, dilengkapi paparan dari Presidium Kongres Advokat Indonesia, D. Sasanti Sidharta. Ia menjelaskan bahwa literasi hukum adalah pengetahuan dan pemahaman tentang dasar hak dan kewajiban, serta peraturan yang berlaku. Menurutnya, bagi para ibu, pemahaman literasi hukum menjadi penting sebagai upaya membentengi anak-anak dari jeratan hukum yang mungkin tidak disadari.
“Dengan memiliki kesadaran dan pengetahuan mengenai hukum, kesadaran mengenai hak dan kewajibannya, otomatis anak-anak tidak akan melakukan tindakan-tindakan pelanggaran yang mungkin mengakibatkan terjadinya ancaman hukuman,” urainya.
Ia memberikan contoh literasi hukum yang dapat diterapkan di rumah seperti misalnya mengajarkan anak tentang konsep aturan dan konsekuensi, mengenalkan keseimbangan antara hak dan kewajiban serta toleransi, memandu anak dalam menggunakan media sosial dan internet dengan aman, bertanggung jawab dan fokus pada hukum yang berlaku di dunia maya, serta mengenalkan lembaga yang melindungi anak-anak.
Reporter: Anastasia Lily
Editor: Dyah R. Sugiyanto
Dokumentasi: Prakas Agrestian & Aji Anwar
Galeri








