Ketua IPI: Perpustakaan Harus Bergeser dari Orientasi Koleksi ke Akses Pengetahuan
Jakarta — Humas Perpusnas. Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) sekaligus Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia (PP IPI), Joko Santoso, mengatakan perubahan teknologi informasi dan perkembangan kebutuhan masyarakat mendorong perpustakaan untuk terus bertransformasi. Perpustakaan tidak lagi cukup berorientasi pada penghimpunan koleksi, tetapi perlu memperluas akses masyarakat terhadap berbagai sumber informasi dan pengetahuan, termasuk yang tersedia secara digital.
Pada kegiatan Pelatihan Manajemen Perpustakaan Dinas Perpustakaan Kabupaten Mimika Tahun 2026, Joko menambahkan perubahan lanskap informasi juga membawa perubahan terhadap peran pustakawan. Menurutnya, jika sebelumnya orientasi perpustakaan lebih banyak diarahkan pada penyimpanan dan pengelolaan koleksi, kini perhatian perlu bergeser pada bagaimana masyarakat dapat mengakses sumber pengetahuan yang tersedia di dalam maupun di luar perpustakaan.
“Peran pustakawan sebagai sumber daya utama perpustakaan juga mengalami pergeseran. Kemampuannya diarahkan untuk memberikan layanan akses informasi meskipun sumber itu tidak selalu berada di perpustakaan,” jelasnya, Rabu (19/8/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia melihat perkembangan teknologi digital sebagai peluang bagi perpustakaan di wilayah Timika, Mimika, Ilaga, dan Mulia yang berada di Papua Tengah, untuk memperluas jangkauan layanan, khususnya bagi masyarakat di wilayah yang secara geografis sulit dijangkau.
Baginya, penggunaan telepon pintar dan konektivitas internet dapat menjadi modal bagi perpustakaan untuk menghadirkan akses informasi yang tidak bergantung sepenuhnya pada kehadiran fisik masyarakat di perpustakaan. “Teman-teman semua tidak lagi hanya bisa mengandalkan layanan konsep itu. Tidak hanya bisa mengandalkan orang-orang dari perpustakaan kita. Kita harus bisa menjangkau mereka yang ada di jauh, di balik gunung, di hutan-hutan, di pesisir,” terangnya.
Karena itu, Joko mengajak pengelola perpustakaan untuk mengembangkan layanan yang bersifat konvergensi, yaitu memadukan layanan konvensional dengan layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi, teknologi digital, serta kecerdasan artifisial.
Transformasi tersebut, lanjutnya, juga perlu diikuti dengan perubahan cara perpustakaan mengemas informasi. Perpustakaan tidak cukup hanya menyajikan buku, surat kabar, atau majalah, tetapi perlu mengembangkan berbagai bentuk kemasan informasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Jangan berhenti hanya memberikan layanan informasi yang mentah. Buatlah berbagai macam kemasan informasi,” tuturnya.
Lebih jauh, ia mendorong perpustakaan untuk berkembang sebagai ruang publik yang terbuka bagi kreativitas masyarakat, seperti co-working space dan learning hub. Konsep tersebut memungkinkan masyarakat belajar, berdiskusi, mengembangkan keterampilan, hingga memulai aktivitas produktif. “Perpustakaan kita adalah perpustakaan yang tumbuh dan berkembang bersama masyarakat, yang menjawab kebutuhan masyarakat terhadap kreativitas dan juga ekonomi. Terus semangat untuk belajar,” pungkasnya.
Pelatihan yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Perpusnas bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Mimika dan Pengurus Pusat IPI ini akan berlangsung selama tiga hari ke depan. Selain itu, pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas peserta dalam menghadapi perubahan tersebut. Joko juga mengapresiasi upaya Dinas Perpustakaan Kabupaten Mimika dalam meningkatkan kapasitas pengelolaan perpustakaan. *** (AKN/Ed: BS/Dok: AK)
Galeri










