Kolaborasi dan Kecerdasan Buatan Jadi Kunci Transformasi Perpustakaan Perguruan Tinggi

Gallery image

Kolaborasi dan Kecerdasan Buatan Jadi Kunci Transformasi Perpustakaan Perguruan Tinggi

Petamburan, Jakarta Barat—Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, menegaskan pentingnya kolaborasi dan transformasi digital berbasis kecerdasan buatan (AI) di lingkungan perguruan tinggi. 

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara kunci pada Konferensi Internasional Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (KPPTI) ke-4 yang diselenggarakan oleh Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) bekerja sama dengan Universitas Tarumanagara (UNTAR), di Gedung M UNTAR, Jakarta, Rabu (8/10/2025).

Dalam seminar bertema “AI-Driven Academic Libraries: Innovation, Ethics, and the Future of Knowledge Management”, Kepala Perpusnas menekankan perlunya pergeseran pemikiran dalam pengelolaan perpustakaan agar dapat mengembangkan diri menjadi lembaga yang mampu memanfaatkan AI untuk meningkatkan layanan informasi akademik.

Ia menjelaskan, Perpusnas tengah mengembangkan inisiatif “Satu Akses Indonesia,” sebuah platform nasional yang mengadopsi konsep One Nation, One Subscription untuk memperluas akses jurnal ilmiah secara merata, efisien, dan berkelanjutan. 

“Program ini akan memanfaatkan teknologi AI untuk menganalisis data penggunaan jurnal dan membantu menentukan langganan yang benar-benar relevan. Tujuannya agar pengelolaan koleksi digital lebih efisien, transparan, dan berbasis data nyata,” paparnya.

Dari hasil survei terhadap 21 perguruan tinggi pada April 2025, ungkapnya, ditemukan adanya ketumpangtindihan langganan jurnal yang menyebabkan inefisiensi anggaran. Ia juga menyoroti rendahnya rasio pemanfaatan e-journal di Indonesia, yang baru mencapai 8,62 persen dari total akses yang tersedia.

“Kalau setiap perguruan tinggi melanggan jurnal yang sama secara terpisah, padahal bisa dilakukan bersama, itu tentu tidak efisien. Melalui sistem bersama, pemanfaatannya akan jauh lebih optimal,” jelasnya.

Kepala Perpusnas juga menyoroti temuan sekitar 15 perguruan tinggi yang memublikasikan artikel di jurnal tidak kredibel atau jurnal abu-abu. Ia menyampaikan bahwa Perpusnas telah berdiskusi dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk menindaklanjuti temuan tersebut agar publikasi ilmiah nasional semakin berkualitas dan terpercaya.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa Perpusnas telah melanggan berbagai e-journal dan e-database dari penyedia internasional seperti Cambridge, EBSCO, LexisNexis, ProQuest, Taylor & Francis, dan WSPC. Khusus LexisNexis, hanya Perpusnas yang melanggan di Indonesia karena biaya yang tinggi.

“Pada 2024, kami mengalokasikan lebih dari Rp67 miliar untuk langganan e-journal. Jadi, perguruan tinggi tidak perlu mengeluarkan anggaran untuk hal yang sama. Biarkan Perpusnas yang melanggan, agar dana perguruan tinggi bisa digunakan untuk kebutuhan lain dan kepentingan bersama,” tuturnya.

Kondisi ini, menurutnya, menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara Perpusnas dan perguruan tinggi agar sumber daya yang telah dilanggan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh sivitas akademika.

“Tahun depan kami menargetkan penambahan jumlah perpustakaan yang terhubung dalam jaringan akses jurnal Perpusnas. Saat ini baru sekitar 7 ribu dari 191 ribu perpustakaan di seluruh Indonesia yang terkoneksi,” sebutnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya pelatihan pemanfaatan e-journal agar akses yang tersedia dapat digunakan secara optimal. Menurutnya, pengguna perlu dibekali kemampuan menggunakan kata kunci yang relevan agar tidak sekadar mengakses tanpa hasil yang bermanfaat.

Di samping berbicara soal kebijakan, data, dan pentingnya kolaborasi, Kepala Perpusnas mengatakan bahwa salah satu tantangan dalam penerapan AI adalah kesenjangan kompetensi digital pustakawan.

“Tidak semua pustakawan senior malas belajar. Banyak yang justru semangat belajar. Namun di sisi lain, ada juga generasi muda yang enggan belajar. Ini persoalan besar terkait kesenjangan kompetensi digital,” tegasnya.

Mengakhiri sesinya, ia berharap, pustakawan masa depan dapat memperkuat kompetensi tidak hanya di bidang ilmu perpustakaan, tetapi juga dalam data science dan teknologi informasi, agar mampu memanfaatkan AI secara optimal dalam pengelolaan pengetahuan.

Konferensi KPPTI ke-4 yang berlangsung hingga 10 Oktober 2025 ini juga dihadiri oleh Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan Sekolah/Madrasah dan Perguruan Tinggi Taufiq Gani, Kepala Pusat Data dan Informasi Wiratna Tritawirasta, serta narasumber dari Microsoft Indonesia, Nanyang Technological University (Singapura), Universiti Teknologi Malaysia, dan Chulalongkorn University (Thailand).

 

Reporter: Alditta Khoirun Nisa 

Dokumentasi: Prakas Agrestian

 

 

Galeri