Kolaborasi dengan Perpusnas, Perpustakaan UT Raih Akreditasi A Setelah 38 Tahun Berdiri

Gallery image

Kolaborasi dengan Perpusnas, Perpustakaan UT Raih Akreditasi A Setelah 38 Tahun Berdiri

Tangerang- Humas Perpusnas. Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Suharyanto menjelaskan Perpusnas terus melakukan evaluasi terkait peningkatan mutu layanan,. “Evalusi peningkatan mutu yang kami lakukan, salah satunya melalui penerapan standar manajemen ISO 9001:2015,” ujarnya.

Hal itu disampaikannya dalam Workshop Transformasi Penguatan Layanan Perpustakaan Perguruan Tinggi, yang digelar Universitas Terbuka (UT), pada Senin (26/02/2026). Dalam kesempatan itu, ia menilai kolaborasi antara Perpusnas dan Perpustakaan UT telah berjalan baik, terutama dalam pelaksanaan Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (SSKCKR) dan pengelolaan penerbitan. 

“Sebagai lembaga pembina perpustakaan di seluruh Indonesia, Perpusnas melakukan evaluasi  secara berkala. Sebagai regulator, kami tidak bisa mengakreditasi diri sendiri. Karena itu, kami menerapkan ISO 9001:2015 tentang Sistem Manajemen Mutu sebagai instrumen evaluasi,” ungkapnya.

Selaras dengan bahasan mutu, Wakil Rektor I Bidang Akademik UT, Rahmat Budiman, menyampaikan salah satu ciri perguruan tinggi berkualitas dapat dilihat dari perpustakaannya. Menurutnya, perpustakaan lengkap, bagus, dan nyaman mencerminkan kualitas perguruan tinggi yang baik, begitu pula sebaliknya.  

Merespon pernyataan kedua pejabat tersebut, Kepala Perpustakaan dan Kearsipan UT, Sri Sediyaningsih, memaparkan beberapa capaian perpustakaan UT. “Kami berhasil meraih akreditasi A setelah memperkuat internal, baik dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM) maupun sarana prasarana,” ujarnya bangga.

“Sejak 38 tahun berdiri, Perpustakaan UT berhasil meraih akreditasi A melalui proses pendampingan dari Perpusnas. Capaian ini juga merupakan hasil kerja sama seluruh tim yang selama berbulan-bulan menyusun dan melengkapi standar layanan,” tuturnya.

Ia menjelaskan, berbagai inovasi terus dikembangkan guna mendekatkan pustakawan dengan pemustaka. Pada tahun 2023, Perpustakaan UT menghadirkan program Literacy Talk (Lib Talk) dan Klinik Literasi. Setahun kemudian, diluncurkan aplikasi Pustaka Pintar yang memungkinkan mahasiswa mengakses dan membaca koleksi secara offline. 

“Ini merupakan sebuah solusi bagi mahasiswa UT yang tersebar di berbagai daerah dengan keterbatasan jaringan internet,” jelasnya.

Sebagai informasi, pada 2025 Perpustakaan UT mengembangkan Pustaka Pintar menjadi ruang diskusi virtual dengan seluruh kegiatan berbasis manajemen risiko. “Yang terpenting adalah, inovasi terus kami kembangkan tanpa meninggalkan rutinitas dan tupoksi dari pustakawan. Inovasi kami kembangkan tetapi kegiatan rutin pustakawan itu tetap nomor satu,” ungkapnya.

Di lain sisi, Wakil Rektor mengakui, pemanfaatan perpustakaan UT saat ini dinilai masih belum optimal jika dibandingkan dengan jumlah mahasiswa. Oleh karena itu, pada Semester I Tahun Akademik 2026, UT akan mengintegrasikan akses perpustakaan dan bahan pustaka langsung ke dalam Learning Management System (LMS) mahasiswa. 

“Dengan metode ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya mengerjakan tugas berdasarkan modul, tetapi juga membaca setidaknya tiga sumber pustaka. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kuantitas akses perpustakaan, tetapi juga menambah wawasan mahasiswa di tengah perkembangan kecerdasan buatan yang memungkinkan penyusunan tulisan akademik secara instan,” urainya.

Menanggapi hal itu, Suharyanto mengatakan bahwa dalam waktu dekat, Perpusnas juga akan melakukan sosialisasi aplikasi Sistem Aplikasi Elektronik Deposit Aman dan Praktis (SAKEDAP) dan layanan ISBN di UT. Menurutnya, hal itu dilakukan sebagai bagian dari integrasi sistem pendataan nasional satu pintu.

Di akhir paparan, Suharyanto menyampaikan komitmen Perpusnas untuk terus berinovasi melalui berbagai program, antara lain Program Bakti Pustakawan yang mendorong pustakawan turun langsung ke masyarakat ketika melaksanakan Kedinasan dari Manapun (KdM) setiap hari Senin.

“Melalui program ini, pustakawan didorong untuk terjun langsung ke masyarakat dan berkolaborasi dengan warga dalam pembinaan perpustakaan di lingkungan sekitar, mulai dari tingkat RT/RW, kelurahan, hingga kecamatan,” jelasnya.

Program lainnya, Puspa Pemustaka (Pustakawan Menyapa Pemustaka), dilaksanakan secara daring setiap minggunya, selama setahun. Kegiatan ini dirancang dalam 44 seri, menghadirkan berbagai narasumber dari Perpusnas untuk berbagi gagasan, pengalaman, dan perkembangan terbaru dunia perpustakaan kepada masyarakat di seluruh Indonesia.

Sebagai penutup diskusi, ia menyebutkan bahwa Perpusnas juga melakukan Survei Kepuasan Masyarakat. Hasil survei tersebut menjadi bahan refleksi dan perbaikan berkelanjutan agar layanan kepada masyarakat semakin optimal.*** (AL/ ed: DRS)

Galeri