Kolaborasi Lintas Generasi, Modal Utama Hadapi Tantangan Organisasi
Jakarta-Humas Perpusnas. Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Biro Hukum, Organisasi, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat (HOKH) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Aji Subekti mengajak seluruh pegawai memperkuat kolaborasi lintas generasi sebagai modal utama menghadapi tantangan organisasi dan mewujudkan layanan literasi yang semakin berkualitas. Ajakan tersebut disampaikannya saat memberikan amanat pada apel pagi virtual, Senin (22/6/2026).
Aji mengaitkan momentum Hari Ulang Tahun ke-499 Jakarta dengan pentingnya kerja sama dan kolaborasi dalam membangun organisasi. Menurutnya, kemajuan sebuah institusi tidak pernah dibangun oleh satu kelompok atau satu generasi saja, melainkan melalui estafet kontribusi yang berkelanjutan.
“Jakarta bertumbuh karena adanya estafet panjang, kerja bersama, dan kolaborasi yang terus-menerus dilakukan dari masa ke masa. Begitu pula Perpusnas,” ujarnya.
Lebih lanjut, Aji menggambarkan Perpusnas sebagai miniatur Indonesia yang dihuni oleh berbagai generasi, mulai dari Baby Boomers, Generasi X, Millennial, hingga Generasi Z. Masing-masing generasi, sambungnya, memiliki keunggulan yang saling melengkapi dalam mendukung kemajuan organisasi.
Ia mengibaratkan Perpusnas sebagai sebuah buku besar yang sedang ditulis untuk peradaban bangsa. Generasi Baby Boomers dan Generasi X menjadi fondasi yang kokoh melalui pengalaman, loyalitas, dan kebijaksanaan yang dimiliki. Sementara Generasi Milenial berperan sebagai penghubung yang adaptif terhadap perubahan dan Generasi Z membawa kreativitas serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi.
“Tidak ada generasi yang lebih penting dari generasi lainnya, yang ada adalah kolaborasi untuk menghasilkan karya terbaik bagi bangsa,” tegasnya.
Selain pentingnya kolaborasi, Aji turut mengajak pegawai mensyukuri kesempatan mengabdi di Perpusnas dengan menunjukkan kinerja terbaik dan menjaga budaya kerja yang sehat. “Jangan sampai kesejahteraan kita sudah berada di angka yang baik, tetapi semangat kerja kita justru tertinggal. Jangan sampai fasilitas kerja semakin lengkap, tetapi komunikasi kita semakin renggang,” tuturnya.
Untuk membangun budaya kerja yang positif, Aji mengimbau seluruh pegawai menerapkan tiga hal sederhana yakni saling menghargai antargenerasi, membangun komunikasi yang terbuka dan empatik, serta menciptakan lingkungan kerja yang membahagiakan dalam menyelesaikan berbagai tantangan organisasi.
Di samping itu, makna pengabdian sebagai aparatur negara juga diakuinya penting diingat dengan meneladani semangat para pendahulu yang membangun bangsa di tengah berbagai keterbatasan. “Hari ini estafet itu berada di tangan kita. Tugas kita bukan sekadar mengelola, tetapi menjaga pengetahuan, memperkuat literasi, dan menghadirkan layanan yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Harapannya peringatan HUT Jakarta dapat direfleksikan bersama sebagai momentum untuk memperkuat rasa syukur, mempererat kolaborasi lintas generasi, dan memperbarui semangat pengabdian dalam mendukung kemajuan literasi nasional. “Karena sesungguhnya kita semua sedang berada di kapal yang sama. Kapal ini bernama Perpusnas. Tujuan kita satu yaitu menghadirkan layanan terbaik demi kemajuan literasi dan martabat bangsa,” pungkasnya.*** (AKN/Ed: BS/Dok: SR).
Galeri







