Kompetensi Global, Kunci Pustakawan Hadapi Perubahan Zaman

Gallery image

Kompetensi Global, Kunci Pustakawan Hadapi Perubahan Zaman

Jakarta-Humas Perpusnas. Pustakawan berkompetensi global adalah pustakawan yang memahami keterhubungan dunia, mampu bekerja dalam lingkungan multikultural, adaptif terhadap perubahan teknologi, memiliki kemampuan kolaborasi internasional serta tetap menjunjung etika, inklusivitas, dan keadilan informasi.

 

Hal tersebut disampaikan Presiden ASEAN Public Libraries Network (APLiN), Chaerul Umam dalam kegiatan Seminar Nasional “Merawat Pustaka dan Memartabatkan Bangsa” yang diselenggarakan secara hibrida oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-46 Perpusnas dan Hari Buku Nasional 2026, Selasa (12/5/2026).

 

“Pustakawan tidak lagi hanya berperan sebagai pengelola koleksi tetapi juga fasilitator pengetahuan global di tengah perubahan besar dunia perpustakaan akibat digitalisasi informasi, kecerdasan buatan, open access, globalisasi pengetahuan, multikulturalisme hingga kolaborasi lintas negara dan disiplin,” jelasnya.

 

Menurutnya, perpustakaan kini beroperasi dalam ekosistem global dengan pengguna yang semakin beragam serta meningkatnya kolaborasi internasional. “Oleh karena itu, pustakawan perlu memahami perspektif global, mampu bekerja lintas budaya, dan menguasai literasi digital tingkat tinggi,” tuturnya.

 

Adapun tiga pilar kompetensi global berdasarkan kajian dalam ilmu perpustakaan antara lain personal skill berupa sikap, mindset dan kemampuan diri; generic skill yaitu kemampuan lintas bidang yang dapat diterapkan di berbagai konteks; dan discipline-specific knowledge atau pengetahuan inti di bidang perpustakaan dan informasi.

 

Ia menambahkan, paradigma pustakawan telah mengalami perubahan dari peran tradisional sebagai penjaga koleksi buku semata menjadi embedded dan global librarian. 

 

“Pustakawan sekarang “tertanam” untuk memiliki fungsi atau peran lain di berbagai bidang yaitu sebagai fasilitator pengetahuan perspektif global, pengelola data dan informasi digital serta pendamping riset dan pembelajaran strategis yang kolaboratif,” tuturnya.

 

Terkait kecerdasan buatan, ia menyampaikan bahwa kecerdasan buatan bukan ancaman bagi pustakawan, melainkan teknologi yang mengubah cara kerja mereka.

 

“Pustakawan masa depan berperan sebagai kurator AI-generated information, evaluator kualitas informasi, fasilitator literasi AI serta penghubung antara manusia dan teknologi. Yang tergantikan bukan pustakawan tetapi pustakawan yang tidak beradaptasi,” ungkapnya.

 

Selain itu, diperlukan etika dalam penggunaan kecerdasan buatan tersebut dimana pustakawan menjadi penelaah atau reviewer yang menganalisa, memberikan penilaian terhadap informasi yang dibutuhkan masyarakat.

 

“Etika harus dipegang dan juga kesadaran bahwa kita tetap harus terlibat dalam pembuatan informasi tersebut atau pembuatan apapun itu. Kecerdasan buatan hanya bersifat sebagai pembantu kita untuk memberikan ide,” urainya. 

 

Ia juga menyampaikan strategi untuk membangun pustakawan global baik secara individu, institusi maupun secara organisasi profesi seperti misalnya belajar berkelanjutan, meningkatkan bahasa asing, aktif dalam pelatihan global, memperluas jaringan baik regional maupun global, sertifikasi kompetensi, dan sebagainya. 

 

“Perpustakaan yang kuat membutuhkan pustakawan yang berkompetensi global,” pungkasnya.*** (AL/Ed: BS/Dok: AIF)

Galeri