Literasi Cerdas untuk Desa Berdaya

Gallery image

Literasi Cerdas untuk Desa Berdaya

Salemba, Jakarta—Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, menjadi narasumber utama dalam Seminar Nasional Gelar Wicara 2025 yang digelar Universitas Mataram (UNRAM), Senin (8/9/2025) secara daring. 

Seminar bertema “KKN Berdampak: Literasi Cerdas dan Ekonomi Lokal Berkelanjutan Berbasis Ekonomi Kreatif, Biru, dan Hijau” ini merupakan bagian dari rangkaian KKN Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) UNRAM.

Ia juga menyoroti empat kecakapan literasi yang menjadi fondasi program ini, yaitu literasi baca-tulis dan akses informasi, literasi digital, literasi finansial, dan literasi lingkungan. Menurutnya, keempat aspek ini saling terkait dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam paparannya, Aminudin Aziz menegaskan bahwa KKN Tematik Literasi lahir dari empat persoalan utama, antara lain rendahnya budaya baca masyarakat desa, terbatasnya bahan bacaan, ketidaksesuaian dengan kebutuhan, serta pengelolaan perpustakaan desa yang belum optimal. 

“Perpustakaan tidak bisa berjalan sendirian. Kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi kunci, karena Tridharma mendorong akademisi untuk terlibat dalam pengabdian masyarakat. Mahasiswa, dosen, dan pustakawan dapat berperan sebagai inisiator sekaligus fasilitator pengembangan ilmu dan kreativitas masyarakat,” jelasnya.

Ia juga memaparkan empat kecakapan literasi yang menjadi fondasi program, yaitu literasi baca-tulis dan akses informasi, literasi digital, literasi finansial, dan literasi lingkungan. Literasi digital yang dimaksud, misalnya, dapat memperluas pasar produk lokal melalui media sosial dan marketplace, sementara literasi finansial mendukung UMKM agar berkelanjutan.

Momentum seminar ini juga bertepatan dengan Hari Literasi Internasional. Aminudin menyinggung peran kecerdasan buatan (AI) yang bermanfaat bagi pendidikan dan bisnis, tetapi tetap terbatas. “Tanpa manusia yang menulis dan memberi pengetahuan, AI tidak bisa berjalan. Jadi, literasi manusia tetap menjadi dasar,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menuturkan bahwa literasi berkontribusi nyata dalam pembangunan sosial-ekonomi. Tingkat literasi yang tinggi dapat menurunkan kemiskinan, memperkecil kesenjangan sosial, memperluas pilihan pekerjaan, meningkatkan produktivitas, serta menumbuhkan partisipasi komunitas. 

“Sebaliknya, rendahnya literasi berdampak pada rendahnya kompetensi, upah, dan tingginya biaya sosial untuk penanggulangan masalah kesehatan maupun kriminalitas,” paparnya. 

Kegiatan KKN ini juga memamerkan hasil program dalam empat klaster, di antaranya Literasi Perpusnas, Ekonomi Kreatif, Ekonomi Biru, dan Ekonomi Hijau. Aminudin Aziz menekankan bahwa kreativitas merupakan tingkat tertinggi kecakapan literasi. 

“Dari desa pesisir hingga agraris, literasi bisa menjadi dasar inovasi produk, pengelolaan hasil laut, pertanian organik, hingga branding UMKM. Semua itu bermula dari literasi,” ujarnya. 

Melalui kemitraan dengan 22 perguruan tinggi di 16 provinsi, Perpusnas menargetkan 1.000 desa menjadi lokus KKN Tematik Literasi 2025–2029. “Kami menjadikan program ini sebagai prioritas nasional. Perpustakaan hadir bukan sekadar tempat buku, tetapi sebagai pusat literasi, kreativitas, dan pengembangan ekonomi berkelanjutan,” pungkasnya. 

Program KKN Tematik Literasi tahun ini melibatkan 504 mahasiswa UNRAM di 50 desa. Sejumlah kisah lapangan mengemuka, seperti desa Puyung yang membentuk pondok literasi sebagai pusat belajar sekaligus ketahanan pangan dengan dukungan 1.000 benih ikan di kolam bawah pondok, atau desa Jagaraga yang masih perlu perbaikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) agar lebih representatif. Aminudin Aziz mengapresiasi kreativitas mahasiswa sekaligus mencatat desa-desa yang perlu ditindaklanjuti dengan pemantauan dari Perpusnas.

Selain Aminudin Aziz, seminar ini juga menghadirkan Sukartono dari Universitas Mataram, serta Tri Wahyu Hardaningrum dari Universitas Negeri Malang. Kegiatan berlangsung dalam sesi pleno, dilanjutkan dengan presentasi makalah paralel dari peserta seminar.

 

Reporter: Alditta Khoirun Nisa 

Dokumentasi: Gilang Arwin

 

 

Galeri