Literasi dan Inspirasi: Bedah Buku “Visi Anak Pasar” Hadirkan Kisah Perjuangan E. Aminudin Aziz
Surabaya - Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) dan Pemerintah Kota Surabaya menggelar bedah buku bertajuk “Visi Anak Pasar: Catatan Kecil Kehidupan E. Aminudin Aziz” bertempat di Four Points by Sheraton, kegiatan ini tidak hanya menjadi panggung literasi, tetapi juga mengangkat peran strategis sang penulis di kancah global, Jumat (5/12/2025).
Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz menyampaikan latar belakang penulisan buku yang ia sebut sebagai warisan bagi keluarganya. “Awalnya, tulisan ini adalah hasil obrolan saya dengan anak-anak di meja makan. Saya kerap menceritakan perjuangan hidup yang sulit di masa kecil,” ungkapnya.
Dalam bukunya, Kepala Perpusnas memaparkan bahwa ia berasal dari keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan, namun beruntung dibiayai penuh oleh negara melalui beasiswa sejak SD hingga S3, sesuai amanat Pasal 34 UUD 1945.
“Saat menempuh studi doktoral di Australia, saya harus berjualan bakso dan menyewakan kamar kontrakan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Dari pengalaman itu saya belajar tentang ketekunan dan prinsip integritas. Karena itu, saya tidak memberikan fasilitas jabatan kepada anak-anak saya, agar mereka mampu menempuh perjuangan hidup secara mandiri,” tuturnya.
Melalui buku setebal 422 halaman yang ia rampungkan dalam waktu satu tahun, seluruhnya ditulis di waktu luang di luar jam kerja. Karena itu, Aminudin Aziz menyampaikan tiga pesan utama yang mendalam. Pertama, ia berpesan kepada anak-anak yang kurang mampu untuk tidak merasa minder, melainkan menggapai cita-cita melalui jalur perjuangan yang benar.
Kedua, ia menekankan bahwa kesuksesan tidak terlepas dari doa dan dukungan orang tua, guru, serta keluarga, sehingga jasa mereka tidak boleh dilupakan. Ketiga, Aminudin Aziz menyerukan kepada pimpinan dan orang tua untuk tidak memberikan komentar negatif kepada anak yang kritis, sebab pemikiran kritis justru memberikan inspirasi dan menantang untuk berpikir.
“Semangat perjuangan, optimisme, dan integritas ini adalah pesan yang ingin saya sampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya generasi muda,” pungkasnya.
Sekretaris Daerah Kota Surabaya, Lilik Arijanto mengatakan dalam sambutannya Kegiatan bedah buku seperti ini menjadi sangat penting. Sebagai salah satu cara untuk memberikan ruang dalam rangka menghidupkan kembali kecintaan pada membaca, mendorong dialog, dan menumbuhkan kebiasaan berpikir kritis.
“Buku Visi Anak Pasar yang dibahas dalam acara hari ini adalah contoh nyata bagaimana sebuah kisah dapat menjadi inspirasi dan motivasi. Kisah ini mengangkat perjalanan, perjuangan, dan visi besar dari lingkungan pasar yang sederhana namun sarat makna, membentuk karakter kuat, keberanian bermimpi, serta ketekunan untuk bangkit,” ujarnya
Dalam sesi bedah buku, Dosen sekaligus Pegiat Literasi Nasional, Sutejo menuturkan mendapatkan beberapa pemaknaan dari buku “Visi Anak Pasar”. Dalam kisah hidupnya, Aminudin Aziz dikenal sebagai anak yang berbakti kepada ayahnya, Pak Muslih.
Sang ayah yang berprofesi sebagai penjahit kerap mengisi malam dengan bercerita tentang tokoh-tokoh Indonesia. Salah satu yang dikagumi adalah karya novelis Hamka berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Dari kebiasaan bercerita itulah muncul inspirasi besar, yang lahir dari komunikasi hangat antara seorang ayah dan anak-anaknya.
“Kalau ingin belajar yang utuh dan relatif sempurna bacalah buku “Visi Anak Pasar” dari Prof. E. Aminudin Aziz,” terangnya
Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Puji Retno menyampaikan apresiasi mendalam selaku pembedah buku. Ia menyoroti bagaimana karya tersebut mampu memantik semangat literasi dari hal-hal yang sering kali luput dari perhatian.
“Visi besar bisa hadir dari tempat paling sederhana,” tutupnya
Reporter: Ahmad Kemal Nasution
Dokumentasi: Prakas Agrestian
Galeri








