Literasi Keluarga, Bangun Ketahanan Diri di Era Digital Sejak Dini

Gallery image

Literasi Keluarga, Bangun Ketahanan Diri di Era Digital Sejak Dini

Jakarta - Humas Perpusnas, Ketua Dharma Wanita Persatuan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) Teti Aminudin Aziz memaparkan aspek-aspek literasi keluarga yang berkaitan langsung dengan kesehatan mental. Ia menekankan, komunikasi efektif yang dibiasakan sejak dini, pengelolaan emosi yang sehat, kemampuan mengelola stres dan strategi koping yang efektif, hubungan interpersonal yang sehat antaranggota keluarga, serta pengembangan diri merupakan aspek yang dimaksud.

Ia meyakini, manfaat literasi keluarga dirasakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. “Literasi keluarga dapat meningkatkan kesehatan keluarga, mengembangkan keterampilan, dan memperkuat hubungan. Bahkan hal sederhana seperti melihat resep di YouTube, mempraktikkannya di rumah, lalu berkembang menjadi usaha, merupakan contoh bagaimana literasi memberi dampak langsung pada kesejahteraan keluarga,” ungkapnya dalam Webinar Nasional Seri Minat Baca #31 yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (PP GPMB), Sabtu (31/1/2026).

Selain literasi keluarga, Teti juga menekankan pentingnya empati sosial, yang menurutnya harus ditanamkan pertama kali di lingkungan keluarga. “Empati sosial perlu dibangun dari rumah sebelum dibawa ke lingkungan yang lebih luas. Anak perlu dibiasakan berkomunikasi, mengembangkan hubungan, dan memiliki kesadaran sosial sejak dini,” tuturnya.

Menanamkan empati kepada anak, lanjutnya, akan membentuk pribadi yang lebih peduli terhadap orang lain sehingga dapat mengurangi konflik, meningkatkan kualitas hubungan, serta menumbuhkan kesadaran sosial di masyarakat.

Acara yang mengangkat tema ‘Membangun Ketahanan Diri dan Kepedulian Kemanusiaan di Tengah Tekanan Zaman,’ ini menghadirkan Alumni Magister Counselling University of Edinburgh Rin Aziz.Ia mengutip hasil penelitian dari kalangan akademisi di Harvard yang menunjukkan betapa sulitnya manusia modern untuk benar-benar berdiam diri. 

“Ada penelitian yang menemukan bahwa ketika seseorang diminta duduk sendirian di ruangan tanpa melakukan apa pun selama 15 menit, banyak yang justru merasa gelisah. Bahkan, sebagian memilih menekan tombol yang memberi kejutan listrik, daripada harus diam bersama pikirannya sendiri,” tuturnya.

Ia mengaku, kesulitan tersebut bukan terletak pada diamnya, melainkan pada apa yang hadir bersama keheningan. “Saat kita diam, muncul pertanyaan-pertanyaan eksistensial, seperti siapa aku, apa arti hidup, mengapa dunia seperti ini. Banyak orang lebih memilih sesuatu yang pasti meski menyakitkan, daripada harus berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan itu,” ujarnya.

Kehampaan baginya justru dapat berkurang ketika manusia memberi ruang pada pencarian makna. “Kemampuan mengambil jeda di era serba cepat ini adalah sebuah privilege (hak istimewa -red). Tidak semua orang bisa, dan tidak semua orang membutuhkannya. Yang terpenting adalah ketahanan diri,” katanya.

Dalam paparannya, Rin Aziz membagikan sejumlah strategi praktis membangun ketahanan diri. Langkah pertama adalah menyadari emosi. “Kita perlu belajar menyadari emosi dengan melatih joy of missing out (JOMO) dan membiasakan diri untuk tidak selalu bergantung pada ponsel,” terangnya.

Strategi berikutnya adalah bersikap mindful atau penuh kesadaran dalam menggunakan teknologi. “Cobalah memeriksa akurasi informasi, mengalokasikan waktu untuk digital atau dopamine detox, mengatur batasan penggunaan, dan menerapkan waktu tanpa layar,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menyeimbangkan kehidupan digital dengan interaksi tatap muka. “Relasi dengan orang-orang di sekitar memberi rasa pemenuhan. Bergabung dengan komunitas sesuai minat, memperbanyak aktivitas bebas layar seperti olahraga dan membaca buku, serta mengisi waktu dengan hal-hal sederhana yang bermanfaat, akan menumbuhkan empati sosial dan kemampuan literasi,” tuturnya.

Baginya, membaca buku fisik memiliki keunikan tersendiri. “Ketika kita membaca buku secara fisik, kita terhubung secara mental dan juga fisik. Itu pengalaman yang berbeda dibandingkan membaca di layar,” katanya.

Ketahanan diri tidak selalu tercipta dari rutinitas yang produktif, imbuhnya, tetapi juga tumbuh dari kemampuan mengambil jeda, dan perlunya tahu kapan harus bergerak cepat dan kapan harus melambat. Rin Aziz pun mengajak peserta untuk tidak takut pada kebosanan. “Cobalah duduk bersama rasa bosan, dan biarkan apa pun yang ada di dalam diri dan di sekitar kita hadir,” pesannya.

Ketua II PP GPMB sekaligus Dosen PGPAUD Universitas Muhammadiyah Jakarta, Adiyati Fathu R, menegaskan bahwa kesehatan mental tidak muncul secara tiba-tiba saat seseorang beranjak remaja atau dewasa, melainkan dibentuk sejak usia dini. 

Ia mengungkapkan bahwa sejumlah persoalan kesehatan mental sudah dapat terlihat sejak usia dini, seperti anak yang mudah cemas, tantrum berlebihan, kurang empati, kesulitan mengelola marah dan cemas, hingga rendahnya kemampuan fokus dan regulasi diri. “Kesehatan mental tidak muncul tiba-tiba. Ia dibentuk dari rasa aman, dipahami, dan diterima. Jika fondasi ini rapuh, maka persoalan kesehatan mental akan muncul pada tahap perkembangan berikutnya,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Adiyati Ia kemudian memaparkan tahapan pembangunan kesehatan mental anak sejak 0-8 tahun usia dini secara konkret dan aplikatif. Menurutnya, kesehatan mental pada anak usia dini bukan berarti anak tidak pernah menangis. “Anak yang sehat secara mental adalah anak yang mampu mengenali emosinya, merasa aman secara psikologis, mampu berelasi sehat dengan lingkungannya, serta mampu menenangkan diri dengan bantuan orang dewasa,” ujarnya.

Adiyati menekankan bahwa literasi emosi, literasi sosial, dan literasi empati merupakan kemampuan memahami diri sendiri, orang lain, dan situasi, yang menjadi bekal utama kesehatan mental. Media yang dapat digunakan untuk membangun kesehatan mental anak, disebutkannya, antara lain buku cerita, kartu emosi, boneka, wayang, hingga video edukatif, dengan metode emotion coaching dan story-based reflection. 

“Literasi membantu anak menamai emosi sebagai dasar regulasi diri, memahami sebab-akibat, dan mengenali perasaan. Anak belajar dari cerita, dari sanalah empati tumbuh,” katanya. “Anak tidak belajar kesehatan mental dari nasihat, tetapi dari relasi sehari-hari. Orang dewasa adalah kunci. Jika kita ingin masyarakat yang sehat mental dan peduli, maka pekerjaan kita tidak dimulai saat dewasa, tetapi sejak anak usia dini,” pungkasnya.*** (AKN/Ed.DRS/Dok.AKN)

Galeri