Melalui Digitalisasi Naskah Kuno Batak, Perpusnas Dorong Kolaborasi Lintas Negara dan Keilmuan

Gallery image

Melalui Digitalisasi Naskah Kuno Batak, Perpusnas Dorong Kolaborasi Lintas Negara dan Keilmuan

Jakarta. Humas Perpusnas– Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) E. Aminudin Aziz didampingi Deputi Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Suharyanto, menerima audiensi Direktur Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV), Marrik Bellen dan peneliti independen, Mery Damanik Ambarita. Pertemuan tersebut dalam rangka perkembangan kerja sama digitalisasi naskah kuno khususnya naskah kuno Batak, baik naskah yang ada di Perpusnas dan naskah yang ada di Perpustakaan Universitas Leiden, pada Senin (7/9/2026).

 

Marrik Bellen menjelaskan kerja sama yang telah dimulai sejak September 2023 ini bertujuan membuka akses digital seluas-luasnya terhadap naskah Nusantara. Selain itu, ia menyebutkan, untuk melihat apakah model yang dikembangkan dapat menjadi landasan (pilot project) bagi proyek-proyek digitalisasi naskah-naskah Nusantara berikutnya. 

“Tujuannya adalah digital accessibility, bukan repatriasi. Naskah yang telah didigitalisasi nantinya dapat diakses secara daring melalui International Image Interoperability Framework (IIIF). Dengan demikian, masyarakat, peneliti, maupun pihak lain dapat mengakses koleksi digital tersebut tanpa harus berada di lokasi penyimpanan naskah,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengembangan akses digital tersebut tidak hanya melibatkan Perpusnas dan Universitas Leiden. Sejumlah institusi lain yang telah melakukan digitalisasi naskah kuno Batak, seperti British Library serta lembaga di Hamburg dan Berlin, juga berpotensi terhubung dalam ekosistem digital yang sama melalui IIIF.

“Tidak hanya Perpustakaan Nasional dan Universitas Leiden saja tapi juga pihak yang lain yang sudah melakukan digitalisasi naskah kuno Batak. Misalnya British Library atau yang di Hamburg atau Berlin, atau di tempat yang lain yang sudah menggunakan IIIF itu nanti bisa bergabung menjadi satu kampus yang terbesar di dunia secara daring tentang naskah kuno Batak,” ungkap Bellen.

Sementara itu, Mery Damanik Ambarita menyampaikan pentingnya pendampingan filolog dalam proses digitalisasi naskah kuno Batak. Tujuannya, proses digitalisasi tidak hanya menghasilkan salinan dalam bentuk digital, tetapi juga mempertahankan konteks, struktur, dan urutan naskah sebagaimana bentuk aslinya.

“Naskah kuno Batak umumnya menggunakan lembaran kulit kayu dan ada yang dilipat-lipat menyerupai akordeon. Tulisan dapat ditemukan pada bagian depan maupun belakang lembaran tersebut dan biasanya lapis pertama diisi, baru lapis belakang diisi lagi. Sehingga diperlukan keahlian khusus seorang filolog untuk menentukan bagian mana yang menjadi halaman atau bagian pertama dan bagaimana urutan naskah selanjutnya,” urai Mery.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Perpusnas menyampaikan digitalisasi naskah merupakan pekerjaan berkesinambungan yang membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, terutama antara filologi dan teknologi. Demikian juga kolaborasi dengan bidang keilmuan lainnya untuk memastikan proses digitalisasi hingga pemanfaatan naskah berjalan dengan baik.

“Pekerjaan mendigitalisasi, kemudian mentransliterasi, menerjemahkan, dan kemudian memanfaatkannya, ini adalah pekerjaan yang harus berkesinambungan. Tidak boleh berhenti di satu sisi, satu titik, setelah didigitalisasi, that's the end of the story,” tuturnya.

Ia menyebutkan, koleksi naskah kuno Batak tersebar di sejumlah lembaga merupakan potensi yang besar untuk dikembangkan di mana sekitar 320 naskah berada di Leiden, Belanda. Sementara, sekitar 176 naskah berada Perpusnas. Selain itu, Museum Negeri Sumatera Utara di Medan memiliki sekitar 200 naskah.

Ia berharap proyek digitalisasi naskah kuno Batak yang sedang dikembangkan dapat menjadi titik awal bagi terbentuknya kolaborasi yang lebih luas. Proyek tersebut dapat menjadi pilot project sekaligus milestone untuk membuktikan bahwa pekerjaan bersama lintas keilmuan dapat memberikan manfaat nyata.

Deputi Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, menyampaikan terdapat 176 naskah kuno Batak yang dimiliki Perpusnas. Sebanyak 113 naskah di antaranya merupakan naskah non kertas yang menggunakan bahan kulit kayu.

“Berdasarkan hasil pengelolaan dan verifikasi, sebanyak 36 naskah kuno Batak telah tersedia dalam pangkalan data (Khastara). Sementara itu, sebanyak 24 naskah telah melalui proses verifikasi dan dikerjakan kembali untuk melengkapi serta memastikan informasi koleksi,” jelasnya.

 

Ia menambahkan dari keseluruhan proses tersebut, sebanyak 22 naskah kuno Batak saat ini telah dapat diakses. Hal ini menjadi bagian dari upaya Perpusnas dalam memperluas akses masyarakat terhadap naskah Nusantara sekaligus menjaga keberlangsungan pengetahuan dan budaya yang terkandung di dalamnya. (AL/Ed:Drs/Dok:KN).

 

Galeri