Melestarikan Manuskrip Nusantara, Konservasi dan Alih Media Masih Jadi Tantangan Perpusnas

Gallery image

Melestarikan Manuskrip Nusantara, Konservasi dan Alih Media Masih Jadi Tantangan Perpusnas

Jakarta - Humas Perpusnas, Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz menyampaikan bahwa Perpusnas saat ini mengelola naskah nusantara, baru sebagian kecil dari total naskah terdata. Sementara sebagian besar masih tersebar di masyarakat dan menghadapi tantangan konservasi. 

“Dari sekitar 128 ribu naskah yang tercatat, yang berada di Perpusnas hanya sekitar 13 ribu. Sebagian sudah dikonservasi, tetapi sebagian lainnya masih dalam kondisi rusak. Alih media tidak mungkin dilakukan sebelum naskahnya diselamatkan terlebih dahulu,” jelasnya saat menerima audiensi Dompet Dhuafa dalam rangka membahas peluang kolaborasi pelestarian naskah nusantara, Jumat (6/2/2026). 

Menurutnya, keterbatasan anggaran turut memengaruhi upaya pelestarian, khususnya dalam kegiatan konservasi dan pemanfaatan. “Pemotongan anggaran sangat berdampak pada pelestarian naskah, padahal animo masyarakat untuk mendaftarkan naskah meningkat. Ini menjadi tantangan serius bagi kami sebagai pengelola,” tuturnya.

Meski demikian, Perpusnas terus mendorong pemanfaatan naskah untuk penguatan literasi publik, termasuk melalui adaptasi ke bahan bacaan anak. “Kami memanfaatkan naskah menjadi komik dan bahan bacaan anak agar dapat dibaca generasi muda. Tahun ini hasilnya akan didistribusikan ke perpustakaan desa,” terangnya.

Lebih lanjut, Kepala Perpusnas juga membuka peluang kolaborasi lintas bidang, mulai dari preservasi hingga kajian filologi. “Peluang kerja sama sangat terbuka, baik dalam konservasi, transkripsi, translasi, maupun pemanfaatan naskah. Dengan kehadiran para filolog dan pemangku kepentingan, kita bisa mulai dari berbagai titik,” ungkapnya.

Pada kesempatan  itu, Anggota Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika (YDDR) Yudi Latif menekankan pentingnya manuskrip sebagai bukti tradisi intelektual bangsa sekaligus peluang kerja sama pemanfaatan pengetahuan. “Bangsa ini memiliki tradisi tulis yang panjang. Manuskrip menunjukkan kekayaan pengetahuan yang luar biasa, namun sering kali belum dapat kita akses atau manfaatkan secara maksimal,” ucapnya.

Ia menilai keterbatasan akses, bahasa, dan kemampuan membaca naskah menjadi tantangan utama yang perlu diatasi bersama. “Sering kali kita kehilangan jejak pengetahuan tradisional karena tidak mampu membaca atau menuliskannya kembali. Padahal manuskrip menyimpan banyak referensi penting yang relevan bagi kehidupan masa kini,” sebutnya.

Yudi mendorong pengelolaan manuskrip berbasis tema agar lebih mudah dimanfaatkan publik, sekaligus membuka ruang kolaborasi lintas sektor. “Manuskrip perlu disusun secara tematik, misalnya terkait demokrasi, filantropi, ekologi, atau kesejahteraan sosial. Melalui kolaborasi, mulai dari digitalisasi hingga diseminasi, manuskrip dapat diaktifkan kembali menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat,” ungkapnya.

Kesiapan Dompet Dhuafa juga dinyatakannya, mendukung pemanfaatan manuskrip melalui jejaring komunikasi dan kegiatan publik. “Kami memiliki jejaring sosial dan kanal komunikasi yang luas yang dapat menjadi ruang kolaborasi untuk mengangkat kembali manuskrip agar lebih dikenal dan dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.

Merespon Yudi, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, memaparkan capaian pengelolaan manuskrip hingga akhir 2025. “Hingga 31 Desember 2025, pengelolaan manuskrip mencapai 13.430 naskah. Sekitar 10.610 judul telah diproses, sementara secara keseluruhan, baik di Perpusnas maupun di luar, pengelolaan mencakup 11.790 manuskrip,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, Perpusnas terus memperkuat pemanfaatan manuskrip melalui kegiatan edukatif kepada masyarakat. “Kami juga menyelenggarakan kelas Kurasi Aksara Nusantara sepanjang tahun lalu dengan melibatkan pengajar dari lingkungan Perpusnas. Program ini berlanjut tahun ini dan dilaksanakan setiap Sabtu dan Minggu sebagai bagian dari upaya peningkatan pemahaman masyarakat terhadap naskah nusantara,” pungkasnya. 

Pertemuan turut dihadiri oleh Staf Ahli Menteri Kebudayaan Ismunandar, Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Republika Ahmad Juwaini, dan Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Pusat untuk periode 2025-2029 Agus Iswanto. *** (AKN/Ed.DRS/Dok.AA)

Galeri