Menelusuri Jejak Peradaban Merapi Merbabu, Perpusnas Akan Inventarisir 400 Naskah Kuno
Jakarta - Humas Perpusnas. Upaya mengungkap kembali jejak peradaban menjadi fokus audiensi antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas). Peluang kerja sama pun terjalin di kedua pihak. Perpusnas dan Pemkab Magelang sepakat akan mendukung pelestarian, digitalisasi, penelitian, serta pemanfaatan manuskrip Merapi Merbabu sebagai sumber pengetahuan dan penguatan literasi berbasis sejarah lokal.
Audiensi yang berlangsung pada Selasa (7/7/2026) dihadiri Bupati Magelang, Grengseng Pamuji beserta jajaran dan diterima Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto.
Bupati Magelang mengatakan daerahnya menyimpan banyak peninggalan sejarah yang berkaitan dengan peradaban Merapi Merbabu. Namun, sebagian manuskrip belum terdokumentasi secara utuh sehingga diperlukan dukungan Perpusnas untuk menelusuri, melakukan digitalisasi, hingga menerjemahkan naskah tersebut.
"Kami berharap manuskrip-manuskrip itu dapat diterjemahkan sehingga menjadi bagian dari pengetahuan generasi masa depan tentang sejarah panjang Magelang. Jika ada koleksi yang berada di luar daerah maupun luar negeri, kami juga berharap hasil penelitian atau salinan digitalnya dapat dihadirkan sebagai bahan publikasi dan koleksi perpustakaan daerah," ujarnya.
Menanggapi hal itu, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi menjelaskan, Perpusnas terus mengembangkan program pengarusutamaan naskah nusantara melalui digitalisasi, alih aksara, hingga alih wahana menjadi komik, buku bacaan anak, dan film animasi agar lebih dekat dengan masyarakat.
"Kami ingin naskah nusantara tidak hanya tersimpan sebagai koleksi, tetapi juga hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda," katanya.
Dalam diskusi lanjutan, Perpusnas juga menyampaikan akan inventarisir sekitar 400 naskah kuno Merapi Merbabu untuk memetakan koleksi yang telah didigitalisasi maupun yang masih memerlukan proses digitalisasi. Pemkab Magelang juga dapat mengusulkan naskah tertentu untuk diprioritaskan sesuai kebutuhan pelestarian dan pengembangannya.
Perpusnas menilai pelestarian manuskrip tidak cukup hanya menghadirkan salinan digital, tetapi juga membangun narasi yang mampu menghidupkan kembali nilai sejarah di balik setiap naskah.
"Sekarang yang penting itu narasi. Cara menarasikan kita, penekanan pada narasi akan menggugah perhatian masyarakat. Mungkin nanti di desa kita hidupkan narasi-narasi ini," jelas Ketua Kelompok Kerja Pengelolaan Naskah Nusantara, Aditia Gunawan.
Oleh karena itu, kedua pihak mendorong agar kekayaan intelektual Merapi Merbabu dimanfaatkan melalui penelitian, pameran, festival budaya, diskusi, hingga bahan ajar yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Sebagai tindak lanjut, Perpusnas membuka peluang kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Magelang, Bidang Riset & Inovasi Daerah (BAPPERIDA), Dinas Kebudayaan, perguruan tinggi, serta para filolog dan peneliti untuk mengembangkan riset, digitalisasi, dan diseminasi Naskah Merapi Merbabu agar warisan intelektual tersebut semakin dikenal dan dimanfaatkan masyarakat luas. *** (SA/Ed:DRS/Dok:AKN)
Galeri









