Menjaga Akar, Merawat Tunas: Merawat Gagasan Bung Hatta di Tengah Generasi yang Terus Bertumbuh
Bukittinggi – Humas Perpusnas. Bagaimana cara mengenalkan Bung Hatta kepada generasi yang lahir jauh setelah Sang Proklamator tiada?
Pertanyaan itu mengemuka dalam Dialog Khusus Pekan Literasi Bung Hatta 2026 yang mengudara langsung dari RRI Bukittinggi Programa 4, Senin (10/8/2026). Bukan sekadar mengenang seorang tokoh sejarah, dialog tersebut menjadi ruang untuk melihat kembali gagasan dan keteladanan Bung Hatta, sekaligus mencari cara agar nilai-nilai tersebut tetap tumbuh di tengah generasi muda.
Dialog yang diselenggarakan atas kerja sama UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta dengan RRI Bukittinggi ini menghadirkan Kepala Perpustakaan Nasional RI, E. Aminudin Aziz, Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis, dan Gusrizal Dt. Salubuak Basa.
Suasananya mungkin sederhana: sebuah studio radio, mikrofon, dan percakapan yang mengalir. Namun, dari ruang itulah lahir percakapan tentang satu pertanyaan besar: apa yang sebenarnya harus diwariskan dari Bung Hatta kepada generasi hari ini?
Bagi Gusrizal Dt. Salubuak Basa, salah satu jawabannya adalah keteladanan.
Bung Hatta memang dikenal sebagai Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Namun, lebih dari itu, ia adalah sosok guru bangsa yang meninggalkan contoh mengenai kejujuran, kesederhanaan, dan keteguhan prinsip.
Di tengah zaman ketika figur publik begitu mudah berganti dan teladan sering kali tenggelam di antara derasnya informasi, Gusrizal melihat Bung Hatta masih relevan untuk diperkenalkan kembali. “Kejujuran” menjadi salah satu nilai yang menurutnya tidak boleh hilang dari ingatan generasi muda.
Bung Hatta juga meninggalkan warisan pemikiran di bidang ekonomi dan demokrasi. Gagasan koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia merupakan salah satu jejak pemikiran yang hingga kini masih relevan untuk dibicarakan.
Karena itu, menurut Gusrizal, media memiliki peran penting untuk terus menghadirkan Bung Hatta dalam ruang publik. Bukan dengan menjadikannya sekadar tokoh masa lalu, tetapi dengan menghadirkan gagasan dan keteladanannya sebagai bahan percakapan generasi masa kini.
Dari perspektif pemerintah daerah, Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis melihat generasi muda sebagai tunas bangsa.
Tunas tidak cukup hanya ditanam. Ia membutuhkan tanah yang baik, air, cahaya, dan perawatan. Begitu pula generasi muda. Mereka membutuhkan pendidikan, ruang tumbuh, lingkungan yang sehat, serta kebijakan yang memberi kesempatan untuk berkembang.
Pemerintah, menurut Ibnu Asis, memiliki tanggung jawab menyediakan ekosistem tersebut melalui kebijakan dan program pembangunan kepemudaan. Ia merujuk antara lain pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan.
Di Bukittinggi, salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah Surau Gemilang. Surau tidak hanya dipandang sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter, tempat anak muda belajar, berinteraksi, dan bertumbuh.
Berbicara tentang Bung Hatta, tentu tidak lengkap tanpa membicarakan koperasi. Menurut Ibnu Asis, koperasi perlu terus dibangun dengan wajah yang lebih modern dan solutif. Semangat yang diwariskan Bung Hatta bukan sekadar mempertahankan bentuk koperasi, melainkan menghadirkan ekonomi yang menjawab persoalan nyata masyarakat.
Percakapan kemudian sampai pada Kepala Perpustakaan Nasional RI, E. Aminudin Aziz. Ada satu hal sederhana dari perjalanan hidup Bung Hatta yang menurutnya patut mendapatkan perhatian lebih, yaitu kegemarannya membaca.
Aminudin Aziz mengimbau para pemuda untuk mempelajari perjalanan hidup Bung Hatta. Menurutnya, tak sedikit tokoh-tokoh besar yang dimiliki negeri ini, itu mempunyai perjalanan hidup yang unik.
Begitu juga dengan Bung Hatta. Bung Hatta pada masa kecilnya tetaplah seorang anak, yang pernah melakukan kenakalan. Namun kenakalan ini bukanlah yang bersifat fatal dan tetap terukur. Menginjak remaja, sang proklamator mulai menunjukkan karakternya yang tetap memegang prinsip-prinsip yang dipelajari dan diyakininya. Salah satu yang bisa diteladani dari Bung Hatta adalah kegemaran membacanya. Hal ini berimplikasi dengan tusi yang dijalankan Perpustakaan Nasional.
Bagi Perpustakaan Nasional, kegemaran membaca Bung Hatta menghadirkan sebuah tantangan sekaligus harapan: bagaimana perpustakaan hari ini dapat ikut melahirkan “Hatta-Hatta” di masa kini? Jawabannya tidak sederhana.
Menurut Aminudin Aziz, membangun budaya baca tidak cukup hanya dengan menyediakan buku. “Ekosistemnya harus bekerja bersama. Penulis perlu memahami kebutuhan pembaca. Penerbit perlu menghadirkan bacaan yang relevan. Sementara perpustakaan harus mampu mempertemukan masyarakat dengan bahan bacaan yang tepat,” urainya.
Dengan kata lain, ia berpesan, perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku. Ia adalah ruang yang memungkinkan gagasan bertemu dengan manusia.
Tema Pekan Literasi Bung Hatta 2026 “Menjaga Akar, Merawat Tunas, Mewarisi Pemikiran Bung Hatta”, pada akhirnya bukan ajakan untuk terus hidup di masa lalu. Akar justru diperlukan agar pohon dapat tumbuh ke arah baru.
Bung Hatta adalah akar. Nilai kejujuran, kesederhanaan, ketekunan, demokrasi, koperasi, dan kegemarannya membaca merupakan bagian dari warisan yang perlu dirawat. Sementara generasi muda adalah tunas yang akan tumbuh dengan tantangan zamannya sendiri.
Gusrizal kembali menegaskan pentingnya kejujuran. Ibnu Asis mengingatkan pada kesederhanaan Bung Hatta melalui penggalan makna lagu Hatta karya Iwan Fals. Sementara Aminudin Aziz menekankan dua nilai yang tak kalah penting: integritas dan ketekunan.*** (JDP/Ed: DRS/Dok: AP, KF)
Galeri







