Merawat Api Literasi, Merawat Sumpah Pemuda

Gallery image

Merawat Api Literasi, Merawat Sumpah Pemuda

Salemba, Jakarta - Sumpah Pemuda yang dideklarasikan pada 28 Oktober 1928 lahir dari kesadaran para pemuda yang berorganisasi, berdiskusi, dan budaya literasi.

 

Demikian disampaikan Pustakawan Ahli Utama (Pustama) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Abdullah, saat memberikan sambutan apel pagi, Senin (27/10/2025).

 

Ia menyampaikan bahwa pengakuan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan adalah pilar utama Sumpah Pemuda. Dengan komunikasi dan pertukaran ide diantara para pemuda dari berbagai suku, etnis, dan daerah merupakan sarana mutlak membangun kesadaran kebangsaan. 

 

“Diskusi dan perdebatan yang mengarah pada Kongres Pemuda Kedua adalah wujud nyata dari literasi para pemuda saat itu. Mereka membaca, menulis, berdiskusi, dan bertukar pikiran untuk merumuskan cita-cita bersama,” jelasnya.

 

Pada kesempatan ini, Abdullah juga menyoroti peran generasi muda untuk membangun karakter kebangsaan melalui literasi. Menurutnya, di era digital ini diperlukan literasi yang kritis untuk menangkal hoax dan menyebarkan informasi positif. “Generasi muda dapat mengamalkan semangat Sumpah Pemuda dengan meningkatkan literasi dan kesadaran akan nilai kebangsaan, seperti cinta tanah air dan disiplin,” imbuhnya. 

 

Pada kesempatan ini, Abdullah juga menyampaikan bahwa peningkatan literasi menjadi kunci untuk melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing global. Literasi, terutama literasi digital, menurutnya memungkinkan generasi muda untuk berpartisipasi aktif menciptakan karya inovatif dan mengelola informasi dengan bijak.

 

Selain itu, generasi muda dapat melakukan berbagai upaya untuk meneruskan semangat Sumpah Pemuda, antara lain dengan memperdalam pengetahuan melalui gerakan membaca dan menulis, berdialog dan berjejaring untuk membangun relasi dan memperkuat persatuan, serta menumbuhkan sikap menghargai keberagaman.

 

“Literasi bukan sekedar kemampuan membaca dan menulis melainkan juga sebuah cara untuk merefleksikan, mengamalkan, dan mewujudkan cita-cita persatuan yang diikrarkan oleh para pemuda. Meningkatkan literasi adalah cara terbaik bagi generasi muda hari ini untuk menghormati dan meneruskan warisan Sumpah Pemuda,” pungkasnya. 

 

 

Reporter: Gilang Arwin Saputri

Galeri