Miliki Fungsi Pelestarian Khasanah Budaya Bangsa, Perpusnas Hadir di Indonesian Cultural Outlook 2026

Gallery image

Miliki Fungsi Pelestarian Khasanah Budaya Bangsa, Perpusnas Hadir di Indonesian Cultural Outlook 2026

Jakarta-Indonesian Cultural Outlook 2026: Living Heritage, Shared Future baru saja selesai digelar. Acara tersebut yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia pada Senin, (19/1/2026). Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) turut hadir, diwakili Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Suharyanto.

Ia menyampaikan, acara ini memiliki kaitan yang erat dengan Perpusnas sebagai lembaga yang mempunyai fungsi pelestarian koleksi perpustakaan, terutama fungsi pelestarian khasanah budaya bangsa Indonesia.

“Perpusnas telah membawa nama Indonesia menorehkan pelestarian naskah kuno yang telah diakui dunia melalui UNESCO. Berbagai capaian Perpusnas lainnya juga ditorehkan di tingkat global dalam pelestarian naskah kuno sebagai pelestarian budaya nusantara,” ungkapnya. “Selain itu, Perpusnas juga telah melakukan alih wahana ke dalam bentuk bahan bacaan komik dan film animasi yang dapat disebarluaskan dan diakses oleh pemustaka melalui media digital,” tambahnya.

Hal senada juga disampaikan, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon saat membuka acara. Ia menceritakan bahwa sepanjang tahun 2025, Kementerian Kebudayaan mencapai sejumlah capaian signifikan.

Beberapa capaian yang disebutkannya antara lain, pelestarian 1.250 aset budaya melalui kegiatan konservasi dan pendidikan, 53.243 koleksi museum dan warisan budaya yang dilestarikan atau ditangani melalui kegiatan konservasi, peningkatan kunjungan museum dan warisan budaya hingga 4,3 juta orang, serta 110.661 orang terlibat melalui program pemberdayaan masyarakat.

Ia juga memaparkan keberhasilan Indonesia dalam proses repatriasi warisan budaya, termasuk  memulangkan 28.131 fosil koleksi Dubois dari museum di Belanda, termasuk temuan asli Homo Erectus yang dikenal sebagai manusia Jawa.

“Kebudayaan adalah bukan sekadar cerminan masa lalu, melainkan kekuatan hidup yang memiliki kemampuan untuk membentuk masa depan yang makmur dan berkelanjutan,” ujarnya.

“Di Indonesia, kita menempatkan kebudayaan sebagai kekuatan pengikat yang memperkuat dan mempersatukan masyarakat, sumber identitas yang membentuk karakter nasional kita, mesin pertumbuhan yang mendorong inovasi ekonomi dan kemakmuran, serta instrumen strategi diplomasi,” urainya.

“Keberhasilan repatriasi yang telah kita raih membawa tiga makna penting, yakni pemulihan memori kolektif kita, pemulihan posisi Indonesia dalam narasi evolusi manusia, dan rekonsiliasi sejarah dan kedaulatan budaya,” bebernya.

Lebih lanjut, ia menyebutkan lima pilar budaya untuk tahun 2026. Kelima pilar tersebut adalah budaya sebagai fondasi pembangunan nasional; tata kelola budaya yang terintegrasi, digital, dan berbasis data; percepatan ekonomi budaya sebagai sumber daya strategis; penguatan perlindungan warisan budaya yang dinamis dan tangguh, serta memajukan transformasi digital dan diplomasi budaya.

 

Reporter: Anastasia Lily

Editor: Dyah R. Sugiyanto

Dokumentasi: Putu Handira Prawijaya

Galeri