Momen Harkitnas ke 118, Perpunas Pamer 35 Koleksi Buku di Museum Nasional
Jakarta – Humas Perpusnas. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) hadir dalam Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 dan Pembukaan Pameran Temporer di Museum Kebangkitan Nasional, pada Rabu (20/5/2026). Keterlibatan Perpusnas menjadi bukti dukungan terhadap upaya penguatan memori kolektif bangsa melalui penyediaan sumber pengetahuan dan sejarah nasional.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon menegaskan bahwa Kebangkitan Nasional merupakan proses dinamis yang terus relevan hingga saat ini. “Secara filosofis, kebangkitan Nasional merupakan proses dinamis menyesuaikan tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri,” ujarnya dalam selebrasi bertajuk ‘Bangkit dari Sini’.
Ia menekankan bahwa keberagaman justru menjadi kekuatan pemersatu bangsa serta melahirkan tonggak sejarah seperti Sumpah Pemuda 1928 dan Proklamasi 1945. Di tengah dinamika geopolitik global, Fadli Zon mengajak masyarakat untuk menjaga semangat persatuan serta kedaulatan bangsa dan budaya Indonesia.
Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Suharyanto, menyampaikan bahwa Perpusnas berpartisipasi mengikuti pameran temporer, “Terdapat 35 judul buku, khususnya koleksi-koleksi yang terkait dengan Kebangkitan Nasional. Selain itu, ada juga buku tentang tokoh-tokoh ilmuwan yang ditampilkan dalam pameran ini,” urainya.
Suharyanto juga menjelaskan, selain menghadirkan koleksi unggulan, Perpusnas juga terlibat aktif dalam diskusi penyusunan materi pameran bersama Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Menurutnya, keterlibatan tersebut menunjukkan peran Perpusnas sebagai institusi penyedia sumber ilmu pengetahuan sekaligus penjaga sejarah panjang bangsa Indonesia.
“Keterlibatan Perpusnas dalam pameran ini juga selaras dengan semangat institusi, yaitu Perpustakaan hadir demi martabat bangsa,” tandasnya.
Ia menambahkan, Perpusnas tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga ruang belajar dan pengembangan pengetahuan bagi masyarakat. “Masyarakat bisa datang ke Perpustakaan Nasional untuk mengenal lebih jauh sejarah panjang bangsa Indonesia, sekaligus menjadikan koleksi-koleksi tersebut sebagai referensi dan rujukan,” pungkasnya. *** (FM/Ed: DRS/Dok: AA)
Galeri









