Nostalgia Film Pengabdian, Perpusnas Dorong Dokumentasi Dangdut sebagai Warisan Budaya

Gallery image

Nostalgia Film Pengabdian, Perpusnas Dorong Dokumentasi Dangdut sebagai Warisan Budaya

Jakarta — Humas Perpusnas. Lebih dari 40 tahun setelah diproduksi, film Pengabdian kembali diputar. Lebih dari 100 orang menyaksikannya dalam Kelas Literasi Sinema Pemutaran dan Diskusi Film “Pengabdian: Dangdut Menuju UNESCO” di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Selasa (29/9/2026). 

Pemutaran film tersebut tidak sekadar menjadi ruang nostalgia, tetapi juga membuka pembahasan mengenai perjalanan, dokumentasi, regenerasi, dan keberlanjutan dangdut sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia. Kegiatan diselenggarakan Perpusnas dalam rangka Hari Kunjung Perpustakaan Tahun 2026 melalui kolaborasi dengan Persatuan Artis Musik Dangdut Indonesia (PAMDI).

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, menegaskan bahwa perpustakaan saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca dan menghimpun koleksi, tetapi juga sebagai ruang kreativitas, inklusi, dan pertemuan berbagai komunitas. “Perpusnas adalah rumah bagi kita semua, tempat masyarakat belajar, menggali, dan berkreativitas,” ujarnya.

Menurutnya, keterlibatan komunitas penting untuk memperkuat perpustakaan sebagai ruang bertemunya gagasan, karya, dan ekspresi kebudayaan. Kehadiran pelaku dan pencipta musik dangdut di Perpusnas menjadi salah satu bentuk pemanfaatan perpustakaan sebagai ruang komunitas sekaligus apresiasi terhadap karya budaya Indonesia.

Suharyanto menegaskan, Perpusnas mendukung perjalanan dangdut menuju UNESCO melalui kolaborasi pemerintah, seniman, komunitas, akademisi, dan perpustakaan. “Ketika ada kebutuhan, maka kolaborasi akan berlanjut. Itulah kuncinya, bagaimana kita melakukan kolaborasi,” ungkapnya.

Dukungan tersebut juga diwujudkan melalui pemanfaatan koleksi Perpusnas yang berkaitan dengan dangdut. Perpusnas siap mendukung dokumentasi dan penyusunan buku mengenai sejarah dangdut, termasuk melalui keterlibatan pustakawan dalam pengembangan pengetahuan. Upaya tersebut sejalan dengan peran perpustakaan dalam menjaga memori kolektif dan warisan budaya bangsa.

Suharyanto juga menekankan bahwa fasilitas Perpusnas terbuka bagi masyarakat dan komunitas untuk belajar, berdiskusi, berkreasi, serta mengembangkan kegiatan berbasis pengetahuan.

Wakil Ketua Umum PAMDI, Cici Paramida, mengapresiasi Perpusnas yang membuka ruang bagi dangdut untuk tidak hanya didengar, tetapi juga dibicarakan, dikaji, didokumentasikan, dan diwariskan.

Cici berpendapat, dangdut merupakan bagian dari perjalanan masyarakat Indonesia yang terus berkembang mengikuti zaman, dari panggung pertunjukan, radio, dan televisi hingga berbagai platform digital. Karena itu, upaya menuju UNESCO tidak hanya berkaitan dengan pengakuan, tetapi juga memastikan perjalanan, karya, pelaku, sejarah, dan nilai-nilai dangdut tetap terdokumentasi dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Film Pengabdian yang diproduksi sekitar 1984–1985 menghadirkan kembali salah satu bagian dari perjalanan Rhoma Irama dan Soneta. Bagi Rhoma, film tersebut membawa pesan tentang kebaikan dan mencegah kemungkaran, sekaligus menjadi bagian dari perjalanan dangdut sebagai budaya nasional.

Ia mendorong generasi muda untuk berkarya secara jujur dan orisinal, tidak sekadar mengikuti selera pasar. “Menurut saya, kita harus memulai pasar, bukan ikuti pasar,” ungkapnya. Rhoma juga berharap generasi muda terus menjaga keberlanjutan dangdut dan memperluas pengenalannya di tingkat internasional. “Obsesi saya agar dangdut ini go international,” ucapnya.

Selain itu, ia berpesan agar kegiatan bermusik dan menghibur tetap dibarengi nilai dan akhlak yang baik. “Bermusik dan menghibur dengan akhlak mulia,” pesannya.

Sementara itu, Praktisi kebijakan kebudayaan dan etnomusikolog, Mohamad Amin, menilai perjalanan dangdut menuju UNESCO tidak berarti meninggalkan akar masyarakat, tetapi memperluas pengenalannya hingga menjadi identitas Indonesia di panggung internasional. “Dari kampung menuju UNESCO berarti dangdut meluas. Dia masih tetap berada di kampung, di basis-basis masyarakat kita, di akar-akar rumput. Kemudian pada saat yang sama, dia menjadi identitas Indonesia di panggung internasional,” jelasnya.

Amin menilai penguatan komunitas dan figur lokal penting dalam membangun ekosistem musik Indonesia, tanpa harus selalu mengikuti pola industri musik negara lain. Kelas Literasi Sinema dihadiri dan diakhiri dengan penampilan musik dangdut dari para artis PAMDI, di antaranya Mansyur S., Ikke Nurjanah, Caca Handika, dan lainnya. *** (AKN/Ed: DRS/Dok: AIF)

Galeri