Pelestarian Naskah Kuno Menjaga Arah Masa Depan Bangsa
“Mengapa sebuah bangsa harus bersusah payah menyelamatkan lembar demi lembar naskah kuno yang usianya telah mencapai ratusan bahkan ribuan tahun? Mengapa negara harus mengalokasikan sumber daya untuk merawat manuskrip yang mungkin hanya dibaca oleh sedikit orang? Mengapa kita harus datang ke pelosok desa, pesantren tua, keraton, rumah-rumah masyarakat, hanya untuk menyelamatkan beberapa bundel naskah yang tampak usang?”
Jakarta-Humas Perpusnas. Sederet pertanyaan menggelitik itu disampaikan Kepala Pusat Preservasi dan Alih Media Bahan Perpustakaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Tri Luki Cahya Dini, sebagai pembuka amanat Apel Pagi yang berlangsung secara daring, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, pelestarian naskah kuno bukan sekadar menjaga benda bersejarah, melainkan menjaga arah masa depan bangsa. “Karena bangsa yang kehilangan ingatannya akan kehilangan arah masa depannya. Tidak ada bangsa besar yang dibangun tanpa menghargai memori kolektifnya. Tidak ada negara maju yang mampu memimpin peradaban apabila ia melupakan sumber-sumber pengetahuannya sendiri,” tuturnya.
Wanita yang akrab dipanggil Dini ini menambahkan, Indonesia memiliki sumber pengetahuan yang tersimpan, dalam lebih dari seratus ribu naskah kuno Nusantara yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Manuskrip tersebut memuat pengetahuan yang diwariskan oleh para ulama, pujangga, raja, cendekiawan, pelaut, hingga ahli astronomi yang menjadi bagian penting perjalanan peradaban bangsa.
“Naskah kuno bukan sekadar tulisan tangan di atas kertas, lontar, bambu, kulit kayu, atau daluang. Ia adalah laboratorium intelektual bangsa. Ia adalah arsip perjalanan gagasan,” imbuhnya.
Dini juga menegaskan, Perpusnas tidak hanya menjalankan mandat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2027 untuk melestarikan naskah kuno, melainkan jauh lebih luas daripada sekadar menjalankan fungsi administrasi. Pelestarian naskah kuno merupakan upaya menjaga fondasi intelektual dan identitas bangsa.
“Pelestarian naskah kuno tidak boleh lagi dipahami hanya sebagai pekerjaan konservasi. Konservasi, alih media, dan digitalisasi sangat penting sebagai pintu masuk. Tujuan akhirnya adalah menghidupkan kembali pengetahuan Nusantara agar dapat memberi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Sebagai bentuk komitmen, Dini mengatakan Perpusnas telah menginisiasi Gerakan Penyelamatan Naskah Kuno Nusantara sebagai sebuah gerakan nasional yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas, lembaga keagamaan, keraton, lembaga adat, hingga masyarakat pemilik naskah.
“Gerakan ini bukan semata proyek jangka pendek. Ini adalah investasi peradaban. Mungkin hasil pekerjaan kita hari ini tidak langsung terlihat. Mungkin masyarakat belum sepenuhnya menyadari pentingnya pekerjaan yang kita lakukan,” ungkapnya.
Di akhir amanatnya, Dini mengajak seluruh pegawai untuk menyadari bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan merupakan bagian dari misi besar menjaga memori bangsa dan memperkuat posisi Indonesia dalam khazanah ilmu pengetahuan dunia.
“Marilah kita bekerja bukan hanya dengan kecakapan, tetapi juga dengan kesadaran bahwa pekerjaan kita memiliki nilai sejarah,” pungkasnya.*** (GAS/Ed: BS/Dok: SA)






