Penguatan Budaya Literasi Jadi Instrumen Penting Pembangunan Manusia Berkelanjutan
Jakarta - Penguatan budaya literasi menjadi bagian strategis yang tidak dapat dipisahkan dari agenda prioritas nasional. Penguatan budaya literasi tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2025.
Pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul merupakan kunci keberhasilan pencapaian visi Indonesia emas 2045. Dalam visi tersebut kualitas manusia Indonesia menjadi modal utama dalam mendorong kemajuan ekonomi, sosial, dan budaya bangsa.
Untuk itu, literasi tidak lagi dimaknai sebatas kemampuan baca dan tulis, melainkan mencakup dimensi yang lebih luas seperti literasi numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya kewargaan, yang secara bersama-sama membentuk kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan inovatif.
Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Warsito mengatakan, kendati saat ini kita berada di era digital, literasi harus semakin dikuatkan agar anak-anak dapat senantiasa menggali potensi dan critical thinking mereka tetap tajam.
“Perpustakaan keliling di daerah-daerah terpencil secara geografis dan minim jaringan internet ternyata masih hidup dan Perpusnas dalam hal ini andilnya sangat luar biasa,” ucapnya pada kegiatan Rapat Koordinasi Penguatan Budaya Literasi untuk Kreativitas dan Inovasi, Kamis (13/11/2025).
Warsito menekankan literasi adalah fondasi untuk membawa kemajuan bangsa melalui SDM unggul dengan kriteria sehat mental dan fisik, cerdas, produktif, dan berkarakter. Sehingga menurutnya, untuk mewujudkannya membutuhkan dukungan dari kementerian/lembaga lain.
Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Joko Santoso membenarkan bahwa koordinasi dan sinkronisasi program pengembangan budaya literasi, serta pengendalian terhadap program dan kegiatan antar kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Menurutnya, diperlukan sinergi untuk mendukung sasaran penguatan budaya literasi dengan memaksimalkan sinergi dari berbagai pihak.
Dalam rangka menjawab tantangan era digital untuk meningkatkan budaya gemar membaca, Joko pun menerangkan bahwa pihaknya tengah mengubah naskah-naskah nusantara menjadi komik dan animasi.
“Alih wahana berperan penting karena ada perubahan generasi. Generasi muda saat ini lebih suka untuk mendapatkan informasi dalam format multimedia. Untuk menjawab kondisi ini, Perpusnas tengah membuat komik dan animasi yang berasal dari naskah-naskah nusantara. Dengan demikian nilai-nilai kearifan bisa diteruskan ke generasi berikutnya dengan format model yang lebih mereka sukai,” terangnya.
Lebih lanjut, di tengah kondisi efisiensi dan relokasi anggaran, Joko memastikan bahwa Perpusnas tetap mendukung dan melaksanakan program-program peningkatan budaya literasi melalui program prioritas nasional bidang perpustakaan. “Pemetaan program/restrukturisasi program pembangunan perpustakaan menjadi langkah awal untuk mendukung pencapaian dan percepatan dampak peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” pungkasnya.
Reporter: Basma Sartika
Editor: Dyah Sugiyanto
Dokumentasi: Sonia Adelina
Galeri










