Penguatan Komunikasi Kelembagaan dalam Meningkatkan Peran dan Jejaring Perpustakaan Khusus
Jakarta - Tidak hanya sebagai pusat pembelajaran dalam suatu lembaga, perpustakaan khusus berperan strategis dalam membangun budaya baca dan kecakapan literasi, serta mendukung pengambilan keputusan bagi instansi.
Demikian disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Adin Bondar, dalam kegiatan Seminar dan Musyawarah Nasional Forum Perpustakaan Khusus Indonesia yang digelar oleh Dinas Perpustakaan Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Forum Perpustakaan Khusus Indonesia (FPKI), Senin (3/11/2025).
Deputi Adin menyampaikan, di era disrupsi digital masyarakat menghadapi perubahan menuju knowledge-dependent economy, di mana pengetahuan menjadi sumber daya utama dalam ekonomi, tidak hanya tenaga kerja dan sumber daya alam.
“Kita menghadapi perubahan besar, di mana 60 persen pekerjaan mulai terotomatisasi. Dalam konteks ini, pustakawan sebagai penjaga literasi dan pengelola informasi dituntut untuk memiliki kreativitas dalam mengemas dan mendiseminasikan informasi atau pengetahuan secara efektif,” jelasnya.
Pada kesempatan ini, Deputi Adin turut memberikan rekomendasi strategi pengembangan perpustakaan khusus melalui kolaborasi dan partisipasi multi-pihak, serta membangun jaringan informasi dan penguatan regulasi, agar perpustakaan khusus menjadi sarana utama pengambilan kebijakan lembaga.
Senada, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, menyampaikan bahwa perpustakaan khusus menjadi tempat pengetahuan bertumbuh, sumber inspirasi, dan pengambilan keputusan berbasis data dari lembaga.
“Perpustakaan khusus harus menjadi yang terdepan, di mana pimpinan strategis dapat memanfaatkan data di perpustakaan sebagai data yang valid dan memberikan dampak bagi pengambilan kebijakan strategis,” ungkapnya.
Dalam sesi seminar, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Sosial, Cyril Raoul Hakim, mengatakan bahwa saat ini Jakarta memiliki lebih dari 200 perpustakaan khusus, namun interaksi dengan masyarakat masih rendah dan minim kolaborasi antarlembaga. “Kita ingin menjadikan perpustakaan khusus sebagai pusat informasi publik yang hidup dan mudah diakses,” tuturnya.
Pria yang akrab disapa Chico ini memaparkan strategi komunikasi visual dengan membangun narasi publik melalui kampanye #JakartaBaca di media sosial, melibatkan komunitas dalam program rutin, serta mengaktifkan jejaring kelembagaan.
Sementara itu, Pustakawan Ahli Utama Perpusnas, Deni Kurniadi, menyampaikan peran strategis Perpusnas dalam mendorong jejaring perpustakaan khusus. Dalam konteks penguatan jejaring, Perpusnas berfungsi secara komprehensif untuk memastikan setiap jenis perpustakaan dapat terhubung, saling melengkapi, dan tumbuh bersama.
“Peran Perpusnas dalam jejaring meliputi standarisasi layanan, integrasi sistem informasi nasional, pelatihan dan pendampingan teknis bagi tenaga pustakawan sektor khusus, serta berkolaborasi dalam pembinaan perpustakaan khusus melalui Forum Perpustakaan Khusus Indonesia,” tuturnya.
Kegiatan ini juga dirangkai dengan Musyawarah Nasional FPKI yang menetapkan Farli Elnumeri dari Daniel S. Lev Law Library sebagai ketua FPKI periode 2025-2028.
Reporter: Gilang Arwin Saputri
Dokumentasi: Aji Anwar
Galeri









