Peningkatan Pengelolaan Naskah Nusantara Butuh Keterlibatan Peneliti
Jakarta - Humas Perpusnas, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) terus memperkuat pengelolaan naskah Nusantara melalui pendekatan menyeluruh, mulai dari akuisisi hingga pemanfaatan publik. Komitmen tersebut mengemuka dalam audiensi bersama Dompet Dhuafa di Gedung Layanan Perpusnas, Jumat (6/2/2026).
Ketua Kelompok Kerja Pengelolaan Naskah Nusantara Perpusnas, Aditia Gunawan, menjelaskan bahwa pengelolaan manuskrip dilakukan melalui siklus terintegrasi yang mencakup akuisisi, pendataan, katalogisasi, penelitian, hingga advokasi pemanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat.
“Pengelolaan naskah itu mencakup seluruh siklus, mulai dari akuisisi, pencatatan, penelitian, sampai pemanfaatan dan advokasi. Bahkan kami juga mengupayakan pengembalian naskah dari luar negeri, meskipun prosesnya panjang dan kompleks,” ujarnya.
Aditia menuturkan bahwa pendataan menjadi langkah strategis untuk memetakan warisan manuskrip Nusantara. Berdasarkan kompilasi berbagai katalog, jumlah naskah diperkirakan hampir mencapai 140 ribu, baik di dalam maupun luar negeri. Sekitar 100.770 naskah di antaranya berada di Indonesia.
Dalam dua tahun terakhir, Perpusnas melakukan pendataan lebih rinci berbasis judul dan identitas naskah. Hingga kini, sekitar 33 ribu data katalog telah dihimpun, termasuk 13 ribu koleksi Perpusnas dengan metadata lengkap.
Selain pendataan, pemanfaatan naskah juga diusahakan melalui transliterasi, translasi, dan publikasi ilmiah. Sejak dekade 1990-an, Perpusnas telah menghasilkan hampir seribu terbitan berbasis manuskrip yang sebagian besar tersedia dalam format digital dan dapat diakses publik secara gratis melalui platform Khastara.
Minat masyarakat terhadap koleksi tersebut terus meningkat. Aditia menyebut kategori naskah dalam aplikasi digital Perpusnas memiliki sekitar 60 ribu anggota. Di sisi lain, pengembangan konten kreatif seperti komik berbasis naskah telah menghasilkan sekitar 85 judul dengan 17 ribu pembaca dalam satu tahun terakhir.
Pengarusutamaan naskah juga dilakukan melalui kanonisasi karya yang merepresentasikan keragaman budaya Indonesia, sejalan dengan mandat UNESCO Memory of the World. Fokusnya adalah memperkenalkan karya-karya penting agar dikenal secara nasional, seperti kisah Panji atau figur Pangeran Diponegoro, sehingga tidak hanya dipahami secara regional tetapi menjadi bagian dari memori kolektif bangsa.
Strategi tersebut diperkuat lewat festival manuskrip dan pameran tematik yang mendorong partisipasi publik sekaligus meningkatkan minat terhadap publikasi berbasis naskah. Aditia mencontohkan penyelenggaraan festival yang mengangkat sisi lain sejarah Perang Jawa yang berhasil menarik partisipasi masyarakat luas serta meningkatkan minat terhadap publikasi berbasis naskah di Perpusnas tahun lalu.
Ke depan, ia menilai pengelolaan manuskrip dapat ditingkatkan melalui pemberdayaan peneliti, termasuk skema beasiswa dan residensi riset. “Potensi naskah Nusantara sangat besar. Tantangannya adalah menghubungkan sumber pengetahuan ini dengan kebutuhan penelitian dan masyarakat. Pengelolaan yang terintegrasi diharapkan mampu menjembatani hal tersebut,” harapnya.
Dalam audiensi tersebut, dukungan riset juga disoroti oleh Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Herry Jogaswara. Ia menegaskan bahwa pengelolaan naskah memerlukan kontribusi penelitian untuk memperkaya produksi pengetahuan.
Atas dasar pengamatannya, BRIN berperan melalui eksplorasi naskah baru maupun pendalaman kajian terhadap naskah yang telah diketahui. Riset dilakukan melalui skema ekspedisi serta program kompetitif lintas disiplin yang melibatkan ahli filologi dari berbagai daerah dan aksara, termasuk penelitian manuskrip beraksara Tionghoa.
BRIN juga menyediakan dukungan infrastruktur riset, seperti fasilitas analisis ilmiah untuk mengetahui usia atau karakter material naskah, serta kajian asal-usul benda budaya dalam konteks repatriasi. Herry menambahkan bahwa perkembangan filologi kini tidak terbatas pada penerjemahan naskah, tetapi juga dapat dikaitkan dengan seni, teater, dan ekspresi budaya lain.
Ia meyakini bahwa kolaborasi antarlembaga menjadi kunci optimalisasi pengelolaan manuskrip. “Dengan sinergi antara pengelolaan, penelitian, dan pemanfaatan, potensi naskah Nusantara sebagai sumber pengetahuan dapat terus dikembangkan dan memberi dampak yang lebih luas,” antusiasnya.
Senada dengan itu, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Oman Fathurahman menekankan pentingnya membangun ekosistem produksi pengetahuan berbasis manuskrip. Ia menyebut ekosistem tersebut membutuhkan manuskrip terkurasi, peneliti lintas disiplin, dukungan pendanaan, serta pemanfaatan hasil kajian oleh masyarakat luas.
Oman pun mengusulkan agar Perpusnas berperan dalam membangun basis data manuskrip terintegrasi, sementara lembaga filantropi dapat menjadi pusat pengembangan kajian tematik, termasuk filantropi Islam. “Dengan ekosistem yang terhubung, manuskrip tidak hanya dilestarikan, tetapi juga menjadi sumber produksi pengetahuan,” pungkasnya. *** (AKN/Ed.DRS/Dok.AA)
Galeri










