Penyimpanan Cetak Bersama Jadi Strategi Penting di Tengah Digitalisasi
Salemba, Jakarta—Dalam beberapa dekade terakhir, dunia perpustakaan menghadapi tantangan yang semakin kompleks, salah satunya keterbatasan ruang fisik untuk menyimpan koleksi bahan cetak. Di tengah arus digitalisasi yang menawarkan akses cepat dan luas, muncul pertanyaan krusial, apakah koleksi tercetak masih perlu dipertahankan dalam skala besar?
Hal ini disampaikan Pustakawan Ahli Utama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Teguh Purwanto, dalam amanat apel pagi, Senin (22/9/2025) secara daring. Baginya, jawaban atas pertanyaan tersebut tidak sesederhana “ya” atau “tidak”.
“Koleksi cetak adalah jejak sejarah, bukti budaya, sekaligus warisan intelektual yang tidak boleh kita abaikan. Penyimpanan cetak bersama adalah upaya kolaboratif lintas institusi, wilayah, bahkan negara untuk menjaga keberlanjutan akses pengetahuan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa konsep penyimpanan koleksi tercetak bersama bukanlah hal baru. Sejak 1940-an, perpustakaan di New England, Amerika Serikat, telah memulai praktik ini. Model serupa juga berkembang di berbagai negara, seperti Amerika, Kanada, Inggris, Finlandia, hingga Australia.
“Contohnya di Amerika Serikat ada Five-College Library Depository, di Inggris ada United Kingdom Research Reserve (UKRR), dan di Australia ada CARM Centre. Semua model ini membuktikan bahwa penyimpanan kolektif mampu menghemat ruang sekaligus menjaga akses ke koleksi penting,” ungkapnya.
Menurut Teguh, terdapat berbagai model penyimpanan kolektif yang dapat diadopsi, mulai dari model negara, konsorsium, hingga kepemilikan tunggal. Namun, implementasinya memerlukan komitmen, transparansi, dan kepercayaan antar lembaga.
Selain itu, ia menuturkan, tantangan yang dihadapi tidaklah kecil, mulai dari isu kepemilikan, kekhawatiran kehilangan koleksi, keterbatasan data akurat, hingga pembiayaan jangka panjang. Teguh menekankan pentingnya perencanaan strategis, manajemen risiko, pemanfaatan teknologi informasi, serta penguatan kapasitas pustakawan.
“Penyimpanan cetak bersama bukan sekadar strategi menghemat ruang, tetapi juga cerminan semangat kolaborasi. Perpustakaan tidak bisa menyimpan semua hal, namun bisa menyimpan yang paling bernilai secara bersama, efisien, dan terencana,” jelasnya.
Lebih lanjut, Teguh mengajak seluruh pemangku kepentingan perpustakaan untuk melihat penyimpanan koleksi tercetak bersama sebagai peluang, bukan beban. “Kalau ingin pergi cepat, pergilah sendiri. Tapi kalau ingin pergi jauh, pergilah bersama. Perpustakaan perlu berjalan bersama untuk mewujudkan sistem penyimpanan cetak yang berkelanjutan, efektif, dan bermanfaat bagi generasi mendatang,” pungkasnya.
Reporter/Dokumentasi: Alditta Khoirun Nisa
Galeri









