Perpusda Gunung Kidul Migrasi ke Sistem Perpustakaan Terintegrasi, Solusi Inovatif di Tengah Efisiensi Anggaran
Jakarta—Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Suharyanto, menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem Perpusnas. Meskipun dihadapkan pada tantangan efisiensi anggaran tahun 2026, ekosistem tetap diperkuat melalui percepatan migrasi sistem otomasi perpustakaan ke Integrated Library System (INLISLite) dan penguatan kolaborasi.
Hal tersebut disampaikan Suharyanto saat menerima kunjungan dan berdiskusi dengan Pustakawan Berprestasi Nasional 2016 sekaligus Pustakawan Ahli Madya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gunungkidul Agung Wibawa, di Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Suharyanto menyampaikan apresiasi atas inisiatif perpustakaan daerah yang melakukan migrasi sistem dari aplikasi lain ke INLISLite, sistem otomasi perpustakaan yang dikembangkan oleh Perpusnas.
Ia menjelaskan, perpustakaan yang telah menggunakan sistem ini akan lebih mudah terintegrasi dengan Indonesia OneSearch (IOS) karena kesamaan metadata. Hal ini dinilai penting untuk memudahkan pertukaran data dan informasi koleksi antarperpustakaan di seluruh Indonesia.
Sebagai informasi, INLISLite adalah perangkat lunak aplikasi otomasi perpustakaan yang dibangun dan dikembangkan oleh Perpusnas sejak tahun 2011. INLISLite dikembangkan sebagai perangkat lunak satu pintu bagi pengelola perpustakaan untuk menerapkan otomasi perpustakaan. Sekaligus, mengembangkan atau mengelola perpustakaan digital dan melayankan koleksi digital, serta menghimpun koleksi nasional dalam jejaring Perpustakaan Digital Nasional Indonesia.
Lebih lanjut, Suharyanto mengungkapkan efisiensi anggaran Perpusnas cukup signifikan, hampir mencapai 50 persen dari pagu normal. “Dari yang biasanya berada di kisaran 600–700 miliar rupiah, tahun 2026 anggaran Perpusnas berada di angka sekitar 377 miliar rupiah. Dua unit kerja yang sementara belum memiliki alokasi anggaran adalah bidang standardisasi dan akreditasi, serta pembinaan pustakawan,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pimpinan Perpusnas tetap menginstruksikan agar seluruh layanan dan kegiatan strategis terus berjalan melalui inovasi dan kreativitas. Salah satu alternatif yang disiapkan adalah pelaksanaan akreditasi perpustakaan secara virtual, sembari menunggu kemungkinan penambahan anggaran melalui mekanisme Anggaran Biaya Tambahan (ABT).
“Pesan Kepala Perpusnas sangat jelas, meskipun ada keterbatasan anggaran, kegiatan harus tetap berjalan. Kita dituntut untuk berinovasi dan berkolaborasi,” tuturnya.
“Pustakawan, terutama pustakawan berprestasi, harus menjadi penggerak inovasi. Keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berkarya,” pesannya.
Sementara itu, Agung Wibawa menyampaikan bahwa kebijakan dan informasi yang disampaikan oleh Perpusnas menjadi bekal penting bagi perpustakaan daerah dalam menyesuaikan strategi pengembangan layanan di tengah keterbatasan anggaran. “Informasi yang disampaikan ini sangat berharga bagi kami. Teman-teman di daerah sering berdiskusi soal kegiatan dan pengembangan perpustakaan, dan apa yang kami dapatkan hari ini bisa menjadi rujukan sekaligus inspirasi untuk kami terapkan di daerah,” ucapnya.
Reporter: Alditta Khoirun Nisa
Editor: Dyah R. Sugiyanto
Dokumentasi: Prakas Agrestian
Galeri








