Perpusnas Ajak Masyarakat Memahami Staatsblad melalui Kelas Literasi Klasika Ke-11
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia kembali menggelar Kelas Literasi Klasika Seri Ke-11 bertema “Staatsblad: Memahami Sistem Hukum Administrasi Kolonial” secara luring dan daring di Gedung Layanan Perpusnas, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT Ke-46 Perpusnas sekaligus upaya memperluas pemanfaatan koleksi langka kepada masyarakat.
Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Suharyanto, mengatakan Kelas Literasi Klasika merupakan upaya Perpusnas dalam memperkenalkan sekaligus mendayagunakan koleksi langka agar lebih dikenal, diakses, dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Menurutnya, koleksi langka yang dimiliki Perpusnas merupakan bagian penting dari khazanah pengetahuan bangsa.
“Perlu kita ketahui bersama, Perpustakaan Nasional menyimpan sekitar 3 juta eksemplar koleksi langka dari total 9 juta eksemplar koleksi yang ada. Artinya, koleksi langka ini mencakup 33,33 persen dari seluruh koleksi Perpusnas. Angka ini menunjukkan betapa kayanya khazanah bangsa yang kita miliki,” ujar Suharyanto.
Ia menambahkan, kekayaan koleksi tersebut akan semakin bernilai apabila dapat diakses, dipahami, dan dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan, serta penguatan identitas bangsa. Perpusnas juga membuka akses koleksi langka melalui portal Khastara yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara terbuka.
Plt. Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara (Pujasintara), Adriati, menjelaskan Kelas Literasi Klasika diselenggarakan untuk mempromosikan ragam koleksi langka milik Perpusnas sekaligus meningkatkan nilai kebermanfaatannya di tengah masyarakat. Kegiatan ini diikuti peneliti, mahasiswa, dosen, komunitas, hingga masyarakat umum.
“Perpusnas melalui Pujasintara pada kesempatan ini menghadirkan Diskusi Kelas Literasi Klasika yang bertujuan untuk mempromosikan ragam kekayaan koleksi langka milik Perpusnas, di samping juga sebagai upaya meningkatkan nilai kebermanfaatannya di tengah masyarakat,” kata Adriati.
Ia menjelaskan, Kelas Literasi Klasika dikemas dalam konsep diskusi semi formal berbasis koleksi langka yang dimiliki Perpusnas. Koleksi tersebut meliputi buku langka, surat kabar langka, majalah terjilid, audio visual, foto, peta, lukisan, hingga koleksi digital yang dapat diakses melalui laman Perpusnas.
Kegiatan ini menghadirkan dosen Universitas Sebelas Maret sekaligus sejarawan, Harto Juwono, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Harto menjelaskan Staatsblad merupakan lembaran negara Hindia Belanda yang digunakan sebagai media publikasi resmi peraturan, keputusan, dan administrasi pemerintahan kolonial.
Menurut Harto, Staatsblad menjadi sumber penting dalam penelitian sejarah hukum, pemerintahan, dan perkembangan sosial masyarakat pada masa kolonial. Dokumen tersebut juga memberikan gambaran mengenai sistem administrasi hukum yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda di Indonesia.
Selain menghadirkan kajian sejarah hukum kolonial, kegiatan ini turut memperkenalkan koleksi Staatsblad yang dimiliki Perpusnas kepada peserta. Pustakawan Ahli Muda Pujasintara, Suparman, juga memaparkan berbagai koleksi langka bertemakan Staatsblad yang menjadi bagian dari khazanah dokumentasi sejarah nasional.
Melalui Kelas Literasi Klasika, Perpusnas terus mendorong pemanfaatan koleksi langka sebagai sumber pengetahuan dan literasi sejarah bagi masyarakat. Program ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran publik terhadap pentingnya preservasi dan pemanfaatan warisan dokumenter bangsa. *** (AS/ Dok: AA)
Galeri









