Perpusnas Ajak Universitas Pattimura Manfaatkan Koleksi Langka, Perkuat Literasi untuk Pendidikan dan Riset
Jakarta-Humas Perpusnas. Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Suharyanto, menyampaikan lebih dari tiga juta eksemplar koleksi langka saat ini tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas). Sementara, 39.920 eksemplar di antaranya telah tersedia secara digital melalui situs Khastara.
Koleksi ini, menurutnya, bukan sekadar himpunan koleksi perpustakaan. Di dalamnya tersimpan jejak perjalanan bangsa, kebudayaan, sekaligus memperluas akses informasi serta mengoptimalkan pemanfaatan koleksi yang dapat dimanfaatkan untuk pendidikan maupun riset.
Hal ini disampaikannya dalam Pustakawan Menyapa Pemustaka (Puspa) seri 39 Lentera Klasika: Diskusi dan Bedak Koleksi Langka Perpusnas yang digelar berkat kolaborasi Perpusnas dengan Universitas Pattimura (Unpatti), diselenggarakan secara daring pada Rabu, (12/8/2026).
"Di sinilah koleksi langka memiliki makna yang sangat penting. Setiap buku, surat kabar, majalah, peta, foto, dan berbagai rekaman sejarah bukan sekadar benda lama, tetapi merupakan jejak perjalanan bangsa. Di dalamnya tersimpan gagasan, pengetahuan, perjuangan, kebudayaan, serta suara masyarakat dari masa ke masa," ungkapnya.
Menurutnya, kegiatan bersama Unpatti ini bukan kali pertama dilakukan. Perpusnas dan Unpatti telah berkolaborasi sebelumnya berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan budaya baca dan kecakapan literasi.
“Kerja kolaborasi kami dengan Universitas Pattimura semoga terus berkelanjutan dan berkesinambungan sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama mahasiswa di Program Studi Pendidikan Sejarah,” lanjutnya.
Ia mengatakan, sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan di kawasan timur Indonesia, Unpatti memiliki peran yang tidak kalah penting dalam menghubungkan warisan intelektual bangsa dengan generasi muda.
Melalui program Puspa, Perpusnas berharap hubungan antara pustakawan dan pemustaka semakin erat. Masyarakat juga didorong untuk aktif memanfaatkan berbagai layanan dan koleksi yang tersedia, termasuk koleksi langka sebagai sumber inspirasi untuk melahirkan karya dan penelitian baru.
“Menjaga koleksi langka bukan hanya tentang melestarikan masa lalu, melainkan juga menyiapkan masa depan,” tandasnya. “Memuliakan profesi pustakawan bukan hanya tentang menghargai sebuah profesi, melainkan tentang menghargai pengetahuan sebagai fondasi kemajuan bangsa,” kata Suharyanto.
"Mari jadikan perpustakaan sebagai ruang bertemunya sejarah, ilmu pengetahuan, dan harapan. Mari manfaatkan Koleksi langka sebagai sumber inspirasi untuk menghasilkan karya-karya baru yang berakar pada identitas bangsa namun mampu menjawab tantangan zaman," lanjutnya
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura, Izaak H. Wenno, mengatakan, membaca dan menulis menjadi salah satu upaya untuk mempertajam kemampuan dan kecakapan literasi. Keduanya sangat penting. Literasi bukan hanya tentang membaca tetapi juga kemampuan menulis.
"Kami melihat salah satu fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini adalah masih rendahnya kemampuan membaca. Hal ini perlu kita dorong bersama agar generasi muda, baik mahasiswa maupun siswa, dapat meningkatkan kemampuan membaca mereka," ujarnya.
Ia mengatakan, membaca dan menulis merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh setiap siswa maupun mahasiswa. Keterampilan tersebut menjadi fondasi untuk mengembangkan pemahaman, mempertajam cara berpikir, serta memperluas wawasan dalam pengembangan bidang keilmuan masing-masing.
"Salah satu pilihan dalam pengembangan fakultas ini. Bahkan, kami memiliki gagasan untuk mendorong kegiatan membaca dengan target yang besar, misalnya hingga 2.000 bahan bacaan," katanya.
Sementara itu, Pustakawan Utama, Nelwati mengatakan, layanan Koleksi langka (Klasika) saat ini merupakan salah satu layanan Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara (Pujasintara) yang menghimpun Koleksi terbitan tahun 1547 dan masih menghimpun koleksi langka sampai dengan tahun 2025 dengan menerapkan sistem tertutup. "Jika ditelusuri melalui OPAC Perpusnas, terdapat 1.025 data koleksi tentang Ambon dan 1.950 data Koleksi tentang Maluku,"jelasnya.
Perlu diketahui, kegiatan Puspa Pemustaka merupakan salah satu bentuk sapaan Perpusnas kepada pemustaka sekaligus ruang bagi pustakawan untuk berbagi pengetahuan dan memperkenalkan beragam sumber informasi yang tersedia di Perpusnas. Program tersebut menargetkan 44 seri dalam satu tahun dan hingga Agustus 2026 telah mencapai seri ke-39. *** (WM/Ed: DRS/Dok: ATK)






