Perpusnas Ajukan Dua Naskah Nusantara sebagai Nominasi Memory of the World 2025-2026
Jakarta—Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) turut berperan dalam Sidang Pleno Dewan Pakar Memory of the World (MoW) Indonesia. Dalam sidang tersebut, Perpusnas mempresentasikan penominasian naskah kuno ke dalam MoW periode penilaian 2025–2026, di Jakarta, Kamis (13/11/2025).
Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, menjelaskan bahwa hal ini terkait Program Prioritas Utama Perpusnas, yaitu pengarusutamaan naskah nusantara. Program tersebut telah masuk ke dalam Rencana Strategis Perpustakaan Nasional 2025-2029.
“Perpusnas mengusulkan dua karya penting yakni Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular dan Karya-Karya Syekh Yusuf al-Makassari. Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular adalah warisan penting abad ke-14 yang memuat nilai moral, spiritual, dan toleransi, termasuk ungkapan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan nasional,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan karya-karya Syekh Yusuf al-Makassari merekam perjalanan intelektual dan spiritual seorang ulama besar Nusantara sekaligus pahlawan nasional yang berpengaruh hingga Sri Lanka dan Afrika Selatan.
Naskah Karya Syekh Yusuf Al-Makassari merupakan nominasi bersama, yang diusulkan Perpusnas dan Universitas Leiden. Sementara, Kakawin Sutasoma merupakan nominasi tunggal usulan Perpusnas.
“Kami berharap kedua usulan nominasi dari Perpusnas ini dapat diterima dan direkomendasikan oleh Dewan Pakar untuk diajukan ke UNESCO Memory of the World Register tahun 2025, sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam pelestarian warisan dokumenter dunia,” ungkapnya.
Suharyanto menambahkan, hingga saat ini enam naskah kuno Indonesia telah tercatat dalam MoW, antara lain La Galigo, Nāgarakṛtāgama, Babad Diponegoro, Cerita Panji, Hikayat Aceh, serta Sang Hyang Siksa Kandang Karesian dan Karya-Karya Hamzah Fansuri yang baru disetujui tahun 2025.
Lebih lanjut ia menyebutkan, melalui program Ingatan Kolektif Nasional (IKON), Perpusnas telah melakukan registrasi lebih dari 20 naskah kuno penting dari berbagai daerah, seperti Syekh Yusuf al-Makassari, Kakawin Sutasoma, Warisan Syekh Burhanuddin Ulakan, Lontar Sri Tanjung, dan Babad Trunajaya. Dua naskah lainnya, Bo’ Sangaji Kai dan Kidung Buwana Winasa tengah diusulkan ke Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MoWCAP).
Selain dua naskah warisan dokumenter yang diajukan Perpusnas, ada juga Arsip Buruh Kontrak Jawa di Suriname (nominasi bersama Arsip Nasional Republik Indonesia dan Arsip Nasional Suriname), serta Prasasti Yupa (nominasi tunggal dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia).
Deputi Bidang Penyelamatan, Pelestarian, dan Perlindungan Arsip ANRI, Kandar, menyampaikan bahwa penominasian tahun ini mencatatkan sejarah baru. “Untuk pertama kalinya Indonesia mengajukan prasasti sebagai warisan dokumenter MoW,” ungkapnya.
“Penominasian ini diharapkan membuka jalan bagi prasasti-prasasti lainnya di seluruh Indonesia untuk turut didaftarkan, tidak hanya di tingkat internasional (MoW International Register), tetapi juga di tingkat nasional dan regional,” jelasnya.
Terkait arsip Buruh Kontrak Jawa di Suriname, Kandar menjelaskan bahwa nominasi tersebut merupakan warisan dokumenter berupa arsip wawancara secara lisan dari orang-orang Jawa yang dulu dikirim oleh Belanda untuk menjadi buruh kontrak di Suriname.
“Ini juga pertama kalinya Indonesia menominasikan khazanah arsip lisan sebagai Memory of the World,” ujarnya.
Turut hadir dalam kegiatan ini, Ketua Kelompok Kerja Pengelolaan Naskah Nusantara Perpusnas Aditia Gunawan yang mempresentasikan Naskah Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular, Pustakawan Ahli Muda Haniatur Rosyidah yang mempresentasikan Naskah Syeikh Yusuf al-Makassari, Ketua Dewan Pakar Komite Nasional MoW Indonesia, Muchlis PaEni, serta para anggota Dewan Pakar MoW Indonesia.
Reporter: Anastasia Lily
Editor: Dyah Sugiyanto
Dokumentasi: Prakas Agrestian
Galeri








