Perpusnas, Alat Revolusi Cerdaskan Kehidupan Bangsa
Jakarta-Humas Perpusnas. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menegaskan perannya sebagai pusat dokumentasi dan informasi nasional, alat revolusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, serta tempat penyimpanan warisan budaya berupa karya cetak dan karya tulis Indonesia dalam Webinar Nasional bertajuk “Merawat Pustaka dan Memartabatkan Bangsa”.
Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional Tahun 2026 dan Hari Ulang Tahun ke-46 Perpusnas di Teater Perpusnas Salemba, Selasa (12/5/2026). Webinar tersebut menghadirkan empat narasumber yang salah satunya adalah Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka.
Sebelum memulai paparannya, Rieke mengawalinya dengan membacakan puisi dari manuskrip Hikayat Sanghyang Siksa Kandang Karesian, naskah kuno yang ditetapkan UNESCO sebagai Memory of the World (MoW) tahun 2025.
“Membuka pidato dengan puisi setelah memperjuangkan manuskrip Hikayat Sanghyang Siksa Kandang Karesian bersama Perpusnas. Itu adalah pustaka, bahkan saya bilang pusaka,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rieke menegaskan bahwa perpustakaan tetap memiliki posisi strategis di era digital. Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya perpustakaan sebagai penyimpan memori kolektif bangsa. Baginya, arsip dan buku tidak dapat dipisahkan karena keduanya merupakan pusaka bangsa yang menyimpan pemikiran para pendiri negara.
“Kalau memori kolektif ini hilang, orang tidak lagi ragu melakukan kejahatan karena bangsa dijauhkan dari ingatan sejarahnya sendiri,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Rieke memaparkan sejumlah dokumen pembangunan nasional, termasuk TAP MPRS Nomor I/MPRS/1960 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara dan TAP MPRS Nomor II/MPRS/1960 tentang Garis-Garis Besar Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana.
Ia menyebut, gagasan pembangunan bangsa sejak awal telah menempatkan perpustakaan sebagai bagian penting dalam revolusi pendidikan dan pemberantasan buta huruf. “Perpustakaan terus diulang-ulang dalam buku. Walaupun sekarang ada perpustakaan digital, tetap tidak bisa meninggalkan buku-buku lama,” ujarnya.
Menurutnya, pembangunan perpustakaan harus diperluas hingga tingkat desa melalui penguatan perpustakaan desa, sekolah rakyat, dan ruang baca masyarakat agar akses pengetahuan semakin merata.
Rieke juga menyoroti pentingnya integrasi data nasional melalui konsep Satu Data Indonesia yang memadukan data geospasial dan data kependudukan untuk mendukung pembangunan berbasis kebutuhan riil masyarakat.
“Pembangunan yang tidak berbasis pada nation and character building hanya akan menjadi proyek administratif tanpa ruh dan tujuan kesejahteraan rakyat,” ungkapnya.
Di akhir pemaparannya, ia memberikan apresiasi kepada para insan perpustakaan yang terus menjaga warisan pengetahuan bangsa. “Insan perpustakaan jangan menyerah, karena kalian adalah penjaga pusaka negara,” tutupnya.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan sejumlah buku karya pemikiran kebangsaan dan pembangunan nasional sebagai simbol penguatan literasi serta pelestarian memori kolektif bangsa melalui perpustakaan.*** (SA/Ed:BS/Dok:AIF/AA)
Galeri








