Perpusnas Apresiasi ‘Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri’
Jakarta—Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menegaskan perannya sebagai ruang terbuka dan pusat rujukan pengetahuan dalam penguatan literasi budaya melalui acara peluncuran buku Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri, persembahan organisasi Putri Bumi Sriwijaya bekerja sama dengan Gramedia Pustaka Utama.
Kegiatan tersebut dihadiri Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, di Auditorium Lantai 2, Gedung Perpusnas, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Suharyanto menyampaikan apresiasi atas terbitnya buku tersebut, yang telah berhasil merekam kekayaan budaya bangsa. “Hari ini saya mewakili Perpusnas menghadiri peluncuran buku Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri. Buku ini sangat menarik dan sangat bagus, serta merupakan bagian dari peradaban bangsa Indonesia, terutama terkait dengan budaya di Indonesia,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa peluncuran buku tersebut sejalan dengan peran Perpusnas sebagai pusat rujukan pengetahuan dan simpul ekosistem literasi nasional. Melalui kegiatan semacam ini, ia berharap Perpusnas dapat terus menjadi ruang terbuka, ruang kreativitas, sekaligus rumah peradaban bagi masyarakat dalam mengembangkan budaya baca dan literasi di Indonesia.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, turut menyampaikan apresiasinya atas terbitnya buku tersebut. “Buku ini bisa menjadi salah satu referensi literasi kita, terutama dalam kebudayaan dan ekspresi budaya di lima negeri yang dulu dikenal sebagai Sumatera bagian selatan. Wilayah ini memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah bangsa karena berkaitan erat dengan peradaban besar Sriwijaya,” tuturnya.
Fadli juga menekankan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. “Sejak hari pertama saya menjadi Menteri Kebudayaan, saya menyebut Indonesia sebagai mega diversity. Kekayaan dan keragaman ekspresi budaya kita hampir tidak terbatas dan harus terus didokumentasikan serta dikembangkan,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan Putri Bumi Sriwijaya (PBS), Dewi Motik Pramono, mengungkapkan bahwa proses penerbitan buku tersebut melalui perjalanan panjang dan penuh ketelitian. “Kami melalui proses yang tidak mudah, berkali-kali rapat, diperbaiki, dan disempurnakan, karena bagi kami buku ini harus benar. Ini adalah tanggung jawab terhadap sejarah dan budaya kita,” ucapnya.
Dewi Motik juga mengapresiasi dukungan pemerintah dan seluruh mitra yang telah membersamai proses penerbitan buku. “Kalau kita saling mendukung dan saling memaafkan, Insya Allah dukungan itu akan datang. Terima kasih kepada pemerintah dan seluruh mitra yang telah membersamai kami sampai buku ini terwujud,” lanjutnya.
Kepala Redaksi Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Andi Tarigan, mengutarakan kebanggaan pihaknya dapat terlibat dalam proses penerbitan buku tersebut. “Kami dari Penerbit Gramedia Pustaka Utama merasa senang, gembira, dan bangga karena dapat menjadi bagian dari proses penerbitan buku Selayang Kemilau Bumi Lima Negeri, persembahan Putri Bumi Sriwijaya,” sebutnya.
Menurut Andi, buku ini merepresentasikan wajah kebinekaan Indonesia melalui dokumentasi busana adat perempuan dari lima provinsi di Sumatera bagian selatan. “Buku ini menjadi wajah Indonesia yang menampilkan keberagaman, khususnya busana adat perempuan dari Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Jambi, serta Bangka Belitung. Di dalamnya tergambar semangat kebhinekaan yang menjadi fondasi bangsa,” katanya.
Buku Selayang Kemilau Bhumi Lima Negeri mendokumentasikan sejarah dan kekayaan seni budaya Sumatera bagian selatan yang berakar pada kejayaan Swarnadwipa dan Kerajaan Sriwijaya, melalui 32 tata rias pengantin dan 39 busana adat perempuan dari Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Jambi, serta Kepulauan Bangka Belitung.
Dilengkapi wastra berusia lebih dari 100 tahun dan foto-foto artistik, buku ini menjadi rujukan literasi budaya yang merekam kemilau emas, filosofi, serta identitas perempuan dalam perjalanan peradaban Bhumi Lima Negeri.
Reporter: Alditta Khoirun Nisa
Editor: Dyah R. Sugiyanto
Dokumentasi: Prakas Agrestian
Galeri










