Perpusnas Bahas Transformasi Layanan dalam Diskusi Kajian Kepuasan Pemustaka 2025
Medan Merdeka Selatan, Jakarta– Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) melalui Pusat Jasa Informasi dan Pengelolaan Naskah Nusantara (Pujasintara) menggelar Diskusi Kelompok Terpumpun Kajian Kepuasan Pemustaka 2025 secara hibidra sebagai tindak lanjut pelaksanaan Survei Kepuasan Pemustaka (SKM) tahun 2025.
Dalam kesempatan tersebut, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, yang hadir secara daring, menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan SKM hingga triwulan IV tahun 2025.
“Saya sangat mengapresiasi kepada para narasumber yang hadir, baik secara luring maupun daring dan kepada tim Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara sehingga SKM dapat terlaksana sampai triwulan IV,” tuturnya Kamis (27/11/2025).
Lebih lanjut, Suharyanto menyampaikan tentang penguatan arah rencana strategis Perpusnas tahun 2025–2029 dengan visi menjadi perpustakaan yang transformatif serta meningkatkan budaya baca dan literasi untuk mewujudkan bangsa bermartabat bersama Indonesia maju menuju Indonesia Emas 2045.
“Arah tersebut dijalankan melalui misi memperkuat budaya baca dan meningkatkan kecakapan literasi masyarakat, memperkuat perpustakaan digital dengan memanfaatkan teknologi terkini, meningkatkan pengelolaan perpustakaan sesuai standar, memperkuat program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, memperkuat peran masyarakat dalam gerakan budaya baca dan peningkatan kecakapan literasi, peningkatan kualitas tenaga perpustakaan, serta pelestarian naskah kuno Nusantara,” urainya.
Guru Besar Ilmu Perilaku Informasi Universitas Airlangga, Dessy Harisanty, menyampaikan bahwa perilaku informasi pemustaka mengalami perubahan akibat perkembangan teknologi di era digital.
“Yang terjadi sekarang ini misalnya banjir informasi, kelelahan informasi, penyebaran hoaks dan manipulasi opini, filter bubble dan echo chamber serta menurunnya kemampuan berpikir kritis,” jelasnya.
Menurutnya, hal tersebut perlu ditindaklanjuti melalui penguatan literasi kritis dan etika informasi melalui peran perpustakaan.
“Perpustakaan dapat mengembangkan strategi layanan yang lebih adaptif, seperti mempermudah proses layanan, menyediakan panduan dan informasi yang jelas, mengintegrasikan layanan digital dan fisik, menyediakan sarana pengaduan yang mudah diakses dan sebagainya,” ungkapnya.
Sekretaris Jenderal Ikatan Pustakawan Indonesia, Agus Rifai, menyampaikan bahwa arah profesi pustakawan ke depan akan menjadi fasilitator pengetahuan, pendidik literasi kritis dan arsitek ruang sosial-intelektual yang menghubungkan manusia, informasi, teknologi dan komunitas dalam ekosistem pembelajaran sepanjang hayat.
“Pustakawan bukan hanya pengelola layanan, melainkan arsitek pengalaman komunitas dan kurator interaksi sosial-intelektual. Dan di era digital sekarang ini, pustakawan diharapkan menjadi profesional digital yang menggabungkan ilmu informasi, data, dan teknologi,” jelasnya.
Guru SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta, Aris Yohanes Elean, menyampaikan bahwa inklusivitas bukan hanya sekadar menyediakan ruangan atau mengadakan program dan layanan khusus semata. Menurutnya, inklusivitas harus dibangun sebagai sebuah ekosistem yang menyeluruh dari level paling bawah hingga ke tingkat tertinggi di lembaga.
“Misalnya ada pelatihan-pelatihan, kampanye atau pemberitahuan kepada seluruh staf atau stakeholder yang ada di Perpusnas untuk memberikan pelayanan yang inklusif. Hal sederhana seperti memberikan petunjuk yang jelas saat pengunjung masuk, atau ketika ada ruang yang tidak dapat dilalui, petugas keamanan maupun staf yang bertugas dapat segera mengarahkan pengunjung ke tempat yang tepat,” jelasnya.
Adapun peserta yang hadir secara luring sekitar 75 orang dan secara daring melalui zoom meeting sekitar 139 orang, dengan mengundang pihak dari akademisi ilmu perpustakaan, baik dosen maupun mahasiswa ilmu perpustakaan dan sains informasi, pakar dan praktisi di bidang perpustakaan dan informasi, baik dari unsur organisasi dan asosiasi profesi maupun dari instansi lain. Acara ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Pujasintara Perpusnas, agar masyarakat dapat mengetahui hasil dari kajian pemustaka 2025 yang telah dilakukan oleh Pujasintara.
Reporter: Anastasia Lily
Dokumentasi: Qintara Amalia
Galeri








