Perpusnas dan Badan Bahasa Sinergikan Penguatan Literasi Pangan Nasional

Gallery image

Perpusnas dan Badan Bahasa Sinergikan Penguatan Literasi Pangan Nasional

Salemba, Jakarta—Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) menerima audiensi dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk membahas rencana kolaborasi penguatan literasi pangan nasional, Selasa (7/10/2025).

Audiensi yang dipimpin oleh Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, turut dihadiri Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat), Triani Rahmawati, serta Plt Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara (Kapujasintara), Yeri Nurita. Dari pihak Badan Bahasa, hadir Kepala Badan Bahasa, Hafidz Mukhsin, beserta jajaran pejabat eselon dan staf terkait.

Hafidz Mukhsin menjelaskan bahwa literasi pangan menjadi salah satu strategi penting dalam membangun sumber daya manusia unggul, adaptif, dan sadar gizi seimbang. Ia menuturkan, Badan Bahasa berkomitmen memperkuat pondasi literasi tersebut melalui penyediaan bahan bacaan bertema pangan, penyusunan istilah dan kosakata bidang pangan dalam KBBI, pengukuran kemahiran berbahasa yang relevan di lingkungan pendidikan vokasi, hingga uji keterbacaan buku anak dan remaja.

“Literasi merupakan pondasi utama dalam mewujudkan SDM unggul. Kami ingin memastikan bahan bacaan di bidang pangan dapat diakses masyarakat luas, termasuk melalui peran Perpusnas dalam memperluas jangkauan literasi ke tingkat daerah,” ujarnya di Ruang Sidang Pimpinan, Gedung Perpusnas, Jakarta. 

Badan Bahasa saat ini telah mengidentifikasi sekitar 150 judul buku bertema pangan modern untuk jenjang pendidikan anak hingga remaja, yang akan disesuaikan dengan tingkat keterbacaan dan konteks budaya lokal. Upaya ini menurut Hafidz menjadi langkah awal pengayaan literatur bidang pangan di Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, menyambut baik gagasan tersebut dan menekankan pentingnya memperjelas fokus serta peran Badan Bahasa agar kolaborasi yang dibangun memiliki dampak nyata. Ia mendorong agar penguatan literasi pangan dilakukan dengan pendekatan berbasis data dan konteks lapangan.

“Literasi itu batangnya satu, kemampuan mengolah informasi untuk meningkatkan kualitas hidup, bukan hanya membaca dan menulis. Maka dari itu, ketika berbicara tentang literasi pangan, perlu dipastikan ruang lingkupnya jelas dan sesuai dengan mandat Badan Bahasa. Perpusnas tentu siap bersinergi jika arah dan substansi program sudah kuat,” tegasnya.

Aminudin juga menyampaikan bahwa Perpusnas memiliki program tematik yang relevan, seperti Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), KKN Tematik Literasi, dan Relawan Literasi Masyarakat (ReLima), yang telah menyasar berbagai komunitas di desa, pesisir, dan daerah pegunungan dengan tema literasi berbasis potensi lokal, termasuk pangan.

“Program TPBIS sudah menyentuh 750 lokus di seluruh Indonesia dan menargetkan perluasan hingga 1.000 desa pada 2026. Tahun ini, program ReLima menjangkau 180 kota/kabupaten dan akan meningkat menjadi 350 daerah pada tahun depan. Selain itu, kami juga melibatkan mahasiswa melalui program KKN Tematik Literasi untuk memperkuat pelaksanaan di lapangan” ungkapnya. 

Aminudin menambahkan, melalui jalur pemberdayaan literasi yang sudah terbentuk, Perpusnas siap memperluas akses bacaan tematik tentang pangan, gizi, dan ketahanan pangan masyarakat. 

“Kalau nanti konsep literasi pangan dari Badan Bahasa sudah matang, Perpusnas terbuka dengan senang hati untuk mendukung implementasinya lewat TPBIS, ReLima, maupun jejaring perpustakaan daerah,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Plt Kapujasintara, Yeri Nurita, dan Kepala Pusdiklat, Triani Rahmawati, juga membuka peluang kerja sama dalam penyediaan literatur terkait pangan dari koleksi arsip, surat kabar, dan majalah lama, serta pelatihan peningkatan minat baca masyarakat di bidang tematik seperti pangan.

 

Reporter: Alditta Khoirun Nisa 

Dokumentasi: Kaila / Salma

 

 

Galeri