Perpusnas dan Kemensos Perkuat Sinergi Pembangunan Perpustakaan Sekolah Rakyat Tahap Ketiga
Jakarta–Humas Perpusnas. Perpustakaan Sekolah Rakyat perlu dikembangkan menjadi pusat aktivitas pembelajaran literasi yang menarik dan interaktif, tidak sekadar menjadi tempat membaca atau penyimpanan koleksi buku semata.
“Perpustakaan perlu dirancang sebagai ruang yang interaktif, nyaman, dan menarik sehingga siswa betah belajar dan beraktivitas di dalamnya. Fasilitas pendukung seperti ruang audiovisual, akses internet, dan area kegiatan juga perlu dihadirkan. Kami berharap konstruksi maupun tata letak (layout) perpustakaan Sekolah Rakyat dirancang secara khusus dan tidak disamakan dengan ruang-ruang pembelajaran pada umumnya,” jelas Deputi Sumber Daya Perpustakaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Adin Bondar, Jumat (17/7/2026).
Pada Rapat Konsinyasi Pengembangan Desain Sekolah Rakyat Tahap Ketiga yang diselenggarakan Kementerian Sosial Republik Indonesia tersebut, Adin juga mendorong agar pembangunan perpustakaan Sekolah Rakyat dirancang di tempat strategis dan terintegrasi dengan ruang-ruang belajar dan ruang praktik sehingga dapat dijangkau dimanfaatkan secara optimal oleh para siswa.
Selain itu, ia menambahkan bahwa pembangunan perpustakaan Sekolah Rakyat perlu mengacu pada Standar Nasional Perpustakaan (SNP). Menurutnya, penerapan SNP penting karena perpustakaan tersebut nantinya akan menjalani proses akreditasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.
“Oleh karena itu, aspek-aspek esensial dalam pembangunan perpustakaan perlu dirancang dengan baik, termasuk konstruksi bangunan, interior, dan penataan ruang. Dengan mengacu pada SNP, perpustakaan diharapkan memiliki standar layanan dan fasilitas yang berkualitas serta memenuhi persyaratan akreditasi di masa mendatang,” tuturnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Sosial Republik Indonesia, Robben Rico menjelaskan bahwa pada tahap ketiga ini, pemerintah merencanakan pembangunan 200 Sekolah Rakyat. Setiap Sekolah Rakyat nantinya memiliki kapasitas sekitar 2.000 siswa, meningkat dari sebelumnya yang mencapai 1.000 siswa.
Ia menilai peningkatan kapasitas tersebut menjadi tantangan bersama, termasuk dalam penyediaan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran khususnya pembangunan perpustakaan sebagai ruang belajar yang nyaman dan menarik bagi para siswa.
“Saya berharap perpustakaan dapat menjadi salah satu ruang yang paling diminati siswa selama menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat. Oleh karena itu, kolaborasi dengan Perpusnas dalam menyusun perencanaan pembangunan perpustakaan menjadi penting agar perpustakaan yang dibangun memiliki kualitas yang baik, sesuai dengan standar dan ketentuan yang berlaku,” pungkas Robben.*** (AL/Ed: BS/Dok: ATK)
Galeri








