Perpusnas dan The Conversation Indonesia Jajaki Kerja Sama Publikasi Ilmiah
Medan Merdeka Selatan, Jakarta–Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, beserta jajaran menerima audiensi The Conversation Indonesia (TCID), media nirlaba global yang berfokus pada diseminasi sains dan riset dari kalangan akademisi dan peneliti, Selasa (2/9/2025).
CEO dan Publisher TCID, Prodita Sabarini, menjelaskan TCID hadir sejak 2017 di Indonesia melalui kolaborasi awal dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), dan menjadi satu-satunya edisi The Conversation di kawasan Asia.
“Fokus utama kita adalah membumikan sains dengan menggunakan bahasa umum dan populer dari peneliti-peneliti di Indonesia agar masyarakat mendapatkan akses terhadap informasi berkualitas berdasarkan riset,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa tujuan audiensi ini adalah untuk menjajaki peluang kerja sama dengan Perpusnas.
“Tujuan kami di sini ingin mengembangkan hubungan yang lebih erat dengan Perpusnas dan berharap kita bisa berdiskusi untuk mengeksplorasi kerja sama kedepannya,” jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Perpusnas, menyambut baik peluang kerja sama kedua belah pihak dan menurutnya, pustakawan memiliki potensi besar untuk dapat berkontribusi menjadi penulis di TCID.
“Banyak pustakawan di Perpusnas, memiliki pekerjaan yang berbasis riset dan ilmu pengetahuan misalnya teman-teman di bidang preservasi naskah dimana tidak semua orang dapat dengan cepat memahaminya. Mereka harus mengetahui dari mulai jenis dan usia kertas, serta campuran kimia yang digunakan untuk memperbaiki kertas tersebut,” urainya.
Selain bidang preservasi, lanjutnya, terdapat bidang lain yang dapat dieksplorasi lebih lanjut seperti misalnya penulisan mengenai ilmu perpustakaan, filologi atau praktik literasi bersama masyarakat.
Lebih lanjut, ia menyampaikan melalui publikasi di TCID, suara pustakawan dapat memiliki nilai lebih dan terdengar luas di masyarakat.
“Masyarakat bisa melihat bahwa kepakaran perpustakaan tidak hanya sebatas menyusun buku di rak atau melayani kebutuhan dasar pemustaka. Lebih dari itu, pustakawan juga memiliki kompetensi yang jauh lebih tinggi dan layak disampaikan kepada masyarakat,” tuturnya.
Senada, Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara, Suharyanto, menyampaikan bahwa tulisan-tulisan dan pesan-pesan Pustakawan Perpusnas sudah menembus forum pertemuan pustakawan asia tenggara dan bahkan internasional.
“Keunikan tulisan kami terletak pada praktik baik yang memang dialami langsung oleh Perpusnas. Seperti yang disampaikan Pak Kepala, kami adalah ahlinya, dan Perpusnas menuliskan praktik baik berdasarkan pengalaman nyata. Ini menjadi nilai lebih jika tulisan dari Perpusnas dapat dimuat di TCID,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Biro Hukum, Organisasi, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat, Sri Marganingsih, melihat peluang kolaborasi untuk penyebaran informasi melalui laman TCID dengan Perpusnas.
“Di TCID tersedia banyak artikel yang bermanfaat. Peluang kerja sama dapat diwujudkan misalnya ketika masyarakat mengakses laman Perpusnas, mereka juga bisa menemukan artikel dari TCID melalui tautan atau tanda khusus yang langsung mengarahkan ke TCID,” pungkasnya.
Dokumentasi: Andri Tri Kurnia
Reporter: Anastasia Lily
Galeri







