Perpusnas Dorong Literasi Jadi Daya Ungkit Bangsa, Festival Bantul 2025 Jadi Momentum

Gallery image

Perpusnas Dorong Literasi Jadi Daya Ungkit Bangsa, Festival Bantul 2025 Jadi Momentum

Bantul, Yogyakarta — Festival Literasi Perpustakaan Daerah (Perpusda) Bantul 2025 resmi dibuka di Pendopo Komplek Pemda II Manding, pada Rabu (1/10/2025). Acara berlangsung meriah dengan dihadiri Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, jajaran Forkopimda, kepala perangkat daerah se-DIY, komunitas literasi, akademisi, penerbit, hingga pelaku UMKM.

Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) E. Aminudin Aziz, yang diwakili Kepala Biro Hukum, Organisasi, Kerja Sama, dan Humas Sri Marganingsih, menegaskan bahwa literasi adalah keterampilan hidup yang berdampak luas bagi pendidikan, ekonomi, dan ketahanan sosial.

“Festival literasi adalah titik temu ekosistem pengetahuan, antara lain pemerintah, perpustakaan, sekolah, komunitas, UMKM, media, dan keluarga. Jika semua bergerak serempak, literasi menjadi daya ungkit yang nyata,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menegaskan bahwa bangsa dengan indeks literasi tinggi terbukti memiliki kehidupan yang lebih makmur, damai, dan beradab. Ia mencontohkan negara-negara Skandinavia seperti Finlandia dan Denmark, yang dikenal memiliki budaya literasi kuat, sehingga mampu menguasai teknologi, menjaga tatanan sosial, dan menekan kriminalitas.

“Bangsa dengan tradisi literasi tinggi akan melahirkan masyarakat yang skeptis dan kritis, tidak mudah termakan hoaks, serta mampu membaca gejala sosial dan alam secara bijak. Literasi bukan sekadar membaca, tetapi pondasi peradaban dan kemajuan bangsa,” tegas Bupati.

Ia juga menyampaikan bahwa gedung baru Perpustakaan Umum Kabupaten Bantul yang terletak di pusat kota telah menjadi simbol gerakan literasi. Hal ini terbukti dari lonjakan kunjungan perpustakaan hingga lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

”Kami menempatkan perpustakaan di jantung Kabupaten Bantul sebagai spirit, bahkan ka’bah gerakan literasi. Dari sini kita ingin menumbuhkan generasi yang lebih sibuk dengan aktivitas literasi, agar cita-cita mereka menjadi dokter, insinyur, hingga pilot dapat diwujudkan melalui ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Bupati juga mengajak seluruh guru, pamong desa, dan pegiat literasi di Bantul untuk bersama-sama membangun tradisi literasi di keluarga dan komunitas. “Tugas ini mulia. Kita ingin generasi muda Bantul lebih cerdas, berdaya, dan bermanfaat bagi bangsa,” tambahnya.

Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Bantul, Sukrisna Dwi Susanta, melaporkan bahwa festival berlangsung selama 1–3 Oktober 2025 dengan dukungan DAK Non-Fisik Perpusnas.

Festival menghadirkan 65 stand pameran, meliputi sekolah, komunitas baca, UMKM kreatif, layanan perpustakaan, serta 20 penerbit buku yang menggelar bazar dan diskon. Selain itu, digelar pula pentas seni tradisional dan modern, gelar budaya lokal, lomba bertutur jenjang SD/MI, serta senam sehat literasi.

Sukrisna juga menegaskan bahwa gedung perpustakaan baru yang diresmikan tahun 2024 kini menjadi magnet literasi.

”Jumlah pengunjung meningkat 100,1% dari 26.923 orang di tahun 2024 menjadi 52.877 hingga September 2025. Perpustakaan kini menjadi rumah bersama, bukan sekadar rumah buku,” jelasnya.

Dalam arahannya, Perpusnas RI menyampaikan empat agenda strategis penguatan literasi di Bantul dan DIY, yaitu pemerataan akses layanan dengan koleksi ramah difabel, layanan keliling, pojok keluarga, dan integrasi digital; penguatan literasi informasi dan digital untuk melawan hoaks dan banjir data; kemitraan multipihak yang menghubungkan literasi dengan ekonomi kreatif, pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat; serta tata kelola berkelanjutan dengan anggaran memadai, indikator terukur, dan evaluasi transparan.

Festival Literasi Bantul 2025 diharapkan memperkuat ekosistem literasi sekaligus mempertegas identitas Bantul sebagai kabupaten yang peduli pada pengembangan literasi. Kegiatan ini menjadi bukti sinergi pemerintah pusat, daerah, komunitas, dan masyarakat dalam menumbuhkan budaya baca yang inklusif, kritis, dan berkelanjutan.

Sri Marganingsih menutup dengan menekankan peran pustakawan dan relawan sebagai energi moral gerakan literasi. ”Pustakawan hari ini bukan sekadar penjaga buku, tetapi navigator informasi dan fasilitator komunitas. Dari tangan mereka lahir kisah perubahan yang memberi harapan hingga ke pelosok desa,” tandasnya.

 

Reporter & Dokumentasi: Arwan Subakti

Galeri