Perpusnas Dorong Modernisasi Layanan Perpustakaan Sekolah Rakyat, Integrasikan Sistem InlisLite dan Kode Batang
Jakarta — Humas Perpusnas. Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Adin Bondar, menegaskan komitmen Perpusnas untuk merekonstruksi layanan perpustakaan di Sekolah Rakyat (SR) melalui modernisasi sistem, termasuk penerapan otomasi Integrated Library System (Inlislite) dan barcode (kode batang), agar layanan peminjaman buku bagi siswa dapat dilakukan secara lebih praktis dan efisien.
"Kami berkeinginan merekonstruksi layanan perpustakaan. Ini akan menjadi bagian dari pembangunan sistem InlisLite dan Online Public Access Catalog (OPAC). Nanti anak-anak kita, kalau meminjam buku tidak perlu manual, cukup dengan memindai kode batang. Jadi modernisasi layanan ini akan kita bangun dan terintegrasi sehingga kita tidak bekerja untuk hari ini selesai, tetapi pekerjaan melalui sistem ini akan berkesinambungan nanti," ujarnya, secara daring, Selasa (1/9/2026).
Adin menambahkan bahwa nantinya sistem tersebut akan disesuaikan dengan layanan perpustakaan digital yang dimiliki Perpusnas, sehingga layanan di SR tidak berdiri sendiri melainkan terhubung dengan ekosistem layanan Perpusnas secara nasional.
Selain itu, ia juga menekankan seluruh sarana dan prasarana yang diberikan merupakan aset negara yang harus dikelola dengan tertib agar tidak menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Adin berharap penanganan sarana pendukung, termasuk anjungan baca digital, dapat rampung hingga akhir tahun.
Rapat Koordinasi Kebutuhan Peralatan Pendukung Perpustakaan Sekolah Rakyat Tahun 2026 ini digelar secara khusus bersama Kementerian Sosial (Kemensos) untuk membahas kebutuhan mendesak sarana pendukung operasional 412 perpustakaan SR dalam cakupan program 2025–2026.
Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan Sekolah/Madrasah dan Perguruan Tinggi Perpusnas, Taufiq A. Gani, menjelaskan bahwa dari hasil pemantauan di lapangan, banyak perpustakaan yang masih mengandalkan komputer pinjaman dari unit lain karena belum memiliki perangkat sendiri.
Kondisi tersebut menjadi dasar bagi Perpusnas guna mengalokasikan dua unit komputer bagi setiap perpustakaan, satu untuk pustakawan dan satu lainnya untuk pemustaka, sehingga totalnya mencapai 824 unit untuk 412 perpustakaan. Kebutuhan ini didukung UPS berkapasitas hingga 2.000 VA yang mampu bertahan sekitar 15 menit agar petugas sempat melakukan shutdown aman saat listrik padam mendadak, mengingat kondisi serupa pernah membuat anjungan baca digital di sejumlah lokasi mengalami gangguan (crash). Kebutuhan lain yang dibahas meliputi printer barcode, label barcode, dan barcode reader, agar pengelolaan koleksi dapat berjalan mandiri tanpa terus bergantung pada bantuan dari luar.
“Perpusnas telah mengajukan tambahan anggaran yang diperkirakan segera turun sebagai Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) pada September ini. Untuk itu, diharapkan seluruh pihak dapat mempercepat koordinasi mengingat waktu pelaksanaan program yang semakin mendekati akhir tahun anggaran,” pintanya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Biro Umum Kemensos, Yadi Muchtar, menyampaikan bahwa pihaknya juga berencana melakukan pengadaan sekitar 202 unit komputer pada 2026, menyesuaikan dengan gedung SR permanen yang telah siap secara sarana dan prasarana.
"Ini menurut saya akan bisa kita optimalkan dalam rangka mendukung Perpusnas. Kami juga meminta ke depannya ada semacam diklat atau bimtek untuk para pengelola pustaka di sana, supaya bisa melakukan pengelolaan perpustakaan dengan baik," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemensos, Joko Widiarto, menyatakan kesiapan pihaknya dalam mendukung penyediaan akses jaringan internet di lokasi SR.*** (AKN/Ed: BS/Dok: AIF)






