Perpusnas Dukung GCLA 2026 sebagai Ruang Kreativitas dan Literasi Anak di Kancah Global
Jakarta — Humas Perpusnas. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) mendukung penyelenggaraan Global Children’s Literacy and Art Initiative (GCLA) 2026. GCLA sebagai ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan kreativitas melalui literasi, seni, dan sastra.
Dalam pembukaan GCLA 2026 di Ruang Pameran Perpusnas, Jakarta, Minggu (6/9/2026), Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, menyampaikan dukungan Perpusnas. Ia menyebutkan, menjadikan Perpusnas sebagai ruang pamer karya sekaligus tempat anak-anak mengenal perpustakaan dan berbagai fasilitas di dalamnya, merupakan dukungan nyata Perpusnas.
Suharyanto mengatakan bahwa keberadaan perpustakaan saat ini tidak hanya berkaitan dengan koleksi. Perpustakaan juga menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya anak-anak, untuk mengembangkan kreativitas. “Perpustakaan bukan hanya sebagai tempat koleksi, tetapi perpustakaan adalah tempat riset, tempat membaca, dan yang paling penting adalah tempat kreativitas untuk anak-anak,” ujarnya.
Menurutnya, karya anak yang lahir dari literasi, seni, dan sastra berpotensi memberikan dampak bagi kemajuan bangsa. Berkarya sejak dini dapat menjadi bekal bagi anak untuk tumbuh sebagai generasi yang kreatif sekaligus bagian dari peradaban bangsa. “Dimulai dari anak-anak berkarya, ini menjadi panutan, menjadi teladan sebagai peradaban bangsa. Jadi bekal hari ini anak-anak disematkan literasi, seni, dan sastra. Apalagi tempatnya di Perpusnas,” tuturnya, yang turut terlibat dalam penyerahan medali kepada 30 pemenang lomba cerpen, puisi, dan lukisan dari berbagai kategori usia.
Untuk memastikan dampak kegiatan dapat berlangsung lebih luas, ia menekankan agar kegiatan yang mendorong anak berkarya tidak berhenti pada satu momentum. Selain keberlanjutan program, peran orang tua, guru, dan pendamping juga dianggapnya penting dalam menjaga semangat anak-anak untuk terus berkarya dan berinovasi.
Di sisi lain, pemanfaatan media sosial perlu dilakukan untuk memperkenalkan berbagai praktik baik tersebut kepada masyarakat secara lebih luas. “Semua kegiatan-kegiatan yang dilakukan hari ini dan yang akan datang harus ada di media sosial, harus dipromosikan agar masyarakat luar bisa melihat kegiatan-kegiatan ini, dan pastinya menjadi praktik baik dalam kegiatan-kegiatan literasi, seni, dan sastra,” jelasnya.
GCLA 2026 memiliki keterkaitan dengan momentum Hari Aksara Internasional ke-60 dan rangkaian Hari Kunjung Perpustakaan. Melalui momentum tersebut, perpustakaan didorong menjadi ruang belajar, membaca, penelitian, kreativitas, dan inovasi. Sebagai bagian dari komitmen mendekatkan literasi kepada anak sejak usia dini, Perpusnas menyediakan fasilitas layanan anak di lantai tujuh yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara luas.
Selain itu, Perpusnas akan meluncurkan 50 buku anak dan komik hasil alih wahana naskah kuno Nusantara, serta 25 komik dan buku anak seri Babad Diponegoro dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Program tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan kekayaan budaya dan sejarah Nusantara kepada anak-anak sekaligus menjangkau pembaca di tingkat global.
Kegiatan ini merupakan inisiatif perdana Yayasan Nalexa Birru Nusantara yang memberikan ruang bagi anak usia 6 hingga 18 tahun untuk berkarya dan berlangsung pada 6–12 September 2026 di Perpusnas.
Founder Nalexa Birru Nusantara, Ira Diana, menyatakan bahwa penyelenggaraan GCLA 2026 diikuti 432 karya anak dari lima negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Korea Selatan, India, dan Palestina. Ia menegaskan, capaian para pemenang tidak semata-mata dilihat sebagai kompetisi. “Kiprah anak-anak Indonesia di mata global juga cukup diakui. Kita bukan bersaing, tapi bersama-sama membangun literasi dan seni budaya, kemudian juga bertukar informasi, pengetahuan tentang budaya Indonesia, misalnya budaya negara-negara lain,” ucapnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Feri Arlius, menuturkan bahwa anak-anak tidak cukup hanya menjadi pengguna budaya, tetapi perlu didorong untuk menjadi pencipta sekaligus pewaris kebudayaan. Karena itu, kreativitas dan kebudayaan perlu terus dikembangkan sebagai bagian dari bekal generasi masa depan. “Teruslah membaca, teruslah bertanya, teruslah berkarya. Insya Allah ini akan menjadi bekal ke depan,” pesannya kepada anak-anak.
Manfaat keberadaan perpustakaan dalam proses berkarya juga dirasakan langsung oleh peserta GCLA 2026. Ibu dari Nadya Khairani Basrul, pemenang ketiga lomba puisi kategori usia 11–15 tahun, menceritakan bahwa putrinya memanfaatkan Perpusnas untuk membaca dan melakukan riset sebelum mengikuti lomba.
“Perjuangan dia untuk bisa ikut lomba itu luar biasa. Dia sampai riset, dia sampai baca buku terus-terusan. Bolak-balik ke Perpusnas, dia pinjam buku juga,” ungkapnya.
Keberhasilan Nadya meraih juara dalam kompetisi tingkat internasional menjadi pengalaman yang membanggakannya sekaligus menunjukkan pentingnya dukungan terhadap anak dalam mengembangkan minat baca dan kemampuan berkarya. Ia berharap dukungan terhadap kegiatan literasi dan seni anak dapat terus berlanjut dan semakin berkembang pada tahun-tahun berikutnya. *** (AKN/Ed: DRS/Dok: AIF)
Galeri










