Perpusnas Hidupkan Kembali Nilai Luhur Kisah Panji melalui Kolaborasi Kebudayaan

Gallery image

Perpusnas Hidupkan Kembali Nilai Luhur Kisah Panji melalui Kolaborasi Kebudayaan

Medan Merdeka Selatan– Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) bersama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenbud) berkolaborasi menyelenggarakan Seminar Sastra dan Budaya Panji Sepanjang Masa dan Pameran Cerita Panji: Kelana Sepanjang Masa, Selasa (4/11/2025).

 

Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kemenbud, Restu Gunawan, menilai kisah Panji memiliki potensi besar sebagai alat diplomasi budaya karena penyebarannya telah dikenal di berbagai wilayah Asia Tenggara. 

 

“Panji bisa menjadi alat diplomasi yang kuat. Kita ingin memastikan bahwa nilai-nilai Panji hidup tidak hanya di Indonesia, tapi juga di ritual keseharian masyarakat Asia Tenggara,” jelasnya.

 

Ia menjelaskan,dengan penggalian nilai-nilai budaya mendalam seperti pada kisah Panji juga dapat memperkuat jati diri dan kepercayaan diri bangsa.

 

“Kita ini sebagai bangsa kadang kurang percaya diri karena terlalu lama dijajah. Padahal, kebudayaan kita telah berpengaruh luas. Kita jarang berbicara tentang bagaimana Indonesia mempengaruhi kebudayaan dunia,” jelasnya.

 

Restu juga mendorong agar generasi muda turut berinovasi dalam menghidupkan kembali kisah Panji melalui berbagai media kreatif. 

 

“Ceritakan Panji lewat film, animasi, komik, dan karya seni. Buatlah kaos Panji, cenderamata Panji, dan daftarkan intellectual property-nya. Sehingga orang dan anak-anak khususnya lebih mudah mengingat kisah ini,” tuturnya.

 

Ia menambahkan bahwa pemajuan kebudayaan tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan kolaborasi lintas sektor dengan pemerintah, komunitas, dan individu masyarakat.

 

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Perpusnas yang sudah berkolaborasi. Ini bukan yang pertama, kita sudah sering melakukan aktivasi bersama, baik lewat pameran, seminar, maupun kegiatan kebudayaan lainnya,” ungkapnya.

 

Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, menyampaikan kisah Panji bukan hanya legenda melainkan cermin peradaban sebuah narasi yang menandai kejayaan akal, rasa dan budi manusia Nusantara. 

Kisah Panji yang lahir dari lingkungan Jawa dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah seperti Bali, Lombok, Kalimantan, hingga Semenanjung Melayu, menghadirkan narasi cinta, perjalanan dan pencarian jati diri yang sarat dengan simbolisme dan nilai moral.

 

“Melalui pameran dan diskusi hari ini, kita diajak menelusuri bagaimana kisah Panji tidak hanya menjadi warisan sastra tetapi juga menjadi wahana pembentukan identitas budaya sekaligus bukti keterhubungan intelektual dan artistik di antara berbagai tradisi lokal Nusantara,” jelasnya.

 

Sebagai sebuah karya, lanjutnya, cerita Panji tumbuh dari semangat untuk menegakkan jati diri. “Di tengah bayang pengaruh sastra India yang begitu kuat, masyarakat Jawa menulis kisahnya sendiri. Dari tangan mereka lahirlah dunia Panji sebuah ruang dimana bahasa, nilai dan imajinasi lokal menemukan bentuknya yang utuh,” tuturnya.

 

Suharyanto menambahkan, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang terkandung dalam cerita Panji melalui inovasi dan alih wahana. 

 

“Pada tahun 2024, Perpusnas telah memulai program Bahan Bacaan Bermutu untuk anak-anak dimana naskah-naskah Nusantara dialihwahanakan ke dalam bentuk komik anak. Tahun 2025, langkah ini berlanjut dengan upaya mengalihwahanakan naskah kuno Nusantara ke bentuk animasi, agar dapat dinikmati oleh masyarakat luas, terutama generasi muda,” urainya.

Dalam kesempatan ini, anggota Komite Nasional Memory of the World (MoW), Wardiman Djojonegoro, memaparkan kisah Panji memiliki beberapa keistimewaan yang menjadikannya warisan budaya penting bagi bangsa Indonesia.

“Naskah Panji merupakan sastra klasik tertua di Nusantara. Kisah ini sudah dikenal sejak abad ke-13 hingga abad ke -14. Dan pada masa Majapahit abad ke-15, mulai tersebar ke berbagai wilayah di Nusantara. Selanjutnya pada tahun 1800-an, Panji menyebar ke Malaysia dan akhirnya ke Asia Tenggara,” jelasnya.

Ia menambahkan, keistimewaan lain dari kisah Panji terletak pada pengaruhnya terhadap berbagai bentuk kesenian tradisional di Indonesia seperti pada tarian, teater, relief candi, seni topeng dan wayang.

Guru Besar Departemen Arkeologi Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar, menegaskan bahwa kisah Panji memiliki arti penting dalam memahami kebudayaan Indonesia karena menggambarkan kehidupan dan nilai-nilai asli masyarakat Nusantara.

“Tokoh-tokoh dalam kisah Panji adalah para ksatria dan putri-putri di kerajaan Jawa, bukan kerajaan India. Gambaran geografisnya pun mencerminkan kondisi alam Jawa, seperti gunung, sungai, dan lembah yang nyata di tanah kita,” jelas Agus. 

 

Ia menjelaskan, berbagai elemen kebudayaan yang muncul seperti keraton, keputren, pertapaan, pasar, desa, busana, hingga senjata menunjukkan kekhasan Jawa kuno, bukan pengaruh budaya India. Hal ini menjadi bukti bahwa kisah Panji adalah karya sastra yang sepenuhnya berakar pada kebudayaan Indonesia.

 

Perwakilan Komunitas Seni Budaya BrangWetan, ⁠Henri Nurcahyo, menyampaikan cerita Panji tidak harus terkait dengan masa lalu dan menjadi klangenan belaka. Cerita Panji juga dapat ditransformasi menjadi kekinian dan spirit cerita Panji dapat menjadi inspirasi karya seni kontemporer.

 

“Seperti misalnya Pameran Seni Rupa Kontemporer bertema Panji oleh Kemendikbudristek pada tahun 2018, film animasi “Panji Semirang” karya siswa SMK TI Global Bali sebagai pengembangan cerita panji untuk generasi muda serta komik digital yang membuat kisah Panji  lebih akrab dengan anak-anak muda. Selain itu,  dosen Fakultas Industri Kreatif (FIK) Universitas Surabaya (Ubaya) membuat board game Kridha Wira Satya, permainan papan yang mengangkat nilai-nilai kepahlawanan dari cerita Panji,” urainya.

 

Reporter: Anastasia Lily

Dokumentasi: Alditta Khoirun Nisa

 

Galeri