Perpusnas-Kemenko PMK Kompak Rumuskan Strategi Tingkatkan Budaya Literasi
Jakarta–Humas Perpusnas. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menghadiri Rapat Koordinasi Peningkatan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) Dimensi Budaya Literasi yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).
Agenda kegiatan yang digelar luring, Senin (15/6) ini adalah merumuskan strategi bersama untuk meningkatkan minat baca masyarakat, akses informasi, serta kunjungan ke perpustakaan sebagai indikator utama dalam dimensi budaya literasi pada IPK.
Membuka rapat, Asisten Deputi Pemajuan dan Pelestarian Kebudayaan Kemenko PMK, Ahmad Saufi mengatakan bahwa budaya literasi menjadi salah satu fondasi penting dalam pembangunan kebudayaan nasional. Menurutnya, literasi merupakan pintu masuk yang dapat mendorong peningkatan berbagai dimensi pembangunan kebudayaan lainnya.
"Literasi adalah jembatan, pintu masuk untuk mewujudkan ke dimensi-dimensi lain. Karena itu, diperlukan langkah bersama dan rencana aksi yang terintegrasi untuk meningkatkan budaya literasi masyarakat," ujarnya.
Ahmad menjelaskan berdasarkan hasil pengukuran IPK Tahun 2024, skor dimensi budaya literasi mencapai 64,40. Capaian tersebut ditopang oleh tiga indikator utama, yakni persentase minat baca, persentase mengakses internet, dan persentase kunjungan perpustakaan/TBM.
Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas, Adin Bondar menyampaikan bahwa indikator budaya literasi dalam IPK memiliki keterkaitan erat dengan tugas dan fungsi Perpusnas. Menurutnya, data yang menunjukkan persentase minat baca masyarakat, sejalan dengan berbagai kajian yang dilakukan Perpusnas mengenai tingkat kegemaran membaca masyarakat.
Adin mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar 219 ribu perpustakaan dari berbagai jenis yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun, hanya sekitar 7,7 persen atau sekitar 16.900 perpustakaan yang telah memenuhi Standar Nasional Perpustakaan (SNP). Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk terus memperkuat layanan perpustakaan agar semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Untuk meningkatkan budaya literasi masyarakat, Perpusnas terus menjalankan berbagai program strategis antara lain Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), pengembangan perpustakaan desa, penyediaan bahan bacaan bermutu, penguatan relawan literasi, hingga pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi bersama perguruan tinggi.
Adin menjelaskan melalui berbagai program tersebut Perpusnas mendorong transformasi perpustakaan agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga menjadi ruang belajar dan pemberdayaan masyarakat.
"Kami tidak lagi melihat perpustakaan sebagai ruang repository pengetahuan saja, tetapi juga ruang kreativitas dan pembelajaran kontekstual yang dapat meningkatkan keterampilan hidup masyarakat," jelasnya.
Melalui rapat koordinasi ini, Adin berharap dapat menyusun langkah bersama yang saling terintegrasi dalam mendukung peningkatan budaya literasi nasional. Perpusnas berharap sinergi dan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga dapat semakin diperkuat dalam upaya meningkatkan budaya literasi nasional.
Dengan dukungan berbagai pihak, budaya literasi diharapkan semakin tumbuh dan berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia serta pembangunan kebudayaan Indonesia secara berkelanjutan. Penguatan literasi tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kemampuan membaca, tetapi juga menjadi fondasi bagi pengembangan pengetahuan, kreativitas, dan keterampilan masyarakat.*** (FM/Ed: BS/Dok: ATK)
Galeri







