Perpusnas Perkaya Khazanah Sastra Religi Lewat Peluncuran Novel Baru
Jakarta – Humas Perpusnas. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menggelar peluncuran buku Bertabur Tasbih di Lereng Fuji karya Achmad Fachrodji. Peluncuran buku ini sebagai upaya Perpusnas dalam memperkaya khazanah novel religi dengan pendekatan lintas budaya dan latar internasional.
Peluncuran buku tersebut menghadirkan sejumlah tokoh, di antaranya Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz, Direktur Utama PT Balai Pustaka Achmad Fachrodji, serta sastrawan Kurnia Effendi. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi literasi yang membedah isi, pesan, kekuatan naratif novel, serta memperkenalkan karya kepada publik, khususnya generasi muda pembaca.
Direktur Utama PT Balai Pustaka, Achmad Fachrodji, menjelaskan bahwa novel ini lahir dari pengalaman pribadi yang dikembangkan menjadi perjalanan spiritual. “Jangan lupa ini bukan semata mata pendakian saja, tetapi perjalanan spiritual dari Pariaman ke Jepang, lalu kembali ke Pariaman lagi,” ujarnya.
Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, menilai novel tersebut memiliki sejumlah keunikan. “Sebagai penulis, ia berperan sebagai pendongeng. Ceritanya dibangun tanpa banyak twist. Kemudian yang menarik, memasukkan unsur pantun yang menjadi jati diri Pak Fachrodji sebagai kaisar pantun,” ungkapnya.
Ia menyoroti penggunaan berbagai unsur bahasa, mulai dari bahasa Indonesia, bahasa daerah, hingga bahasa Jepang yang memperkaya narasi. “Sebagai bahasawan, saya melihat Trigatra Bangun Bahasa yang disampaikan,” ulasnya.
Sastrawan Kurnia Effendi turut mengapresiasi karya tersebut sebagai novel yang mengusung pesan moral kuat. “Novel ini dapat disebut sebagai novel religi, pendidikan, sekaligus pariwisata karena memuat unsur budaya, perjalanan, dan nilai-nilai kehidupan,” ujarnya. Menurutnya, karya ini juga relevan untuk generasi muda karena menghadirkan inspirasi dan teladan melalui tokoh-tokohnya.
Menanggapi karakter tokoh yang dinilai ideal, Fachrodji mengakui pendekatan tersebut sebagai pilihan naratif. “Saya ingin menghadirkan cerita yang tidak harus penuh konflik, tetapi tetap memberi semangat dan kebahagiaan bagi pembaca,” jelasnya.
Kepala Perpusnas menambahkan bahwa kehadiran novel ini menjadi bagian dari upaya memperkaya khazanah karya sastra religi yang telah ada. Namun demikian, yang membedakan adalah latar dan sudut pandang yang dihadirkan. “Novel ini menawarkan setting yang berbeda, yakni peran orang Indonesia sebagai diaspora yang turut memengaruhi masyarakat setempat. Ini menjadi sesuatu yang unik,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa novel tersebut menghadirkan cerita dan memperlihatkan peran yang dapat diambil oleh generasi muda. “Ada peran yang ditampilkan di novel ini untuk dimainkan. Artinya, peran sebagai pendakwah dapat dilakukan oleh para pemuda dengan cara yang relevan dan kontekstual,” pungkasnya.
Bertabur Tasbih di Lereng Fuji karya Achmad Fachrodji menceritakan tentang Muis, pemuda asal Pariaman, menorehkan prestasi gemilang selama magang di Jepang hingga meraih beasiswa di kampus ternama. Sikap santun dan nilai-nilai yang ia bawa justru menarik perhatian masyarakat Jepang terhadap Islam. Perjalanan Muis mencapai puncaknya saat mendaki Gunung Fuji, menghadirkan kisah penuh makna tentang perjuangan, persahabatan, dan spiritualitas. *** (SA/Ed:DRS/Dok:ATK)
Galeri









