Perpusnas Perkuat Ekosistem Literasi Sekolah Rakyat, Dorong Siswa Menjadi Pembaca Sekaligus Pencipta Karya
Jakarta – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) terus memperkuat dukungannya terhadap penyelenggaraan Program Sekolah Rakyat melalui pengembangan ekosistem literasi yang komprehensif. Dukungan tersebut tidak hanya diwujudkan melalui penyediaan ribuan buku bermutu dan anjungan baca digital, tetapi juga pembinaan pengelola perpustakaan, pelatihan guru dan kepala sekolah, hingga pengembangan kreativitas peserta didik agar menjadi pembaca sekaligus pencipta karya.
Kepala Perpustakaan Nasional RI E. Aminudin Aziz mengatakan Perpusnas telah dilibatkan sejak tahap awal perencanaan Program Sekolah Rakyat untuk merancang konsep perpustakaan sebagai pusat sumber belajar yang mampu mendukung proses pendidikan secara optimal.
"Kami diminta untuk menyiapkan konsepnya sejak awal. Maksudnya adalah bagaimana misalnya ruangan itu ditata, bagaimana penempatan buku, bagaimana memilih buku. Ini kami diminta sejak awal supaya memang penyelenggaraan kegiatan literasi di Sekolah Rakyat ini betul-betul optimal," ujar Aminudin dalam program BeritaSatu Siang di BTV, Selasa (14/7/2026).
Sebagai bentuk dukungan nyata, Perpusnas menyalurkan bantuan sarana perpustakaan kepada 150 lokus atau 224 Perpustakaan Sekolah Rakyat. Bantuan tersebut meliputi 1.500 buku untuk setiap Sekolah Rakyat jenjang SD, 1.500 buku untuk jenjang SMP, 1.000 buku untuk jenjang SMA, dua rak buku pada setiap jenjang, serta 142 anjungan pembaca dan 250 buku digital yang dilengkapi ratusan koleksi digital bagi sekolah yang memiliki jenjang SMP atau SMA. Seluruh koleksi dipilih berdasarkan usia, kemampuan membaca, dan minat peserta didik sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal dalam proses pembelajaran.
Menurut Aminudin, peran Perpusnas tidak berhenti pada penyediaan koleksi. Perpusnas juga memberikan pelatihan secara terstruktur kepada pengelola perpustakaan, kepala sekolah, dan guru agar mampu mengelola perpustakaan sebagai pusat kegiatan literasi sekaligus mendukung proses pembelajaran secara berkelanjutan.
"Kami memberikan pelatihan secara terstruktur kepada para pengelola perpustakaan di Sekolah Rakyat tentang kegiatan apa yang pantas dilaksanakan. Lalu kami juga menatar kepala sekolah supaya bisa memberikan supervisi kepada para pengelola perpustakaan, guru, hingga orang tua. Ini adalah pendekatan yang sangat terintegrasi supaya kegiatan di Sekolah Rakyat menghasilkan sesuatu," katanya.
Ia menegaskan bahwa pengalaman Perpusnas mendampingi Sekolah Rakyat sekaligus membantah anggapan bahwa anak-anak Indonesia memiliki minat baca yang rendah. Menurutnya, ketika peserta didik memperoleh bacaan yang sesuai dengan minat dan tingkat kemampuan membaca mereka, antusiasme terhadap buku justru tumbuh sangat tinggi. "Minat baca anak itu sesungguhnya sangat tinggi dan akan berkembang ketika minat itu dipenuhi dengan penyediaan buku yang sesuai dengan keinginan mereka," ujarnya.
Berdasarkan pengamatan Perpusnas di berbagai Sekolah Rakyat, buku bertema petualangan, tokoh inspiratif, keterampilan hidup, hingga cerita yang dekat dengan pengalaman sehari-hari menjadi bacaan yang paling diminati peserta didik. Bahkan, banyak siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu menunjukkan kreativitas tinggi setelah memperoleh akses terhadap bahan bacaan yang relevan.
Selain menyediakan bahan bacaan, Perpusnas juga mendorong peserta didik menghasilkan karya literasi. Melalui Anjungan Baca Digital, siswa dapat mengunggah cerita pendek dan berbagai karya kreatif sehingga dapat dibaca oleh guru, teman, maupun masyarakat. "Karya mereka ini ditampilkan di Anjungan Baca Digital. Ketika karya seseorang dibaca oleh teman-temannya, muncul persaingan yang positif sehingga mereka terdorong untuk terus berkarya," kata Aminudin.
Perpusnas juga memberikan pelatihan alih wahana kepada guru dan pengelola perpustakaan, yakni mengubah buku menjadi video animasi sebagai media pembelajaran yang lebih menarik. Hingga saat ini telah tersedia sekitar 180 karya digital hasil kreativitas peserta didik. Sementara itu, sekitar 1.180 cerita pendek karya siswa sedang melalui proses kurasi untuk diterbitkan dalam bentuk antologi. Perpusnas juga tengah mempersiapkan Festival Literasi Sekolah Rakyat sebagai ruang apresiasi terhadap karya-karya tersebut.
Menurut Aminudin, berbagai capaian tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan memiliki peran strategis dalam membangun kreativitas dan karakter peserta didik. "Saya ingin mengatakan bahwa peran Perpusnas ini menjadi sangat signifikan dan kelihatan nyata ketika pengelolaan perpustakaan di sekolah dilakukan dengan baik. Kreativitas anak-anak Sekolah Rakyat luar biasa, tidak kalah dengan anak-anak yang sekolah di sekolah biasa," ujarnya.
Di luar Program Sekolah Rakyat, Perpusnas juga terus memperluas gerakan literasi melalui berbagai program nasional, di antaranya bantuan 1.000 buku bagi perpustakaan desa dan taman bacaan masyarakat, penyediaan koleksi bacaan di puskesmas, bantuan buku bagi komunitas, penguatan Relawan Literasi Masyarakat di ratusan wilayah, serta pelaksanaan KKN Tematik Literasi bersama 23 perguruan tinggi pada sekitar 1.000 lokus di berbagai daerah di Indonesia.
Menutup wawancara, Aminudin mengajak seluruh masyarakat menjadikan membaca sebagai budaya yang terus dipupuk untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
"Membaca itu adalah modal dasar untuk menjadi seorang yang literat. Tidak ada sebuah negara, bangsa, atau kelompok masyarakat yang akan maju tanpa kemampuan literasi yang tinggi. Oleh karena itu, mari kita tingkatkan kemampuan literasi kita supaya kita menjadi manusia yang bermartabat," pungkasnya. *** (AS/Ed:AS/Dok: AA).
Galeri









