Perpusnas Petakan Capaian Literasi Priangan Timur, Buktikan Ekosistem Literasi di Daerah Bergerak

Gallery image

Perpusnas Petakan Capaian Literasi Priangan Timur, Buktikan Ekosistem Literasi di Daerah Bergerak

Tasikmalaya, Jawa Barat—Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) memperkuat kolaborasi multipihak dalam gerakan literasi melalui Seminar Penguatan Kemitraan dalam Gerakan Literasi di Pusat Budaya Pagerageung, Tasikmalaya, Sabtu (29/11/2025). 

Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, menyampaikan bahwa di wilayah Priangan Timur, program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) telah tersebar di berbagai daerah. Kota Banjar tercatat paling banyak dengan 9 lokus, disertai distribusi program bahan bacaan bermutu di 16 lokus Kota Tasikmalaya hingga 129 lokus di Kabupaten Ciamis. Selain itu, Perpusnas menggandeng mahasiswa melalui KKN Tematik Literasi di dua lokus Kabupaten Pangandaran, serta menjalankan program Relawan Literasi Masyarakat (ReLima) yang saat ini terealisasi di Kabupaten Ciamis dengan dua relawan. 

"Rangkaian intervensi ini menunjukkan bahwa ekosistem literasi di daerah bergerak, dan Perpusnas hadir untuk memperkuatnya agar perpustakaan semakin relevan dan berdampak," tegasnya. 

Aminudin juga menyoroti kondisi literasi pelajar Indonesia yang masih memerlukan perhatian serius. Berdasarkan asesmen nasional Kemendiktisaintek (dulu Kemendikbudristek), hanya 50% siswa dapat memahami bacaan dengan benar, sementara 66% belum memiliki kemampuan numerasi dasar yang memadai. 

“Dua dari tiga anak tidak memahami hitungan dasar. Banyak anak membaca tetapi tidak menangkap maknanya. Ini menunjukkan perlunya penguatan budaya membaca sejak dini,” ujarnya.

Menurutnya, literasi tidak cukup dipahami sebagai aktivitas membaca. “Literasi adalah kemampuan memahami teks dan konteks. Membaca bukan sekadar banyaknya buku, tetapi kemampuan menghubungkan informasi dengan situasi dan makna yang tepat,” jelasnya. 

Ia menambahkan bahwa manusia literat adalah mereka yang mampu menganalisa, mensintesa, menilai, hingga mencipta. "Jika ingin mencari kebenaran data, jangan ke dukun, datanglah ke perpustakaan. Di sanalah sumber pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan," sambungnya.

Terkait kebijakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang mendorong siswa membuat resensi buku, Aminudin menyatakan dukungan penuhnya. "Saya mendukung 1000 persen. Anak-anak harus lebih banyak membaca, tidak hanya teks pelajaran, tetapi juga bacaan fiksi dan buku berkualitas yang menumbuhkan daya pikir," tuturnya.

Sejak memimpin Perpusnas, ia memastikan pemerataan buku bermutu terus diperluas. Perpusnas telah mendistribusikan buku bacaan ke 10.000 lokus desa dan ribuan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), masing-masing hingga 1.000 eksemplar buku.

Lebih lanjut, Aminudin menekankan pentingnya kemitraan multipihak dalam menggerakkan literasi, mulai dari komunitas literasi, sekolah, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah. "Mari kita bekerja bersama. Perpusnas, Kemendiktisaintek, Kemendagri, dan masyarakat harus bergerak serempak agar anak-anak mendapatkan akses bacaan bermutu," ajaknya.

Dengan tagline "Perpustakaan hadir demi martabat bangsa," ia menegaskan peran perpustakaan sebagai bagian integral dari sistem pendidikan serta pusat pemberdayaan masyarakat melalui budaya baca, kecakapan literasi, dan penguatan koleksi nasional. 

Pada kesempatan yang sama, Pimpinan Padepokan Seni Bumi Ageung, Taufik Faturahman, memperkenalkan komunitas Klinik Basa, sebuah wadah pembelajaran Bahasa Sunda yang telah berjalan selama 18 tahun melalui siaran radio dan media sosial. “Klinik Basa memiliki sekitar 150 anggota yang belajar bersama menjaga kaidah bahasa Sunda dengan baik dan benar,” ucapnya.

Taufik juga menilai peran guru di era sekarang semakin berat karena harus mengajar sekaligus menghadapi tantangan administratif dan sosial. Ia menekankan perlunya memasifkan kebermanfaatan Perpusnas oleh masyarakat daerah sebagai sumber informasi yang otoritatif.

Seminar kolaborasi Perpusnas dan Klinik Basa ini turut menghadirkan narasumber dari Perpusnas, Aditia Gunawan, filolog dan peneliti naskah kuno. Kegiatan ini diikuti peserta dari kalangan guru Bahasa Sunda, praktisi literasi, serta perwakilan berbagai kabupaten/kota di Priangan Timur seperti Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Bandung Barat, Pangandaran, Banjar, Kota Bandung, Kota Tasikmalaya, hingga Cimahi. Enam perguruan tinggi dari Tasikmalaya, Garut, dan Ciamis turut hadir dalam kegiatan ini. 

Sebagai informasi, kegiatan ini dihadiri 127 peserta dari berbagai kalangan dan menjadi momentum untuk memetakan capaian program literasi di Priangan Timur sekaligus memperluas jejaring kerja sama.

 

Reporter & Dokumentasi: Alditta Khoirun Nisa

Editor: Dyah R. Sugiyanto

Galeri