Perpusnas Punya Ribuan Koleksi Bacaan tentang Korupsi

Gallery image

Perpusnas Punya Ribuan Koleksi Bacaan tentang Korupsi

Medan Merdeka Selatan, Jakarta -  Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) memiliki sebanyak 1.236 Koleksi bahan bacaan dengan subjek korupsi,  pencehagan korupsi, dan tentang antikorupi. Koleksi ini dapat ditelusuri dan dimanfaatkan melalui Ipusnas, Bintangpusnas  Edu dan OPAC.

 

Demikian disampaikan Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, dalam Talkshow  Kisah Tokoh Integritas dan Ajakan Belajar Antikorupsi di Perpustakaan yang diselenggarakan di Gedung Fasilitas Layanan Perpustakaan Perpusnas , Kamis (6/11/2025).

 

"Semakin banyak kita membaca, semakin kita paham apa itu korupsi. Korupsi adalah kejahatan luar biasa yang harus kita lawan dengan pengetahuan dan kesadaran," ungkapnya.

 

Menurutnya, buku akan bermanfaat jika dibaca. Tetapi jika hanya dibaca tana menjadi hikmah, maka tidak akan memberikan berkas apapun. "Ketika membaca, ambil pelajarannya yang tidak baik jangan ditiru," lanjutnya.

 

Ia menekankan, bahwa budaya baca tidak dapat dibangun secara instan. Faktor lingkungan yang mendukung kebiasaan membaca menjadi salah satu kunci. "Saya tumbuh di keluarga sederhana, orang tua saja memang tidka membaca di depan kami. Tapi ada lingkungan yang membuat saya membaca, yakni kakak-kakak saya membawa buku dan Al-Qur'an. Dari situ tumbuh budaya membaca," terangnya.

 

Lebih lanjut, ia mengatakan, keluarga memiliki peran yang penting dalam membentuk ekosistem literasi. Ia mencontohkan, kampanye membaca tidak cukup hanya diserukan tetapi harus diteladani.

 

"Misalkan kalau orang tua mengajak membaca, tetapi malah asyik menonton TV atau bermain gawai, tentu anak tidak akan membaca karena dia meniru yang dilakukan orang tuanya," katanya.

 

"Selain itu, pilih lah buku yang sesuai dengan minat baca kita. Jika ada sesuatu yang menarik, maka budaya baca akan terbangun," imbuhnya.

 

Sementara itu, Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Amir Arief menegaskan, membaca adalah jendela dunia yang membuka wawasan, termasuk dalam memahami bahaya korupsi. "Ada satu tempat di bumi ini yang luasnya lebih luas dari alam semesta, yaitu buku. Buku membuka imajinasi dan memperluas pengetahuan kita," katanya.

 

Amir menuturkan, membaca buku tentang korupsi dan integrotas dapat menumbuhkan  kesadaran moral sejak dini.

Korupsi itu kejahatan luar biasa. Semakin banyak kita membaca, semakin kita paham megapa korupsi harus dilawan," tuturnya.

 

Ia  juga mengutip teladan Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama RI, yang dikenal jujur dan sederhana. “Hatta pernah berkata, kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar, kurang cakap bisa diatasi dengan pengalaman, tetapi tidak jujur sulit diperbaiki,” katanya.

 

Kegiatan yang diselenggarakan oleh KPK bekerjasama dengan Perpusnas dan Inspektorat DKI Jakarta ini diikuti sebanyak150 siswa SMP se Jakarta Pusat. Turut hadir, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto.

 

Reporter: Wara Merdeka

Dokumentasi: Ahmad Kemal Nasution



Galeri