Perpusnas Repatriasi 42 Naskah Kuno dari Auckland, Selandia Baru

Gallery image

Perpusnas Repatriasi 42 Naskah Kuno dari Auckland, Selandia Baru

Auckland, Selandia Baru—Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) merepatriasi 42 naskah kuno Nusantara dari Auckland, Selandia Baru, Senin (24/11/2025). Naskah kuno ini sebelumnya dimiliki oleh seorang sarjana di bidang studi Jawa yang tidak asing di kalangan peneliti Indonesia, almarhum Timothy Behrend (disapa Pak Tim). 

Naskah-naskah koleksi yang direpatriasi ini mencerminkan luasnya minat Pak Tim terhadap tradisi naskah Nusantara. Koleksi naskah tersebut meliputi naskah-naskah beraksara dan berbahasa Jawa, Bali, serta Sasak dengan bahan naskah berupa kertas Eropa, daluang, bahkan lontar. 

Beberapa naskah ini merupakan bagian dari korpus besar pernaskahan Nusantara dari tradisi Jawa, Bali  dan Lombok seperti, Serat Yusup, Serat Ambiya, Serat Rama, Serat Cabolek, Babad Mataram, dan Menak Yasadipura. Berdasarkan kolofon pada beberapa naskahnya, naskah-naskah tersebut disalin sejak awal abad ke-18 seperti, Serat Yusup yang disalin pada tahun 1814, hingga naskah yang disalin pada tahun 1947 seperti Serat Cabolek.

Perpusnas telah memiliki pengalaman yang panjang dengan Timothy Behrend. Sejak tahun 1990-1993, saat digitalisasi belum marak seperti sekarang, Pak Tim bertindak sebagai pimpinan proyek pemikrofilman naskah-naskah Nusantara yang disponsori oleh Ford Foundation, mencakup naskah koleksi Perpusnas, Universitas Indonesia, dan Museum Sonobudoyo.

 

Sepak Terjang Tim Behrend

Berdasarkan catatan keluarga, Timothy Earl Behrend, lahir di Cleveland pada 17 Maret 1954. Ia adalah putra kedua dari Earl James (Jim) Behrend and Patricia (Pat) Mary née Ravencraft. Masa kecilnya, yang membentuk kepribadiannya, dihabiskan di kota Cleveland, hingga ia berusia 12 tahun. Empat tahun kemudian ia pindah bersama keluarganya ke Colorado, dan pada usia 16 tahun, Pak Tim tinggal di Long Beach, California.

Pak Tim lulus sekolah menengah atas pada tahun 1972. Ia kemudian mendaftar di Brigham Young University (BYU) di Provo, Utah, universitas yang didirikan oleh komunitas Mormon. Jalur studinya semula adalah pra-kedokteran, namun ia segera berbelok arah saat kelas Honors Summer Program dalam Bahasa Yunani Klasik memantik percikan api intelektualnya. Ia mengganti jurusannya menjadi studi klasik dan melahap begitu banyak buku. Ia lebih memilih menambah koleksi perpustakaannya daripada menggunakan uang kiriman ibunya untuk kebutuhan dasarnya, seperti sepatu

Pada 1974–1976, Pak Tim mengambil cuti dari BYU untuk menjalankan misi Mormon. Misi pertamanya adalah Indonesia dengan modal awal pengetahuan nol besar. Ia bersungguh-sungguh mempelajari bahasa Indonesia, dan menurut tradisi lisan keluarga, ia lebih fasih saat tiba di Indonesia dibandingkan banyak misionaris lain saat pulang dari Indonesia. Pada tahun 1978, Pak Tim menyelesaikan sarjana mudanya dari BYU.

Pak Tim kemudian masuk program Ph.D Studi Asia Tenggara di University of Wisconsin–Madison, dan menulis tesis S2 berjudul Kraton and Cosmos in Traditional Java. Pada 1984, ia pindah ke Canberra, Australia, untuk menyelesaikan doktoralnya di Australian National University (ANU), dengan membawa serta keluarganya. Berkat dukungan pendanaan dari ANU, Pak Tim dapat melakukan perjalanan penelitian selama setahun pada 1985, sembilan bulan di koleksi-koleksi naskah di Solo, Indonesia, dan tiga bulan di perpustakaan Leiden dan Amsterdam dengan membawa keluarganya.

Pak Tim dan keluarga kembali ke Canberra pada 1986, dan pada 1987 Pak Tim menyelesaikan disertasi doktoralnya yang berjudul The Serat Jatiswara: Structure and Change in a Javanese poem, 1600–1930, sebuah kajian filologis terhadap 50 naskah yang mewakili berbagai versi puisi Jatiswara. Berbeda dari tradisi filologi yang lazim, yang berusaha menemukan teks asli dan otoritatif, Pak Tim memperlakukan variasi-variasi itu sebagai sesuatu yang sengaja dan menganalisis kekuatan-kekuatan budaya yang melatari perubahan tersebut. Meskipun karya itu tidak pernah diterbitkan sebagai buku (naskah yang sedang dalam proses disempurnakan hilang sekitar tahun 1998 ketika komputer Tim rusak tanpa cadangan) disertasi tersebut telah memberikan pengaruh besar di bidangnya dan sering dikutip.

Dari 1989 hingga 1993, Pak Tim memimpin beberapa proyek katalogisasi naskah: di Yogyakarta di Museum Sonobudoyo, serta di Jakarta di Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan di Perpusnas. Katalog-katalog yang diterbitkan, pangkalan data naskah yang disebutnya Danatara (bukan Danantara!) atau Data Naskah Nusantara, dan mikrofilm yang dihasilkan dari proyek ini telah menjadi sumbangan yang begitu berharga bagi dunia pernaskahan dan penelitian di Indonesia. Pada 2023, atas kontribusi Pak Tim di bidang ini diakui melalui Anugerah Kebudayaan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pada periode 1990-1993 inilah Pak Tim menjalin pertemanan dengan banyak kolega di Perpusnas. Senior-senior filolog naskah di Perpusnas, seperti Nindya Noegraha, Sanwani, Komari, Mardiono (alm), Sitti Hasniati (almh), mengenal baik Pak Tim dan sering bercerita tentang masa-masa penyusunan katalog naskah koleksi Perpustakaan Nasional yang hingga hari ini katalog tersebut tidak tergantikan sebagai sumber utama penelusuran naskah-naskah koleksi Perpusnas. 

Setahun kemudian, Pak Tim mendapatkan tawaran mengajar dari University of Auckland dan pindah ke Selandia Baru pada 1994, dan menjabat sebagai senior lecturer (setara associate professor dalam sistem akademik Amerika). Ia menduduki posisi tersebut hingga pensiun pada tahun 2011. Paling tidak, ada tiga karya ilmiahnya pasca ia pensiun yang bisa diakses melalui laman academia, tetapi banyak yang lain konon masih tersimpan di dalam komputer. Pada tahun 2024, ia didiagnosis kanker stadium akhir. Vonis dokter yang menyatakan bahwa sisa umurnya mungkin kurang dari setahun tidak pernah menyurutkan semangatnya. Pak Tim menyatakan kabarnya dalam pesan pribadi. 

“Tentang kabar sakit saya, memang layak disesali bersama, tetapi demikianlah nasib kita, manusia fana. Saya tidak takut atau marah atau kaget. Saya, seorang ateis tenan, merasa tenang telah mengetahui jalan aku keluar dari lembah eluh (air mata) ini. Ada ketentuan, tiada ketakutan,” ungkapnya. 

Kisah Kepulangan Naskah

Sejak awal, Pak Tim memang merencanakan untuk menghibahkan koleksi kembali ke pangkuan Indonesia. Pada bulan September 2024 lalu, Pak Tim menyatakan niatnya untuk menghibahkan sekitar dua puluh naskahnya ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Tetapi, ia meminta waktu untuk mendeskripsikan seluruh naskahnya. Rupanya, saat Pak Tim mendeskripsikan naskah-naskahnya dengan sangat rinci (satu naskah bisa berisi 40 halaman metadata!). Saat didiagnosa kanker liver stadium akhir, Pak Tim memberi tahu penulis bahwa ia membutuhkan waktu satu bulan untuk mendeskripsikan semua naskahnya. Sayangnya, hingga tanggal 13 Agustus 2025, ketika Pak Tim meninggal dunia, naskah-naskah tersebut belum sempat dideskripsikan secara lengkap.

Pada tanggal 28 Agustus 2025, 15 hari setelah kepulangan Pak Tim, sebuah email datang dari Liz Behrend, putri kedua Pak Tim dan Bu Maren, atas nama keluarga, untuk meneruskan rencana repatriasi naskah kuno koleksi Pak Tim kepada Perpusnas. Kepala Perpusnas segera merespon dengan membentuk tim kecil untuk mempersiapkan teknis repatriasi, dari mulai melengkapi daftar naskah yang rupanya jumlahnya kini dipastikan: 42 naskah, mencakup 36 naskah Jawa dan Arab berbahan kertas serta 6 naskah lontar dari Bali dan Lombok.

Melalui kerja sama dan koordinasi dengan Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Wellington, akhirnya pada tanggal 24 November delegasi yang terdiri dari tim Perpusnas dan Kementerian Luar Negeri dapat mengunjungi kediaman keluarga Tim Behrend di Auckland.

Repatriasi dilakukan oleh delegasi dari Perpusnas yang dipimpin langsung oleh Kepala Perpusnas, Prof. E. Aminudin Aziz, Ph.D, didampingi oleh Dra. Ofy Sofiana, M.Hum (Pustakawan Utama), Dr. Aditia Gunawan, MA. (Ketua Kelompok Kerja Pengelolaan Naskah Nusantara), dan Agung Kriswanto, M.Hum (Filolog). Naskah kuno, beserta koleksi buku langka lainnya, diberikan langsung oleh istri Pak Tim, Maren Behrend, di kediamannya di Auckland, Selandia Baru.

Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, menyampaikan bahwa repatriasi ini merupakan wujud nyata Perpusnas untuk menjalankan amanat Undang-Undang nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan Pasal 21 ayat 3  butir 1d yang mengamanatkan untuk mengidentifikasi dan mengupayakan pengembalian naskah kuno yang berada di luar negeri.

Dalam pertemuan dengan pihak keluarga, ia juga menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada keluarga atas kepercayaannya untuk menyerahkan naskah kuno ke Perpusnas. “Kami berterima kasih kepada keluarga Pak Tim yang telah menyerahkan naskah dan koleksi langkanya ke Perpusnas. Semoga di rumah barunya di Indonesia, naskah-naskah kuno yang ditinggalkan Pak Tim dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas,” tuturnya. 

Tentang rencana ini, Maren Behrend menyampaikan bahwa Pak Tim memang mengamanatkan agar koleksi pustaka miliknya bisa diserahkan kepada pemiliknya yang sejati, Indonesia. “Memang Pak Tim berharap naskah dan koleksinya yang lain bisa diserahkan ke Indonesia, tetapi prosesnya tidak mudah. Ada sekitar 4000 koleksi yang dimilikinya dan selain Pak Tim tidak ada yang bisa merawatnya,” terangnya. 

Aminudin berharap bahwa proses ini dapat menjadi awal bagi proses-proses repatriasi berikutnya dari berbagai negara lain. “Semoga ke depan, proses pemulangan kembali naskah kuno  dapat lebih dioptimalkan. Jika tidak memungkinkan naskah dalam bentuk fisiknya, mungkin dalam bentuk digitalnya, supaya naskah bisa diakses isinya oleh siapa saja,” ujarnya. 

Menurutnya, hal tersebut juga menjadi bukti kepercayaan publik internasional kepada Perpusnas yang dianggap siap dalam melestarikan dan memanfaatkan koleksi naskah kuno.  Selain naskah kuno, Perpusnas juga menerima puluhan buku langka dan majalah lama yang memang tidak dimiliki oleh Perpusnas, seperti Majalah Djawa yang terbit pertama kali tahun 1921dan jurnal Review of Indonesian and Malaysian Affairs (RIMA) yang tidak dimiliki secara lengkap oleh Perpusnas.

Rencananya, naskah-naskah ini akan segera diregistrasi dalam sistem metadata di Perpusnas dan dikonservasi agar fisiknya lebih tahan lama. Selanjutnya, naskah tersebut akan didigitalisasi dan dimasukkan ke dalam Khastara sehingga dapat diakses secara luas oleh masyarakat. Dalam waktu dekat, Perpusnas juga akan menyelenggarakan pameran naskah koleksi Tim Behrend agar masyarakat lebih mengenal naskah-naskah ini dan kiprah kesarjanaan Timothy Behrend.

 

Reporter: Aditia Gunawan / Alditta Khoirun Nisa

Dokumentasi: Aditia Gunawan

 

 

Galeri